Sersan Kopassus TNI: Jangan Mati Dulu Mas Prabowo!

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Lebih baik pulang tinggal nama, daripada gagal menjalankan tugas. Itu lah motto sekaligus kalimat yang sangat sakral bagi seluruh anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat.

Kalimat itu memiliki makna yang sangat mendalam bagi seluruh prajurit Kopassus, mulai dari Tamtama, Bintara, hingga Perwiranya sekalipun. Tak terkecuali bagi seorang sosok prajurit Kopassus legendaris, Letjen TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Keberanian dan sepak terjang Prabowo di medan perang memang bukan hisapan jempol semata. Banyak Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), yang memberikan kesaksikan bagaimana nyali Prabowo saat bertempur melawan musuh.

Beberapa pensiunan jenderal yang pernah bercerita tentang bagaimana Prabowo menghadapi pertempuran, adalah Letjen TNI (Purn.) Muhammad Yunus Yosfiah, dan Letjen TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo.

Ternyata, tak hanya kedua jenderal itu yang mengungkap sosok Prabowo di medan perang. Ada seorang Sersan TNI yang merupakan anak buah Prabowo saat bertempur di Operasi Seroja Timor-Timur. Dikutip VIVA Militer dari akun Facebook bernama Info Militer, ini lah kisahnya.

Sebuah insiden kontak tembak terjadi di Timor-Timur, yang melibatkan pasukan yang dipimpin oleh Prabowo. Kala itu, mantan Panglilma Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) itu masih berpangkat Kapten TNI.

Sosok Bintara TNI yang disebutkan tadi diketahui adalah Sersan Ilham La Ode. Dalam situasi genting, pasukan Prabowo jadi sasaran tembak kelompok pemberontak Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin). Dalam peristiwa ini, terkuak bagaimana sosok kepemimpinan Prabowo dan aksi heroik Ilham.

"Nunduk Mas, jangan bergerak dulu!" ucap Ilham kepada Prabowo sang komandan.

Ilham dengan berani mencoba melindungi Prabowo dalam pertempuran itu. Namun, Prabowo yang kala itu masih sangat muda tetap merasa bertanggung jawab penuh atas nyawa anak buahnya.

"Tidak, ini pertempuran Ilham!" kata Prabowo dengan nada tinggi sembari menolak permintaan Ilham.

Perintah Prabowo sepertinya tak digubris oleh Ilham. Dalam benaknya, lebih baik ia yang mati daripada Prabowo yang meregang nyawa lebih dulu. Bagi Ilham dan rekan-rekannya, Prabowo adalah sosok yang bisa mendongrak nyali dan semangatnya dalam pertempuran.

"Jangan Mas, saya dulu yang mati. Prajurit akan bersemangat jika melihat komandannya bersemangat," ujar Ilham lagi.

Tak mau membiarkan Prabowo mati, tanpa perintah Ilham langsung mendekap keras tubuh komandannya dan langsung berguling ke tanah. Tak hanya itu, Ilham juga menembakkan rentetan peluru dari senapan serbunya ke arah musuh.

Ilham merasakan dan tahu betul bagaimana keberanian serta strategi jitu Prabowo, yang usianya saat itu jauh lebih muda dari dirinya.