Sesar Kendeng Belah Surabaya, Pakar Sarankan Asesmen Ancaman Gempa

·Bacaan 2 menit
Ilustrasi gempa. (Liputan6.com)

Liputan6.com, Surabaya - Pakar Geologi Pusat Studi Bencana ITS Surabaya Amien Widodo mengatakan, banyak kota besar di Indonesia yang letaknya berdekatan bahkan dilewati jalur sesar aktif seperti jalur sesar Lembang yang sangat dekat dengan kota Bandung, sesar Cimandiri (Sukabumi), dan sesar Opak (Yogyakarta).

Gempa darat akibat sesar aktif yang membelah kota terbukti menghancurkan bangunan, membunuh ribuan orang serta membuat cacat permanen telah terjadi di beberapa tempat. Antara lain seperti yang terjadi di Lombok 2018, Palu 2018, Mamuju 2021, Bener Meriah Aceh 2012, Padang 2009 dan gempa Jogja 2006.

"Khusus saat gempa Jogja 2006 yang terjadi 15 tahun lalu, tepatnya 27 Mei 2006, ada ilmu yang harus kita jadikan pelajaran penting di masa depan," kata Amien, Kamis (27/5/2021) seperti dikutip dari TimesIndonesia.

Saat itu, jelasnya, puluhan ribu rumah rusak, roboh rata dengan tanah dan membunuh sebagian besar orang yang ada di dalamnya serta menyebabkan cacat permanen.

Akan tetapi banyak juga rumah yang masih utuh dan menyelamatkan orang orang yang ada di dalamnya. Rumah rumah yang roboh sebagian besar merupakan rumah bata tanpa tulangan, sedangkan rumah yang tidak ambruk rumah tembok berstruktur tulangan dan balok.

"Berdasarkan dari kejadian gempa darat tersebut diatas maka bisa belajar bahwa hancurnya bangunan disebabkan oleh faktor internal bangunan tersebut dan faktor eksternal yaitu magnitudo gempa, pergeseran sesar dan respons tanah terhadap gempa," ungkap Amien.

Pusat Gempa Nasional 2017 telah menyebutkan bahwa banyak kota di Indonesia dilewati sesar aktif yang berpotensi gempa, awalnya berjumlah 80, penelitian 2017 menjadi 285 sesar aktif, termasuk sesar yang melewati Kota Surabaya.

Sesar Kendeng

Sesar Kendeng membelah Kota Surabaya menjadi 2 sesar, yakni Sesar Surabaya dan Sesar Waru yang berpotensi menimbulkan gempa 6.5 SR dan bergerak 0.05 mm per tahun.

"Kita mengusulkan pemerintah melakukan asesmen ancaman gempa, asesmen kerentanan bangunan, asesmen kerentanan tanah dan asesmen kapasitas kesiapsiagaan masyarakat," ujarnya.

Berdasarkan data tersebut bisa dibuat zonasi kawasan yang berisiko tinggi sampai yang berisiko rendah. Dari masing masing kawasan berisiko tersebut dibuat arahan mitigasi struktural dan arahan mitigasi non struktural dengan edukasi masyarakat dalam menghadapi gempa.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel