Sering Main Gadget, Waspada Kena Trigger Finger

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Zaman sekarang, aktivitas kita dominasi dengan penggunaan gadget. Bahkan, bekerja pun kita dipaksa untuk berjam-jam menatap layar komputer atau laptop.

Namun, bukan hanya menatap layar gadget saja yang bisa menimbulkan masalah kesehatan, tapi juga jari-jari yang kita gunakan untuk mengetik. Ternyata, aktivitas menggerakkan jari ini bisa menyebabkan kondisi trigger finger. Apa itu?

Trigger finger atau bisa disebut jari pelatuk, jari kejepit atau jari terkunci, merupakan kondisi ketidakmampuan untuk meluruskan atau menekuk jari akibat tendon yang terperangkap. Trigger finger sendiri dapat terjadi akibat selubung pelindung di sekeliling tendon jari mengalami peradangan.

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, trigger finger dapat menyebabkan jari tidak dapat bergerak leluasa dan nyeri, muncul benjolan di pangkal jari, timbul bunyi setiap kali jari ditekuk atau diluruskan, bahkan penderitanya dapat kehilangan fungsi jari.

Dokter spesialis bedah ortopedi, dr. Rizky Priambodo Wisnubaroto, Sp.OT, mengatakan angka kejadian penyakit ini adalah 2-3 persen dari masyarakat umum. Selain itu, trigger finger biasanya menyerang usia dewasa muda.

"Yang bisa terkena di antaranya adalah orang dengan pekerjaan yang sering menggerakkan jari-jari. Jari manis dan jari telunjuk paling sering terlibat. Dan juga dapat terjadi pada lebih dari satu jari pada satu tangan," ujarnya saat virtual media discussion RSPI, Jumat, 29 Januari 2021.

Lebih lanjut, dokter Rizky menjelaskan, beberapa gejala yang dirasakan ketika trigger finger, di antaranya adalah nyeri pada jari-jari dan terasa terkunci dan ada bunyi 'kletek' atau 'pop' pada saat jari ditekuk atau diluruskan.

"Gejala lain biasanya penderita membutuhkan bantuan jari lain untuk meluruskan jari yang terkena gejala dan kaku pada jari tangan terutama saat pagi hari," kata dia.

Untuk mengatasi keluhan trigger finger ini, Rizky menyarankan untuk mencoba melakukan penanganan mandiri dulu di rumah. Apa saja yang harus dilakukan?

"Yang pertama diistirahatkan dulu tangannya. Kemudian kita pasang splints. Kemudian kita bisa lakukan stretching. Splints-nya dilakukan pada malam hari, supaya pada pagi hari tidak terlalu mengganggu pada saat mulai menggerakkan tangan," tuturnya.

"Stretching pun sebaiknya dilakukan sendiri di rumah, karena kalau kita minta bantuan orang lain cenderung tidak tahu tingkat kekerasan yang harus dilakukan pemijatannya," sambung dia.

Namun, apabila penanganan mandiri tidak mampu mengurangi keluhan, Rizky menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah ortopedi.