Seteru klasik di Wembley

MERDEKA.COM. Suasana di markas Asosiasi Sepak Bola Uni Eropa (UEFA) di Kota Nyon, Swiss, Jumat dua pekan lalu, begitu tegang menjelang undian semifinal Liga Champions. Jutaan pasang mata seolah tidak berkedip. Mereka menahan nafas.

Apalagi saat mantan penyerang tim nasional Belanda Ruud van Nistelrooy mengambil satu-satu lipatan kertas dalam cawan bertulisan empat nama klub lolos ke babak empat besar itu: Barcelona, Real Madrid, Bayern Munich, dan Borussia Dortmund. Hasilnya, Barcelona bertemu Munich dan Madrid menghadapi Dortmund pada Rabu dan Kamis dini hari pekan ini.

Barcelona lolos ke semifinal meski skor agregat menghadapi Paris Saint Germain 3-3. Klub Catalan ini memiliki produktivitas gol lebih baik di kandang lawan. Madrid mencatat kemenangan 5-3 atas Galatasaray, Munich mencukur pemuncak klasemen Liga Seri A Italia Juventus 5-0, dan Dortmund susah payah menghentikan Malaga 3-2.

Spekulasi dan harapan soal final Liga Champions langsung menggema. Namun banyak pihak ingin laga pamungkas itu mempertemukan dua pesaing tradisional asal Spanyol. Mereka menganggap ini final ideal.

"Semua orang ingin laga final antara Barcelona dan Real Madrid," kata pelatih tim nasional Spanyol Vicente del Bosque, seperti dilansir situs goal.com, pekan lalu. Bosque dua kali meraih trofi Liga Champions saat melatih klub raksasa asal Ibu Kota Madrid itu.

Bos Munich Karl-Heinz Rummenigge pun sudah memperkirakan Barcelona bakal melangkah ke final. "Saya benar-benar senang kami akan menghadapi tim terbaik di Eropa. Saya masih merasa Barcelona amat dijagokan menjuarai Liga Champions," ujarnya seperti dikutip koran The Telegraph.   

Barcelona dan Madrid sama-sama memiliki alasan kuat untuk bertemu di pertandingan penentuan itu. Lionel Messi dan kawan-kawan harus menuntaskan dendam setelah dipastikan kehilangan trofi Copa del Rey dan Piala Super. 

Barcelona takluk dari Madrid 4-2 dalam laga semifinal Copa del Rey. Seterunya itu bakal menghadapi tim sekota Atlectico Madrid pada partai final 17 Mei mendatang. Madrid juga mengubur mimpi Barcelona merebut Piala Super Agustus tahun lalu setelah menang 2-1 di partai puncak.      

Madrid juga tak kalah sewot. Mereka kemungkinan besar harus merelakan mahkota Liga Spanyol mereka rebut tahun lalu kepada Barcelona. Mereka ingin meneruskan dominasi sebagai klub paling banyak merebut gelar Liga Champions. Sejauh ini, Madrid sudah sembilan kali merasakan trofi paling bergengsi di Benua Biru itu.

Bukan sekadar ambisi klub, dua pelatih juga sama-sama ingin mengukir prestasi. Tito Villanova yang naik tingkat menggantikan Joseph Guardiola ingin mempersembahkan trofi Liga Champions keempat di musim pertamanya. Villanova adalah bekas asisten Guardiola.

Arsitek Madrid Jose Mourinho bertekad menjadi pelatih pertama meraih Liga Champions untuk tiga klub berbeda. Dia pernah mencium trofi itu saat menangani FC Porto (2004) dan Chelsea (2009).  

Liga Champions kali ini pun sekali lagi meneruskan persaingan antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Siapa di antara keduanya mengangkat trofi pada 25 Mei di Stadion Wembley, Ibu Kota London, Inggris, bisa dipastikan terpilih sebagai pemain terbaik dunia tahun ini.

Tapi barangkali hampir mustahil menyaksikan seteru klasik itu terwujud dalam partai pamungkas Liga Champions. Sebab, Barcelona remuk 0-4 dari Bayern Munich dalam pertandingan pertama semifinal dini hari tadi di Stadion Allianz Arena.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.