Serba Serbi Evergrande, Raksasa Properti China yang Terbelit Utang Rp 4.275 Triliun

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Grup Evergrande, salah satu pengembang real estate terbesar kedua di China dilaporkan hadapi tekanan utang. Sekitar 1,5 juta orang telah menempatkan dana untuk rumah baru yang belum dibangun. Hal itu dinilai dapat timbulkan keruntuhan yang menjadi bencana.

Pada Selasa, 14 September 2021, raksasa properti China grup Evergrande mengakui pihaknya berada di bawah “tekanan luar biasa” dan mungkin tidak dapat memenuhi kewajiban utangnya yang melumpuhkan.

Selama dua hari terakhir, pengunjuk rasa marah dan berkumpul di luar kantor pusat perusahaan real estate menuntut untuk mengetahui mengenai nasib dananya.

Investor semakin gelisah jika Evergrande runtuh, ini bisa menyebar ke pengembang properti lain. Hal ini dapat menciptakan risiko sistemik bagi sistem perbankan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Siapa Evergrande China?

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Mengutip laman DW, Rabu (15/9/2021), sebelumnya perusahaan ini dikenal sebagai Hengda. Evergrande sampai saat ini merupakan grup properti terbesar kedua di China berdasarkan penjualan. Terletak di selatan Shenzhen dekat dengan Hong Kong, Evergrande menjual apartemen kepada pembeli properti berpenghasilan menengah atas. Ia hadir di lebih dari 280 kota.

Perseroan berdiri pada 1997 yang dibangun oleh Hui Ka Yun. Sejak itu ia menjadi miliarder melalui pembukaan ekonomi China. Pada 2020, Forbes menempatkan Hui sebagai orang terkaya ketiga di China. Akan tetapi, kekayaan Hui Ka Yun sejak itu merosot.

Evergrande telah berkembang pesat karena ledakan real estate spektakuler yang disebabkan oleh pertumbuhan China yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perusahaan telah menyelesaikan hampir 900 proyek komersial, perumahan, dan infrastruktur. Perseroan juga menyebutkan telah mempekerjakan 200.000 orang.

Evegrande telah ekspansi ke bidang ekonomi lainnya, termasuk makanan dan rekreasi. Perseroan juga operasikan klub sepak bola Guangzhou FC, sebelumnya Guangzhou Evergrande.

Namun, unit mobil listriknya, yang didirikan pada 2019, saat ini tidak memasarkan kendaraan apapun.

Lalu mengapa Evergrande dalam masalah?

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Pengembang yang berbasis di Hong Kong itu berada di bawah tekanan kewajiban yang membesar lebih dari USD 300 miliar atau sekitar Rp 4.275 triliun (asumsi kurs rupiah 14.251 per dolar AS) setelah bertahun-tahun meminjam untuk mendanai pertumbuhan yang cepat.

Evergande telah meningkatkan akuisisi dalam beberapa tahun terakhir, mengambil keuntungan dari hiruk pikuk real estate. Akan tetapi, raksasa properti itu mulai goyah setelah Beijing memperkenalkan langkah-langkah baru pada Agustus 2020 untuk memantau dan mengendalikan total tingkat utang pengembang properti besar.

Evergrande mengandalkan pra-penjualan untuk membiayai perseroan dan menjaga aktivitasnya tetap berjalan. Tindakan keras memaksa grup itu untuk membongkar properti dengan diskon makin besar.

Investor telah membayar uang muka sekitar 1,5 juta properti, demikian laporan Bloomberg. Banyak pembeli telah menyatakan keprihatinannya di media sosial tentang apakah mereka akan mendapatkan kembali uang setelah proyek perumahan ditangguhkan.

Pada pekan lalu, dua lembaga pemeringkat kredit memangkas peringkat Evergrande. Saham Evergrande yang tercatat di Hong Kong telah merosot lebih dari 80 persen pada 2021.

Pada Senin, Bursa Efek Shanghai menghentikan perdagangan obligasi Evergrande Mei 2023 setelah turun lebih dari 30 persen.

Bagaimana langkah yang dilakukan perusahaan untuk menyelamatkan diri?

Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Pada Selasa, Evergrande telah mengeluarkan pernyataan lain ke Bursa Efek Hong Kong mengatakan telah menyewa penasihat keuangan untuk eksplorasi semua solusi yang layak untuk meredakan krisis uang tunai.

Pernyataan itu memperingatkan bahwa tidak ada jaminan perusahaan properti akan memenuhi kewajiban keuangannya.

Perusahaan tersebut menyalahkan “laporan media negatif yang sedang berlangsung” karena merusak penjualan pada periode penting September yang akibatkan penurunan terus meneus pengumpulan uang tunai oleh kelompok yang pada gilirannya akan memberikan tekanan luar biasa pada arus kas dan likuiditas.

Bahkan diskon properti hingga seperempat dan menjual saham di beberapa asetnya yang luas tidak hentikan penurunan laba 20 persen pada semester I 2021.

Mengapa kesulitan Evergrande begitu penting?

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Real estate adalah salah satu mesin utama pertumbuhan China yang bertanggung jawab atas 29 persen dari output ekonomi. Kebangkrutan apa pun dari perusahaan besar semacam itu akan berdampak besar.

“Keruntuhan Evergrande akan menjadi ujian terbesar yang dihadapi sistem keuangan China selama bertahun-tahun,” ujar Ekonon Asia Capital Economics, Mark Williams.

Namun, ia menilai, pasar tampaknya tidak khawatir tentang potensi penularan keuangan saat ini. “Itu akan berubah jika terjadi default skala besar,” ujar dia.

Beberapa analis percaya ada kemungkinan kecil Beijing akan membiarkan raksasa properti itu tenggelam.

“Beijing tidak akan membiarkan Evergrande bangkrut karena itu akan merusak stabilitas rezim,” ujar analis Sinolnsider yang berbasis di Amerika Serikat.

Bloomberg melaporkan provinsi Guandong, China telah sewa tim akuntan dan ahli hukum untuk memberi nasihat tentang kebutuhan restrukturisasi Evergrande meski pemerintah daerah telah menolak permintaan bailout.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel