Setelah Berjuang 70 Tahun, China Bebas dari Malaria

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta World Health Organization (WHO) memberikan sertifikasi bagi China dan secara resmi menyatakan negara tersebut bebas dari malaria setelah upaya pemberantasan selama 70 tahun.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun mengucapkan selamatnya kepada masyarakat Tiongkok yang berhasil memberantas penyakit tersebut dari negaranya.

"Keberhasilan mereka diperoleh dengan susah payah dan datang hanya setelah beberapa dekade tindakan yang ditargetkan dan berkelanjutan," kata Tedros seperti melansir laman resmi WHO pada Jumat (2/7/2021).

"Dengan pengumuman ini, China bergabung dengan semakin banyak negara yang menunjukkan kepada dunia bahwa masa depan bebas malaria adalah tujuan yang layak," ujarnya.

Dengan keberhasilan tersebut, China menjadi negara pertama di wilayah Pasifik Barat WHO yang mendapatkan sertifikasi bebas malaria dalam lebih dari tiga dekade.

Negara-negara lain di WHO Pasifik Barat lain yang sudah mencapai status eliminasi malaria lainnya adalah Australia (1981), Singapura (1982), dan Brunei Darussalam (1987).

Upaya China Berantas Malaria

Para biksu berjalan melewati poster dengan potret Presiden China Xi Jinping dan Gerbang Tiananmen di Tibetan Buddhist College dekat Lhasa di Daerah Otonomi Tibet China barat, Senin, 31 Mei 2021 (AP)
Para biksu berjalan melewati poster dengan potret Presiden China Xi Jinping dan Gerbang Tiananmen di Tibetan Buddhist College dekat Lhasa di Daerah Otonomi Tibet China barat, Senin, 31 Mei 2021 (AP)

Tahun 1950, otoritas kesehatan China mulai bekerja untuk menemukan dan menghentikan penyebaran malaria dengan menyediakan obat-obatan pencegah antimalaria bagi orang-orang yang berisiko terkena penyakit tersebut, serta pengobatan bagi mereka yang sakit.

Negara ini juga melakukan upaya besar untuk mengurangi tempat berkembang biak nyamuk dan meningkatkan penggunaan insektisida di rumah-rumah di beberapa daerah.

Di 1967, pemerintah Tiongkok juga meluncurkan "Proyek 523" yang merupakan program penelitian nasional yang bertujuan untuk menemukan pengobatan baru untuk malaria.

Program yang melibatkan lebih dari 500 ilmuwan dari 60 institusi ini, mengarah pada penemuan artemisinin pada tahun 1970-an, senyawa inti terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT), obat antimalaria paling efektif yang tersedia saat ini.

Ajukan Status Bebas Malaria di 2020

Tahun 1980-an, China adalah salah satu negara pertama di dunia yang secara ekstensif menguji penggunaan kelambu berinsektisida (ITN) untuk pencegahan malaria, jauh sebelum kelambu direkomendasikan WHO. Tahun 1988, lebih dari 2,4 juta kelambu telah didistribusikan secara nasional.

Pada akhir tahun 1990, jumlah kasus malaria di Cina turun drastis menjadi 117.000, dan kematian berkurang hingga 95 persen. Di 2020, setelah 4 tahun berturut-turut melaporkan nol kasus lokal, China mengajukan sertifikasi resmi WHO untuk eliminasi malaria.

Anggota Malaria Elimination Certification Panel pada Mei 2021 melakukan kajian ke China untuk melakukan verifikasi terhadap status bebas malaria yang diajukan negara itu.

"Upaya tak kenal lelah China untuk mencapai tonggak penting ini menunjukkan kuatnya komitmen politik dan penguatan sistem kesehatan nasional, dapat menghasilkan pemberantasan penyakit yang pernah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama," kata Takeshi Kasai, Direktur Regional WHO Pasifik Barat .

Secara global, ada 40 negara dan teritorial yang mendapatkan sertifikasi bebas malaria dari WHO. Beberapa yang terbaru adalah El Salvador (2021), Algeria (2019), Argentina (2019), Paraguay (2018), dan Uzbekistan (2018).

Infografis beda DBD dan Malaria

Apa bedanya DBD dan Malaria?
Apa bedanya DBD dan Malaria?

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel