Setelah Lantunkan Azan di Dalam Bui, Jenderal TNI Itu Ditembak Mati

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kiprah Brigjen TNI Mustafa Sjarief Soepardjo sebagai salah satu Perwira Tinggi (Pati) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), berakhir nahas di ujung letusan peluru regu tembak. Keterlibatannya dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), membuat namanya buruk di akhir hayatnya.

VIVA Militer mengutip catatan yang ditulis Hendro Subroto dalam buku berjudul "Dewan Revolusi PKI" yang dirilis pada 1997, seorang Perwira Menengah TNI Angkatan Darat, Mayor Inf Imam Santoso, terbang ke Jakarta dari Kalimantan Barat bersama Soepardjo.

Saat itu, Soepardjo tengah ditugaskan di Kalimantan Barat sebagai Panglima Komando Tempur II (Pangkopur) di bawah Komando Mandala Siaga (KOLAGA), dalam kampanye Ganyang Malaysia. Akan tetapi, Imam justru menyaksikan Soepardjo meninggalkan posnya untuk kembali ke Jakarta pada 28 September 1965.

Soepardjo sempat mengatakan kepada Imam alasan kepulangannya ke Jakarta adalah untuk memenuhi panggilan mendadak. Tapi ternyata, Soepardjo justru jadi salah satu pimpinan G30S/PKI 1965. Soepardjo saat itu jadi wakil pimpinan Gerakan 30 September 1965, di bawah komando Letkol Untung Syamsuri yang notabene memiliki pangkat dua tingkat di bawahnya.

Peristiwa kelam G30S/PKI pun pecah. Enam Perwira Tinggi dan satu Perwira Menengah TNI Angkatan Darat diculik, dibunuh, dan mayatnya dimasukkan ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, Soepardjo yang dikenal sebagai seorang prajurit tempur dan ahli strategi, sempat memberikan pernyataan kepada Sjam Kamaruzaman, yang menduduki posisi sebagai Ketua Biro Khusus PKI. Pertanyaan Soepardjo kepada Sjam, adalah mengenai rencana cadangan jika Gerakan 30 September gagal.

Sayang, Soepardjo tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan dari Sjam. Sebaliknya, Sjam malah menggertak Soepardjo dengan emosi karena ia terlalu yakin bahwa Gerakan 30 September 1965 tidak akan gagal.

"Bung kalau begini banyak yang mundur. Kalau revolusi sudah berhasil, banyak yang mau ikut," ucap Sjam menjawab pertanyaan Soepardjo.

Intuisi Soepardjo sebagai seorang prajurit tempur ternyata benar. Gerakan 30 September akhirnya gagal dan membuatnya melarikan diri dan bersembunyi. Perlu diketahui, Soepardjo adalah tokoh G30S/PKI yang tertangkap paling akhir diantara rekan-rekannya semisal Sjam, Dipa Nusantara Aidit, dan Letkol Untung.

Perintah untuk menangkap Soepardjo datang dari Letjen TNI Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), kepada Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V Jaya, Brigjen TNI Amirmachmud.

Amir pun langsung bergerak cepat membentuk operasi intelijen dengan tim khusus bersandi "Kalong". Meskipun harus mencari Soepardjo selama 1,5 tahun, Tim Kalong akhirnya berhasil menangkap Soepardjo di rumah seorang Tamtama TNI Angkatan Udara, Kopral Soetardjo, pada 12 Januari 1967. Setelah tertangkap, Soepardjo pun diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilhub) dan divonis hukuman mati.

Menjelang eksekusi hukuman mati, Soepardjo disebut sempat memberikan sepasang sepatu kepada keluarganya. Setelah itu pada 18 Maret 1967, sesaat sebelum dieksekusi mati regu tembak Soepardjo sempat menyanyikan Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya" dan mengumandangkan azan dari selnya.