Shenzhen jadi pintu masuk buah-buahan Asia Tenggara ke pasar China

China adalah tujuan ekspor utama bagi buah-buahan dari sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Indonesia.

Berkat jaringan transportasi yang cukup memadai dan layak serta proses bea cukai yang sangat efisien, perdagangan buah-buahan China dan negara-negara Asia Tenggara berkembang pesat.

Salah satu contohnya seperti disiarkan Xinhua, Senin, adalah perdagangan antara beberapa negara Asia Tenggara dengan kota Shenzhen di China selatan. Menurut data statistik dari bea cukai Shenzhen, dalam 10 bulan pertama tahun ini, nilai perdagangan antara kota tersebut dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) melebihi 469,7 miliar yuan (1 yuan = Rp2.191), naik 12,9 persen secara tahunan.

Dari total nilai perdagangan itu, nilai impor-ekspor antara Shenzhen dengan Thailand dan Indonesia masing-masing mencapai 84,78 miliar yuan dan 29,96 miliar yuan, sama-sama mencatat peningkatan sebesar lebih dari 20 persen secara tahunan.

Beberapa hari lalu, satu batch buah lengkeng seberat 28 ton yang berasal dari Thailand berhasil menyelesaikan proses perizinan bea cukai dengan cepat di Pelabuhan Teluk Shenzhen, dan segera diangkut ke Pasar Jiangnan di Guangzhou, pasar perdagangan buah-buahan terbesar di China selatan, untuk kemudian dijual ke berbagai lokasi di seluruh China.

Menurut Chen Miaodong, manajer urusan bea cukai dari Guanglin Customs Declaration Service Co., Ltd. di Shenzhen, yang mengurus deklarasi perizinan bea cukai untuk batch lengkeng tersebut, Thailand, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lain sudah menjadi pasar impor utama bagi perusahaannya, khususnya saat ini, ketika impor buah lengkeng, manggis, dan durian memasuki periode puncak. "Kami mengimpor buah-buahan itu sebanyak 3.000 ton lebih per bulan," ujar Chen.

Shenzhen, kota yang bertetangga dengan Hong Kong, memiliki berbagai keunggulan seperti jaringan logistik penerbangan yang memadai dan jalur transportasi yang baik dan efisien. Kota tersebut kerap menjadi pintu masuk bagi buah-buahan tropis dari negara ASEAN ke pasar China.

Untuk mewujudkan proses perizinan bea cukai yang lebih cepat demi menjaga kesegaran buah-buahan, otoritas bea cukai Shenzhen meluncurkan "jalur istimewa" untuk pemeriksaan buah-buahan impor dan menerapkan berbagai cara untuk memfasilitasi prosesnya, seperti "deklarasi perizinan tanpa kertas," "skema pemeriksaan buah-buahan yang optimal" agar buah-buahan dapat diperiksa segera setelah tiba di China dan prosesnya dijalankan secara purnawaktu (7x24 jam).

Beberapa hari lalu, satu batch durian Thailand berbobot 9.3 ton dan srikaya Indonesia berbobot 3.6 ton yang diimpor melalui Bandara Shenzhen dapat segera diangkut ke pasar-pasar utama di seluruh China sesudah mendapat pemerikasan di tempat khusus untuk buah impor di bandara tersebut.
Beberapa hari lalu, satu batch durian Thailand berbobot 9.3 ton dan srikaya Indonesia berbobot 3.6 ton yang diimpor melalui Bandara Shenzhen dapat segera diangkut ke pasar-pasar utama di seluruh China sesudah mendapat pemerikasan di tempat khusus untuk buah impor di bandara tersebut.

Ambil pelabuhan Teluk Shenzhen sebagai contoh, karena lokasinya berdekatan dengan jalan tol Guangzhou-Shenzhen, pelabuhan ini dapat melakukan pengumpulan dan distribusi buah-buahan dengan sangat cepat. Lebih dari separuh durian impor di Shenzhen memasuki pasar China melalui pelabuhan tersebut.

Selain Pelabuhan Teluk Shenzhen, Bandar Udara Shenzhen pun menjadi pelabuhan penting untuk mengimpor buah-buahan dari Asia Tenggara. Beberapa hari lalu, satu batch durian Thailand berbobot 9.3 ton dan srikaya Indonesia berbobot 3.6 ton yang diimpor melalui Bandara Shenzhen dapat segera diangkut ke pasar-pasar utama di seluruh China sesudah mendapat pemerikasan di tempat khusus untuk buah impor di bandara tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk seluruh prosesnya, mulai dari pemetikan hingga buah-buahan itu dipajang di rak-rak pasar di China, hanya kurang dari 12 jam.