Sersan Penembak Roket Kopassus TNI Mati Digantung Pemberontak

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak banyak orang yang mengetahui sosok seorang prajurit TNI bernama Parman, anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang tewas secara mengenaskan. Namun demikian, sosok prarjurit penembak roket berpangkat Sersan TNI berani mengorbankan nyawanya demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam catatan yang dikutip VIVA Militer dari buku "Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando", disebut bahwa Parman adalah anggota Tim Umi.

Tim Umi sendiri adalah salah satu dari tiga tim yang beranggotakan tim intelijen Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha), yang sekarang bernama Kopassus.

Tim Umi diterjunkan ke Timor-Timur (sekarang Timor-Leste) sebagai bagian dari operasi intelijen dengan sandi Operasi Flamboyan. Tim Umi dipimpin oleh Mayor Inf Sofyan Effendi, sementara Kapten Inf Sutiyoso bertindak sebagai Wakil Komandan Tim (Wadantim) Umi.

Setelah tiba di daerah pedalaman Viqueque, Tim Umi dibagi menjadi dua. Tim pertama yang dipimpin oleh Mayor Inf Sofyan Effendi bergerak ke Tilomar, sementara tim kedua di bawah pimpinan Kapten Inf Sutiyoso menyusup ke wilayah Suai.

Parman sendiri adalah salah satu dari 50 orang personel tim yang dipimpin Sutiyoso. Setelah mencapai Suai, Sutiyoso membangi timnya untuk menyerang kantor polisi dan markas tentara yang diduduki oleh pasukan elite tentara kolonial Portugis, Tropas.

Sutiyoso memimpin pasukannya menyerang markas Tropas. Baku tembak pun terjadi selama 20 menit. Setelah terlibat kontak tembak, Sutiyoso memerintahkan pasukannya mundur sesuai dengan taktik hit and run (hantam dan lari).

Saat bergerak mundur ke titik kumpul awal, ternyata ada dua orang prajurit yang mengalami luka tembak. Salah satu prajurit yang tertembak adalah Sersan Parman, yang saat itu memiliki tugas sebagai penembak roket.

Anak buah Sutiyoso yang bertindak sebagai komandan unit pun memapah Parman dan seorang prajurit lainnya yang tertembak, dan merebahkannya di sebuah pohon untuk perlindungan.

"Tunggu di tempat ini, saya mencari teman, nanti kamu kami jemput," ucap komandan unit.

Usai mencapai titik kumpul awal, Sutiyoso mengetahui ada anak buahnya yang tertembak. Tak hanya Parman dan Sarwono, ada empat orang prajurit Kopassus lainnya yang juga mengalami luka tembak.

Segera, Sutiyoso pun memberi instruksi untuk mencari Parman dan Sarwono. Namun alangkah terkejutnya Sutiyoso dan sang komandan unit, setelah mengetahui Parman dan Sarwono tidak ada di pohon tempat keduanya ditempatkan tadi.

Ternyata, Parman tertangkap oleh tentara musuh. Akibat luka yang dideritanya, Parman tidak bisa bergerak dan ditawan oleh tentara Tropas. Nahas, Parman pun dibunuh dengan cara digantung oleh tentara Tropas.