Sering Mimpi Buruk? Mungkin Anda Mengalami Quaradreaming

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan Anda jadi lebih sering terbangun dari tidur setelah mimpi buruk? Melansir laman CNN, Jumat, 19 Maret 2021, menurut para ahli, salah satu perubahan kebiasaan tidur memang muncul selama pandemi COVID-19 akibat stres.

Sebuah studi yang dilakukan pada Juni 2020 terhadap 100 perawat Tiongkok menemukan bahwa 45 persen di antaranya mengalami mimpi buruk dengan berbagai tingkat kecemasan. Mimpi buruk ini terus berlanjut karena adanya karantina dan penguncian wilayah secara berkelanjutan.

Pada awal pandemi, tak sedikit orang menghabiskan waktu untuk tidur karena dianggap sebagai waktu yang baik untuk beristirahat. Lama-kelamaan, waktu tidur orang-orang jadi lebih lama, sehingga memberi peluang pada mimpi yang bersemangat, penuh warna, bahkan menakutkan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tidur memungkinkan seseorang mengalami masa tidur mendalam atau disebut dengan Rapid Eye Movemeent (REM). "REM biasanya terjadi di bagian akhir malam, tepat sebelum bangun," kata psikolog klinis dan spesialis tidur, Michael Breus.

"Ketika mendapat lebih banyak REM selama masa-masa stres, ini memungkinkan Anda bermimpi buruk. Kami menyebut fenomena ini 'quaradreaming,'" tambah Breus.

Mimpi buruk juga bisa disebabkan hal-hal traumatis. Sebuah penelitian menemukan sembilan dari 11 tenaga medis mengalami mimpi buruk yang intens setelah merawat pasien kritis akibat wabah Ebola pada 2014--2016 di Guinea, Afrika Barat.

Catatan Sejak Awal Pandemi

Ilustrasi mimpi buruk saat tidur. (dok. Kinga Cichewicz/Unsplash)
Ilustrasi mimpi buruk saat tidur. (dok. Kinga Cichewicz/Unsplash)

Ketika virus corona baru menyerang, reaksi serupa tercatat di Amerika Serikat, kata Rebecca Robbins, seorang ilmuwan rekanan di Rumah Sakit Wanita dan Brigham di Boston yang mempelajari tentang tidur.

Berbagai mimpi cenderung fokus pada ketakutan tertular virus, mulai dari melihat diri mereka tertular penyakit, seseorang batuk di depan mereka, harus menggunakan alat bantu pernapasan yang menyeramkan, hingga menahan sakit akibat terpapar virus.

Selain orang-orang sehat, banyak juga penyintas COVID-19 yang mengalami mimpi buruk. Juga, banyak pasien di rumah sakit yang merasa kesepian dan mengalami hal menakutkan sehingga mereka mengalami mimpi buruk akibat stres pascatrauma.

"Orang-orang dengan mimpi buruk yang nyata dan menakutkan, serta menyebabkan perasaan putus asa harus mencari bantuan ahli kesehatan mental," kata Robbins yang juga instruktur kedokteran di Harvard Medical School.

Apa yang Harus Dilakukan?

Ilustrasi Gangguan Tidur | unsplash.com/@all_who_wander
Ilustrasi Gangguan Tidur | unsplash.com/@all_who_wander

Untuk orang-orang yang mengalami quaradreaming tidak terlalu parah dapat mencoba beberapa tips. Pertama, periksa kehangatan kamar Anda. Jika tubuh terlalu hangat, itu bisa membuat Anda mengalami mimpi yang mengganggu.

"Kami memberi selimut panas pada orang-orang selama tidur, lalu kami menemukan mereka mengalami mimpi yang menakutkan, bahkan mimpi buruk," kata Robbins.

Namun, jika tidur di tempat yang dingin dan tetap mengalami mimpi buruk, mungkin ini ada kaitannya dengan perasaan depresi, kecemasan, atau masalah mental lain. Kemudian, Anda juga dapat memeriksa obat-obatan yang dikonsumsi karena ternyata ada beberapa yang menyebabkan halusinasi, serta mimpi buruk.

"Anda juga dapat memberi tahu otak Anda apa yang harus diimpikan," kata Barret dari Harvard of University.

Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah memikirkan hal-hal menyenangkan. Anda juga dapat melakukan hal-hal yang dapat membuat pikiran tenang sebelum tidur, seperti mandi air hangat, melakukan peregangan santai, serta yoga atau meditasi. (Dinda Rizky Amalia Siregar)

3 Manfaat Tidur Cukup Cegah Risiko Penularan COVID-19

Infografis 3 Manfaat Tidur Cukup Cegah Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Manfaat Tidur Cukup Cegah Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: