Setop Bullying Penyintas dan Pasien Bibir Sumbing

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bullying atau perundungan kerap dialami penderita maupun penyintas bibir sumbing. Pengalaman tak mengenakkan itu juga dirasakan Setya Alit Purnawati. Perempuan yang pernah menjuarai pencak silat itu menuturkan ejekan dan cibiran sering diterimanya saat duduk di bangku sekolah dasar.

"Waktu kelas 1 dan 2 itu paling parah, di-bullying, dikatain, ditirukan cara bicaranya, (diejek) ‘ih kok kamu gitu’, ‘kok cara bicaramu kayak gitu’, ‘kamu kena kutukan ya’, seperti itu," ujar Alit dalam webnar bertajuk 'Stop Bullying Bibir Sumbing Lindungi Kesehatan Mental Mereka', Jumat, 10 September 2021.

Beruntung, keluarganya selalu mendukungnya dengan kalimat-kalimat positif. Kalimat penyemangat itu mampu meyakinkan Alit untuk membuktikan ia mampu berprestasi meski kondisi fisiknya berbeda dari kebanyakan teman-temannya.

"Omongan kayak gitu jangan diambil hati, ambillah semangat untuk kamu bangkit," ujar Alit menirukan ucapan orangtuanya.

Kepercayaan diri Alit mulai terbangun saat duduk di kelas 5 SD. Ia memegang keyakinan pada diri sendiri dengan moto ‘ejekanmu adalah semangatmu, ejekannya adalah semangatku’. "Ejekan teman-teman, bully-an teman-teman itu untuk semangat aku. Inilah aku, aku bisa seperti kamu," sambung Alit.

Dukungan juga diberikan oleh ibunda Khalisa, seorang pasien yang berhasil menjalani operasi bibir sumbing. Namun, perempuan itu menuturkan tidak mudah menjalaninya.

Ia sempat kaget dengan kondisi anaknya ditambah tekanan dari lingkungan sekitar. Belum lagi saat anaknya yang lain mogok sekolah karena adiknya memiliki kondisi celah bibir. Di sinilah, kata psikolog klinis dari Sahabat Orang Tua dan Anak (SOA) Parenting dan Education Support Center, Hanlie Muliani, pentingnya pendampingan psikologis untuk pasien dan keluarganya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Siapkan Mental

Khalisa, pasien Smile Train Indonesia yang berhasil menjalani operasi bibir sumbing. (dok.  Smile Train Indonesia)
Khalisa, pasien Smile Train Indonesia yang berhasil menjalani operasi bibir sumbing. (dok. Smile Train Indonesia)

Hanlie mengatakan wajar bila orangtua baru syok melihat anak mereka dengan kondisi bibir sumbing atau celah langi-langit mulut. Namun, orangtua selanjutnya wajib menerima kondisi tersebut dan menyayangi mereka dengan tulus. "Kita nggak bisa merencanakan kelahiran, tapi kita bisa merencanakan masa depan mereka," sambung dia.

Para orangtua yang memiliki anak bibir sumbing perlu diyakinkan bahwa mereka suporter utama anak-anak mereka. Kondisi fisik anak bukan alasan mereka untuk ikut merundung, menyingkirkan, bahkan menyembunyikan anaknya. Jika dilakukan sebaliknya, tumbuh kembang anak akan terganggu.

Orangtua juga wajib menyiapkan mental untuk menerima apapun kondisi anak. Hal itu bisa ditunjukkan oleh lingkungan sekitarnya.

"Ketika ibu hamil dan melahirkan dengan kondisi dengan bibir sumbing adalah mental si ibu dahulu. Ucapan pertama kepada sang ibu adalah jangan khawatir, jangan takut, anak ibu ‘hanya’ dalam kondisi bibir sumbing di mana bisa diperbaiki," kata Deasy Larasati, Country Manager Smile Train Indonesia.

Bedakan Candaan dan Perundungan

Hanlie Muliani, Psikolog Klinis, Sahabat Orang Tua & Anak (SOA) Parenting & Education Support Center yang bermitra dengan Smile Train Indonesia. (dok.  Liputan6.com/Gabriella Ajeng Larasati)
Hanlie Muliani, Psikolog Klinis, Sahabat Orang Tua & Anak (SOA) Parenting & Education Support Center yang bermitra dengan Smile Train Indonesia. (dok. Liputan6.com/Gabriella Ajeng Larasati)

Kesiapan mental orangtua, terutama ibu, akan menjadi modal positif bagi anak saat berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarganya. Pasalnya, anak bibir sumbing rentan dirundung. Kondisi itu akan mengganggu mentalnya bahkan saat ia beranjak dewasa.

Kalau pun tidak dirundung, anak bisa jadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri saat menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Perundungan akan membuat situasinya semakin terpuruk.

"Perlu dibedakan bahwa candaan teman yang bersifat perundungan dengan candaan yang bersifat bercanda. Jika candaan teman yang mengarah pada perundungan, hal itu akan dilakukan secara terus menerus yang dapat berakibat pada kesehatan mental sang anak, sehingga kepercayaan diri menjadi menurun," ujar Hanlie.

"Jadi kalau ditanya dampak terburuknya apa, ya dampak terburuknya adalah bisa mengalami depresi dan bahkan muncul keinginan untuk mengakhiri hidupnya," tambahnya. (Gabriella Ajeng Larasati)

Perkembangan Bullying di Indonesia

Infografis Kasus Bullying (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Kasus Bullying (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel