Setengah Jam Terakhir Edi Kru KRI Nanggala Pamitan kepada Sang Ibu

Mohammad Arief Hidayat
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memutuskan untuk memberikan bantuan beasiswa kepada dua anak dari salah satu kru kapal selam KRI Nanggala-402 yang dinyatakan gugur sampai mereka menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengemukakan mereka yang gugur adalah prajurit TNI AL yang berani, sehingga sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk membantu mencukupi apa yang menjadi kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.

"Tadi saya tanya (anaknya) sudah berkeluarga, anak dan istri ternyata di Sidoarjo. Saya minta data anaknya, kalau bisa kami akan cover sampai perguruan tinggi nanti. Apa yang menjadi kebutuhan, beasiswanya," katanya setelah takziah ke rumah duka, milik orang tua almarhum Serda Lis Edi Wibowo, salah satu kru kapal selam KRI Nanggala-402 di Desa/Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Selasa, 27 April 2021.

Ia juga tidak mempermasalahkan jika nantinya alamat maupun KTP anak itu di luar kota. Pemerintah Kabupaten Kediri tetap berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat untuk membantu keluarga yang ditinggalkan.

"Kalau sudah seperti ini, kita tidak melihat kabupaten mana lagi. Kita lihatnya warga negara Indonesia, sampai perguruan tinggi nanti beasiswanya," katanya.

Untuk orang tua Edi, Bupati juga menambahkan juga akan membantu. Ia juga sudah meminta kepada keluarga agar apa pun kebutuhan yang pemerintah kabupaten bisa bantu agar disampaikan kepadanya secara langsung.

"Tadi saya sudah sampaikan, kalau ada kebutuhan apapun yang pemkab bisa bantu tolong sampaikan langsung. Disampaikan ke saya, tidak ke dinas tapi langsung ke Bupati," kata Mas Bup, sapaan akrab Hanindhito Himawan Pramana.

Sementara itu, ibunda Serda Lis Edi Wibowo, Trismiati, mengatakan anaknya selalu menghubungi bila hendak berangkat kerja. Terakhir, ia komunikasi pada Senin pekan lalu, sebelum hendak berangkat kerja.

"Hari Senin mau menyelam, bilang ‘Bu, saya mau berangkat, mau menyelam; masih ada waktu kurang lebih setengah jam, saya minta doa restunya'," kata Trismiati menirukan perkataan anaknya.

Ia juga sedih mendengar kejadian itu. Anaknya yang keempat itu menjadi salah satu kru kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam.

Edi, katanya, anak yang sangat baik dan perhatian pada orang tua serta orang lain. Ia juga selalu menghubungi orang tua untuk meminta doa restu, walaupun dari rumah sudah berpamitan mau menyelam.

"Dari dulu begitu. Meskipun dari rumah sudah pamit, mau menyelam pasti pamit lagi-telepon," kata dia.

Ia juga tidak memiliki firasat apa pun akan kepergian anaknya. Namun beberapa waktu terakhir ia melihat anaknya yang kurus dan dikatakan saat itu banyak kegiatan.

Ia berharap yang terbaik untuk anaknya. Saat ini, menantu dan dua cucunya juga masih sedih dengan kejadian ini. Mereka tinggal di Sidoarjo. Dua cucunya itu juga masih bersekolah—yang pertama tingkat SMP kelas tiga, yang kedua masih duduk di bangku sekolah dasar.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono lewat konferensi pers secara virtual, Minggu (25/4), mengumumkan bahwa semua awak KRI Nanggala-402 yang berjumlah 53 orang dipastikan gugur. Kondisi kapal juga terbelah menjadi tiga bagian dan tenggelam di kedalaman 838 meter di bawah permukaan laut.

Yudo menjelaskan bahwa musibah ini bukan karena human error melainkan karena alam. Saat proses menyelam sudah melalui prosedur yang benar, mulai dari prosedur laporan penyelaman, melaksanakan peran-peran persiapan peralatan tempur, dan sebagainya. Bahkan, saat menyelam pun juga diketahui lampu masih menyala seluruhnya atau tidak terjadi blackout.

Namun, pihaknya juga menegaskan terus berkoordinasi dengan International Submarine Escape and Rescue Liaison Office (ISMERLO) terkait dengan tindakan evakuasi kapal selam KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan Bali itu. (ant)