Sersan Taruna Sahabat Kental Jenderal TNI SBY Tewas di Sel Resimen

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak perlu diragukan lagi bagaimana sosok seorang Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat ini adalah salah satu putra terbaik bangsa yang lahir dari dunia militer.

Dikutip VIVA Militer dari buku otobiografi SBY Sang Demokrat, jauh sebelum menduduki posisi Presiden Republik Indonesia (RI) ke-6, SBY lebih dulu berjuang keras menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil).

SBY dikenal sebagai prajurit yang cerdas sejak masih menjadi Taruna Akademi Militer. Tak hanya itu, SBY juga dikenal tangguh dan memiliki fisik mumpuni sebagai seorang calon perwira TNI Angkatan Darat. Berkat keunggulan yang dimilikinya itu, SBY pun berhasil lulus dari Akademi Militer dengan predikat terbaik dan berhak menerima penghargaan Adhi Makayasa 1973.

Saat sudah memasuki tingkat 4 di Akmil, SBY yang berpangkat Sersan Mayor Satu Taruna (Sermatutar) dipercaya menjabat sebagai Komandan Divisi Korps Taruna. Saat itu lah, SBY kembali bertemu dengan sahabat lamanya saat masih sekolah di Pacitan, Sumarno.

Diceritakan SBY dalam bukunya, Sumarno adalah sahabatnya sejak masih sama-sama menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada saat Sekolah Menengah Atas (SMA), SBY dan Sumarno bahkan sempat satu kelas.

Baik SBY dan Sumarno sama-sama punya keinginan besar untuk menjadi seorang prajurit. Namun, nasib keduanya sangat berbeda.

SBY langsung diterima masuk Akademi Militer yang saat itu masih bernama Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Sementara, Sumarno yang ingin menjadi perwira TNI Angkatan Laut justru gagal masuk jurusan AKABRI Laut.

***

Tiga kali gagal, Sumarno akhirnya berhasil masuk ke AKABRI Darat pad 1973. Setelah itu, Sumarno kembali reuni dengan SBY sang sahabat lama. Sumarno yang masih berpangkat Kopral Taruna, sering mampir ke kamar SBY yang saat itu menjabat sebagai Komandan Divisi Korps Taruna.

Sumarno tahu bahwa ia harus bersikap hormat kepada sahabatnya, yang di Akademi Militer SBY adalah seniornya. Meskipun, saat berada di kamar SBY Sumarno tidak harus menganggap sahabatnya itu sebagai senior.

SBY mengisahkan juga, Sumarno seringkali meminta makanan saat datang ke kamarnya. SBY memaklumi. Sebab saat masih berada di tingkat 1 dan tingkat 2, setiap Taruna akan mendapat pelatihan di lapangan yang sangat berat.

Perpisahan kembali dialami dua sahabat ini. SBY lulus dari Akmil pada 1973, sementara Sumarno masih harus menghabiskan waktu sekitar tiga tahun lagi untuk menjadi seorang Perwira Pertama (Pama) berpangkat Letnan Dua (Letda) TNI.

Alangkah terkejutnya SBY saat mendengar kabar Sumarno meninggal dunia di dalam sel Resimen Taruna. Menurut SBY, Sumarno dimasukkan ke dalam sel lantaran melakukan kesalahan tidak memberi hormat kepada seniornya.

Tak jelas bagaimana Sumarno bisa kehilangan nyawa. Namun menurut pernyataan pihak Akmil, Sumarno meninggal akibat menderita kanker otak.

SBY tak bisa menahan kesedihan setelah tahu sahabat dekatnya sudah tiada. Air matanya berlinang saat mengenang momen kebersamaannya, mulai dari SMP hingga menjadi Taruna di Akademi Militer.

Meski sang sahabat sudah pergi untuk selamanya, SBY tidak pernah melupakan Sumarno. Saat SBY pulang ke kampung halamannya, ia senantiasa mengunjungi keluarga Sumarno. SBY menceritakan, keluarga Sumarno senantiasa menangis haru jika ia datang menyambanginya.