Shipper dan KNEKS perkuat rantai pasok untuk produk halal di Indonesia

·Bacaan 3 menit

Shipper, perusahaan bidang teknologi super enabler yang menyediakan solusi logistik dan gudang digital pintar, secara resmi bekerjasama dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) untuk memperkuat rantai pasok produk halal di Indonesia

Senior Vice President B2B Fulfillment Shipper Faizal Kuraesin mengungkapkan bahwa Shipper saat ini telah menyediakan total 10.000 m2 gudang di enam lokasi yaitu Medan, Palembang, Tangerang, Semarang, Surabaya, dan Makassar untuk memfasilitasi pelaku industri yang memiliki produk untuk disimpan dan didistribusikan sesuai dengan standar halal.

"Pelaku industri tidak perlu membangun gudang sendiri dan mensertifikasi gudang tersebut untuk mendapat sertifikasi halal. Mereka juga dapat mengetahui seluruh aktivitas pergudangan dan logistik secara real-time dengan teknologi Shipper," ungkap Faizal Kuraesin dalam keterangan resminya, Selasa.

Baca juga: Kongres Halal Internasional momentum promosikan produk daerah

Dia juga melanjutkan bahwa sinergi antara keduanya ini merupakan bagian dari upaya Shipper dalam mendukung Indonesia menjadi Pusat Produsen Halal Dunia pada 2024.

"Melalui kolaborasi dengan KNEKS, semakin menunjukkan semangat Shipper dalam menjadi pionir percepatan terbentuknya rantai pasok produk halal di Indonesia," kata dia.

Dalam hal ini, besarnya potensi pangsa pasar produk halal telah dibuktikan dengan dikeluarkannya data dari the State of Global Islamic Economy Report 2022 yang menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen muslim untuk makanan, minuman, farmasi, dan gaya hidup halal mencapai 2 triliun dolar AS pada 2021.

Dalam laporan ini juga Indonesia berhasil menempati peringkat keempat dalam The Global Islamic Economy Indicator. Meskipun berada di peringkat yang sama pada tahun lalu, Indonesia mengalami kenaikan signifikan di sektor makanan halal, naik dua peringkat ke posisi dua.

Dengan potensi yang masih sangat besar itu dalam implementasi halal supply chain, Shipper memastikan pelaksanaan pergudangan dan logistik yang memisahkan produk halal dengan produk non-halal atau belum bersertifikasi halal.

Baca juga: Kemenag harap ekosistem halal jadi penggerak ekonomi nasional

Pemisahan dilakukan dalam setiap proses mulai dari hulu ke hilir sesuai dengan standar halal Indonesia (HAS 23000) dan prinsip ketertelusuran halal (halal traceability) untuk memperkuat rantai pasok halal Indonesia.

Sertifikasi halal produk menjadi salah satu cara agar pelaku usaha cepat naik kelas dan produknya memiliki daya saing sehingga dapat memperluas akses pasar baik domestik maupun luar negeri.

Proses sertifikasi halal yang diajukan pelaku industri akan menjadi lebih cepat dan mudah dengan fasilitas pergudangan dan logistik yang sudah menerapkan standar halal seperti yang dilakukan Shipper.

Direktur Industri Produk Halal KNEKS Afdhal Aliasar mengatakan bahwa halal traceability akan memberikan rasa aman dan nyaman serta meningkatkan kepercayaan konsumen atas produk yang dihasilkan di samping membuat proses sertifikasi halal menjadi lebih mudah dan efisien bagi pelaku usaha.

Baca juga: Wamen BUMN: Potensi ekspor produk halal Indonesia 3,6 miliar dolar AS

"Pelaku usaha dapat menjawab tantangan perkembangan kemajuan teknologi digital dan tuntutan gaya hidup masyarakat domestik maupun internasional yang memilih produk sehat, berkualitas dan halal dengan menerapkan prinsip ini. Halal traceability membuat industri halal Indonesia semakin dipercaya yang pada akhirnya akan membantu Indonesia menjadi Pusat Produsen dan Industri Halal Dunia," kata dia.

Untuk memajukan industri hala ini, dibutuhkan sinergi yang kuat dengan visi dan misi yang sama dari semua pemangku kepentingan yang terlibat dan salah satunya adalah dengan mempercepat pengembangan Kawasan Industri Halal.

Pelaku industri membutuhkan halal integrity melalui ketertelusuran produk yang bisa disampaikan kepada konsumen. KNEKS bersama Shipper juga melakukan clustering UMKM dengan mengidentifikasi mereka yang bisa naik kelas untuk masuk ke kawasan industri agar lebih terjamin kehalalan produknya.

Ekonomi syariah, khususnya industri halal, memiliki potensi besar dalam pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi. Kontribusi ekonomi syariah pada tiga kuartal 2021 menembus 25,44 persen, meningkat dari 24,86 persen, pada 2020.

Baca juga: Menag apresiasi program 10 juta produk bersertifikat halal BPJPH

Baca juga: BI: Konsumsi produk halal RI bakal tumbuh mencapai 281,6 miliar dolar

Baca juga: MUI: Penetapan logo halal perlu melibatkan aspirasi berbagai pihak

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel