Serial Attack on Titan: Bagaimana Penguasa Mengubur Masa Lalu

Dian Lestari Ningsih, voxpopid
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pencinta anime (animasi Jepang) menikmati musim terakhir cerita Shingeki no Kyojin atau Attack on Titan (AoT) dalam dua bulan terakhir. Serial ini adalah adaptasi manga (komik Jepang) karya Hajime Isayama.

Hingga tahun 2019, penjualannya mencapai 100 juta komik dan animenya menjadi salah satu tayangan paling populer. Ide utama Attack on Titan menceritakan masyarakat Eldia yang hidup di pulau bernama Paradis yang mengurung diri di balik tembok kerajaan.

Mereka hidup ketakutan akan 'titan' (makhluk raksasa misterius) di luar tembok. Namun, aksi perang melawan titan raksasa tersebut perlahan-lahan menguak masa lalu yang selama ini ditutupi oleh keluarga kerajaan.

Sebagai seorang peneliti sejarah, pembungkaman masa lalu tersebut adalah tema penting dalam Attack on Titan. Attack on Titan menjadi pintu masuk yang bagus untuk memahami bagaimana sejarah yang dibungkam suatu hal yang sering terjadi bahkan di dunia nyata.

Hal ini tentunya bisa menimbulkan ketakutan dan keinginan masyarakat untuk menguasai kelompok lain, serta harga yang harus dibayar ketika itu terjadi. Dalam bukunya yang berpengaruh, Silencing the Past: Power and the Production of the Past (1995), seorang antropolog dari Haiti, Michel-Rolph Trouillot mengatakan bahwa produksi cerita dan pengetahuan sejarah tidak pernah lepas dari kesenjangan kuasa.

Istilah populer “sejarah ditulis oleh pemenang” memberi gambaran bagaimana penguasa bisa menuliskan ulang masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Di sisi lain, produksi sumber sejarah seperti arsip dan penulisan narasi sejarah – baik oleh sejarawan maupun penguasa – juga bisa dipelintir melalui peredaman atas kebebasan berpendapat dan akademik untuk membicarakan sejarah.

Ketidakjelasan sejarah akan suatu peristiwa berkelindan dengan hasrat untuk menguasai kelompok lain dan menjebak masyarakat dalam lingkaran kekerasan yang tiada henti.

SUMBER ASLI