Sertifikasi halal jadi kekuatan pendorong ekonomi bagi Indonesia

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target 10 juta produk bersertifikat halal dalam waktu tiga tahun ke depan agar mendorong pertumbuhan ekonomi guna mewujudkan kemajuan bagi Indonesia.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan pemerintah memaksimalkan potensi yang belum tergarap secara memadai untuk memacu pemulihan ekonomi nasional, seperti industri halal.

"Ini ceruk yang menawarkan banyak hal terutama karena halal telah bergeser menjadi kualitas standar global dan gaya hidup gastronomi pasar arus utama dan tren perdagangan," ujarnya dalam forum Halal 20 (H20) yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Yaqut menuturkan Kementerian Agama sangat mendukung visi Indonesia Maju dan menjalankan misi pentingnya untuk memfasilitasi dan mendorong pemulihan ekonomi melalui pengembangan industri halal yang bernilai triliunan dolar AS, seperti barang dan jasa, makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, farmasi, pariwisata, media, dan rekreasi serta jasa keuangan.

Berdasarkan data proyeksi Kementerian Perindustrian, nilai pasar halal dan kegiatan ekonomi mencapai 303 miliar dolar AS. Sedangkan, DinarStandard memperkirakan angka tersebut akan naik 3,1 persen atau 2,3 triliun dolar AS pada tahun 2024 mendatang.

Program sertifikasi halal yang dilakukan secara masif menjadi motor penggerak usaha mikro kecil (UMK) untuk membangkitkan kembali bisnis mereka setelah lebih dua tahun terdampak pandemi COVID-19.

Yakut berpesan agar lembaga pemerintah maupun swasta menjalankan praktik industri halal yang baik dan sehat mengingat ada ancaman perubahan iklim yang menghambat pertahanan produk pangan halal dan produk sejenisnya.

"Untuk itu, Kementerian Agama mendorong lembaga halal, praktisi, masyarakat sipil, keagamaan, pemerintah sektor swasta dan bisnis di seluruh dunia untuk segera meningkatkan investasi tahunan di industri dan ekosistem halal global serta komitmen kemitraan halal global," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin menambahkan bahwa potensi besar pasar halal global kian menarik bagi produsen serta pelaku perdagangan antar negara.

Menurutnya, konsumsi umat Muslim dunia menembus 2 triliun dolar AS pada tahun 2021. Bahkan, angka itu diproyeksikan mencapai 2,8 triliun dolar AS pada tahun 2025.

Saat ini, sejumlah negara telah menikmati manfaat dan keuntungan dari volume perdagangan dan nilai transaksi produk halal antar negara.

Pada sektor makanan halal, misalnya Brasil membukukan nilai ekspor tertinggi ke negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebesar 16,5 miliar dolar AS. Kemudian, disusul ekspor dari India sebesar 15,35 miliar dolar AS.

Kegemaran terhadap produk halal bukan lagi sebatas berlandaskan pada kepatuhan ajaran agama. Tren itu kini diperkuat dengan nilai-nilai filosofis baru, seperti kesadaran akan kesehatan, kebersihan, keberlanjutan, bahkan kesejahteraan dan keseimbangan alam.

Semua itu bermuara pada keyakinan terhadap pentingnya menciptakan masa depan yang kokoh dan berkelanjutan. Dengan demikian, fenomena meningkatnya perdagangan produk halal antarnegara turut membawa konsekuensi penting terutama dalam menjawab tantangan untuk mewujudkan penyelenggaraan jaminan produk halal secara holistik inklusif dan berkelanjutan.

"Oleh karena itu, kerja sama internasional terkait jaminan produk halal kini adalah sebuah keniscayaan, saling pengakuan, dan keberterimaan jaminan produk halal menjadi suatu kebutuhan," pungkas Ma'ruf.

Baca juga: Wapres Ma'ruf Amin resmikan pembukaan Forum Halal 20
Baca juga: Kemenag gelar H20 undang 104 lembaga halal dari 40 negara