Setahun Cigobang Pasca Diterjang Banjir Bandang

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Gemuruh tiba-tiba terdengar dari bawah tanah di Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten, awal Januari 2020.

Kondisi salah satu bangunan di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kampung Cigobang pada 1 Januari 2020 lalu mengakibatkan sekitar 154 kepala keluarga (KK) meninggalkan kampung tersebut. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Kondisi salah satu bangunan di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kampung Cigobang pada 1 Januari 2020 lalu mengakibatkan sekitar 154 kepala keluarga (KK) meninggalkan kampung tersebut. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Dikutip dari Antara, Lilis dan beberapa warga lainnya khawatir gemuruh itu membawa petaka. Dia dan beberapa warga lainnya terpaksa angkat kaki menyelamatkan diri dari ancaman bencana alam.

Kondisi sebuah mobil yang rusak di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kampung Cigobang pada 1 Januari 2020 lalu mengakibatkan sekitar 154 kepala keluarga (KK) meninggalkan kampung tersebut. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Kondisi sebuah mobil yang rusak di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kampung Cigobang pada 1 Januari 2020 lalu mengakibatkan sekitar 154 kepala keluarga (KK) meninggalkan kampung tersebut. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Setahun lebih bencana berlalu namun trauma tidak kunjung hilang dari ingatan. 154 kepala keluarga yang bermukim di perkampungan tersebut memilih untuk meninggalkan kampungnya pasca banjir bandang dan longsor menghantam.

Marjuk (41) bersama keluarga berpose di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kampung Cigobang pada 1 Januari 2020 lalu mengakibatkan sekitar 154 kepala keluarga (KK) meninggalkan kampung tersebut. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Marjuk (41) bersama keluarga berpose di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Pascabencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Kampung Cigobang pada 1 Januari 2020 lalu mengakibatkan sekitar 154 kepala keluarga (KK) meninggalkan kampung tersebut. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Sisa kengerian bencana alam itu masih tampak dari rumah-rumah yang tertimbun tanah. Barang-barang seperti baju dan peralatan dapur yang berserakan ditinggal empunya rumah, serta kendaraan yang dibiarkan tertimbun longsoran.

Memasuki perkampungan tidak ada lagi suara tawa warga yang berkumpul di salah satu rumah tetangga. Hanya suara derit engsel daun jendela rumah yang tidak berpenghuni.

Bangunan terbengkalai yang ditinggalkan di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Kampung itu ditinggalkan sekitar 154 KK karena mengalami trauma, tidak memiliki biaya perbaikan dan khawatir potensi bencana akibat stuktur tanah yang labil terjadi kembali. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Bangunan terbengkalai yang ditinggalkan di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Kampung itu ditinggalkan sekitar 154 KK karena mengalami trauma, tidak memiliki biaya perbaikan dan khawatir potensi bencana akibat stuktur tanah yang labil terjadi kembali. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Beberapa warga pergi meninggalkan kampung Cigobang, berharap pada penghidupan baru di tempat yang juga baru. Namun sebagian lainnya bertahan di lahan kosong tak jauh dari Cigobang dengan rumah berdinding triplek dan terpal.

Sejumlah barang yang tertinggal di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Kampung itu ditinggalkan sekitar 154 KK karena mengalami trauma, tidak memiliki biaya perbaikan dan khawatir potensi bencana akibat stuktur tanah yang labil terjadi kembali. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Sejumlah barang yang tertinggal di Kampung Cigobang, Lebak, Banten, Sabtu (20/3/2021). Kampung itu ditinggalkan sekitar 154 KK karena mengalami trauma, tidak memiliki biaya perbaikan dan khawatir potensi bencana akibat stuktur tanah yang labil terjadi kembali. (Liputan6.com/Herman Zakharia)