Sesepuh Sebaiknya Beri Kesempatan Tokoh Muda Ketua KAHMI

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Korps Alumni HMI (KAHMI) harus tetap diposisikan sebagai 'dapur' bagi para alumni HMI sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat sebagai destinasi pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Untuk itu, para tokoh nasional yang sudah mengabdi kepada negara diminta untuk tidak mencalonkan diri sebagai ketua KAHMI karena itu berarti kembali ke korps lagi.

Demikian diungkapkan salah satu kandidat termuda Presidium KAHMI, Ibnu Topik pada Kamis (29/11/2012).

Pencalonan Ibnu Topik, yang tokoh HMI tahun 1999–2001, ini terkait dengan banyaknya calon Presidium KAHMI yang sekarang menjadi tokoh nasional atau yang memiliki posisi sebagai pejabat negara.

Mereka antara lain Mahfud MD (Ketua MK), Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat), Priyo Budi Santosa (Wakil Ketua DPR), Tamsil Linrung (Wakil Ketua Banggar DPR).

Lalu ada Anis Baswedan (Rektor Paramadina), Dwi Sutjipto (Dirut PT Semen Gresik), Fansurullah Asa (Wakil Kepala BPH Migas), Ismet Hasan Putro (Dirut PT RNI), Muhammad Marwan (Dirjen Depdagri), Hary Bakti Gumai (Dirjen Perhubda) dan Viva Yoga Mauladi (Ketua PAN).

Menurut Ibnu Topik, organisasi KAHMI dipimpin oleh Pimpinan Kolektif Nasional (Presidium) yang terdiri dari lima orang.

Organisasi ini didirikan pada 46 tahun lalu melalui rekomendasi Kongres HMI pada 1966 yang waktu itu dipimpin oleh Nurcholis Madjid.

Tujuan pembentukan KAHMI sebagai wadah berkumpulnya alumni HMI untuk meneruskan cita-cita perjuangan HMI yang pluralis, nasionalis, dan Pancasilais.

“KAHMI bukanlah organisasi politik. Pendirian KAHMI ini lebih bertujuan pada pembentukan wadah candradimuka bagi para alumni HMI sebelum terjun ke pengabdiannya kepada negara dan bangsa sebagai destinasi utama. Sehingga, jika banyak tokoh nasional yang tiba-tiba kembali memperebutkan posisi Presidium KAHMI, itu sama saja balik ke dapur lagi,” kata Ibnu Topik dalam keterangan pers yang diterima Tribun, Kamis (29/11/2012).

Mantan Wakil Bendahara Umum PB HMI 1999–2001 mengaku terpanggil untuk menjadi salah satu calon presidium KAHMI pada Munas KAHMI kesembilan pada 30 November–2 Desember, di Pekanbaru, Riau.

Meskipun menjadi kandidat termuda dan tak diperhitungkan, Ibnu Topik mengaku bahwa harus ada terobosan untuk mengingatkan publik akan eksistensi KAHMI yang tidak berorientasi pada politik.

Ibnu Topik yang lulusan Akademi Keuangan dan Perbankan Jakarta (ABA-ABI) ini menjelaskan bahwa harus ada benang merah yang terjaga antara KAHMI dan HMI.

Ini merupakan sejarah yang tidak bisa dilupakan. Hanya saja, menurut Ibnu, selama ini, KAHMI meninggalkan 'rumah bersalinnya' dan berjalan seakan-akan merekalah yang pemilik rumah bersalin tersebut.

“Saya tidak memiliki target apapun, kecuali keterlibatan kaum muda harus ada di setiap pertempuran. Ini seperti testing the watter, menduga kedalaman air dengan cara menceburkan diri. Dan saya yakin, rekan-rekan HMI sekarang sependapat dengan saya soal keterlibatan kaum muda harus ada di semua dimensi kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara,” tegasnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.