SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 4)

Liputan6.com, Jakarta Nah, sudah kuduga. Pertama, Gema curhat soal Riga. Kedua, Gema minta tolong aku mengurus Riga yang notabene bukan siapa-siapaku lagi. Ketiga, artinya Gema tak tahu bahwa hubunganku dengan Riga telah berakhir. Memang sejauh ini belum ada yang tahu soal kandasnya hubungan ini.

Netizen yang budiman pun belum tahu. Soalnya aku tak menghapus foto-foto mesraku dengan Riga di Instagram. Begitu pula dengannya. Aku yakin sepahit dan sebrengsek apa pun, mantan tetaplah bagian hidup. Dikenang atau tidak, ia pernah mengisi dan memperindah hidup dalam kurun waktu tertentu.

Prinsip inilah yang dulu membuatku dan Riga yakin menjalani hubungan. Prinsip ini pula yang membuat Riga tampak dewasa dalam pandanganku. Begitu pun sebaliknya. Aku terdiam beberapa detik. Kemudian tersenyum. Gema menangkap senyumku sebagai pertanda baik. 

Gema Mendelik

ilustrasi mantan pacar. (iStockphoto)

Ia terus menatapku sambil menanti jawaban. Aku meneguk jus jeruk, menoleh ke arah pintu untuk memastikan telah tertutup rapat. Dan inilah jawabanku. “Mas belum tahu, ya? Aku dan Riga sudah putus,” beri tahuku lirih.

Gema mendelik. “Astagfirullah! Sorry Lin, gue benaran enggak tahu. Oke, gue juga enggak akan kepo kapan dan sebabnya apa karena bagaimana pun ini urusan pribadi lo. Gue outsider,” jawab Gema.

Wajahnya memerah, tampak merasa bersalah karena mengungkit luka lama dan membuang waktuku percuma. Sebenarnya enggak apa-apa juga, sih. Toh, kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Menyambung silaturahmi bagiku sebuah kebaikan dan bermanfaat.

Merasa Bersalah

“Mas, enggak perlu merasa bersalah. Gue tahu, kok Mas Gema baik dan selalu jadi kesayangan para bintang stripping bahkan yang sok diva sekali pun,” aku menyambung.

“Gue sebenarnya sempat bertanya-tanya, Lin. Sudah berbulan-bulan lo enggak sidak ke lokasi syuting. Cuma gue dengar kabar lo lagi audisi film horor Bayangan dari Kuburan. Gue pikir lo diterima makanya jarang nongol,” ia menukas. Aku menggeleng. Memang sempat aku ikut audisi tapi tidak lolos. Enggak apa-apa. Belum rezeki.

Model Kelas Papan Penggilasan

Kepada Gema aku menjelaskan putus cinta sekitar tiga bulan lalu. Aku menceritakan pula betapa panasnya hati mendapati Riga baru selesai bercinta dengan Dion. Riga masih telanjang dada, Dion tanpa rasa bersalah melenggang ke luar ruangan. Mendengar ceritaku, bibir Gema menganga. Tampak jelas mukanya makin merasa bersalah.

Aku meyakinkannya, Riga sudah tidak penting lagi dalam hidupku. Jadi, tak perlu merasa tak enak hati. Dan sebagainya. Sore itu, Gema malah bercerita panjang lebar soal perilaku Riga usai dipecat dari sinetron SKS. 

“Yang gue dengar, Dion model kelas papan penggilasan. Postur tubuh proporsionalnya diinginkan dari tante hingga desainer. Serius, enggak nyangka juga kalau akhirnya Riga kesengsem Dion. Asisten pribadinya malah curhat ke gue Lin, sekarang Riga kayak orang enggak fokus,” cerita Gema, panjang.

First Class Jakarta-Tokyo-Jakarta

“Si Rini?” aku tanya balik.

“Ya, Lin. Rini mana punya daya untuk memengaruhi Riga. Makanya gue kepikiran lo.”

“Rini dan managernya Riga sama saja, Mas. Apalagi gue yang cuma mantan.”

“Lo tahu Lin, Rini tiga hari yang lalu curhat enggak sengaja mendapati berkas pembelian tiket pesawat Garuda Indonesia first class Jakarta-Tokyo-Jakarta. Kabarnya sih sekalian membayari penginapan di Shinjuku Washington Hotel, Jepang,” lanjutnya.

“Cuma bintang 4, nih?” aku merespons sambil menyeruput jus jeruk untuk kali kesekian.

“Yaelah, Lin. Bukan itu poinnya! Kalau ke Jepang dan inap saja dibayari berarti hubungan bekas lo dengan si Dion enggak jelas ini lebih intens dari yang gue bayangkan, dong? Apa kabar kalau sampai orang tuanya tahu?”

 

Seperti Mendorong Tembok

Aku cuma bisa menggeleng. Jujur, dalam kondisi seperti ini aku tak berani bicara banyak apalagi sok memberi solusi. Mengingat, aku bukan siapa-siapa lagi. Sadar minta tolong padaku seperti mendorong tembok, Gema akhirnya pamit.

Sebelum pamit, Gema minta tolong. Andai suatu saat bertemu Riga, aku diminta mengingatkannya sebagai teman agar tak salah jalan. Atau minimal berhati-hati mengelola keuangan. Jangan lepas kontrol atas nama cinta eh, nafsu.

Aku pun minta maaf pada Gema karena tak bisa berbuat banyak untuk memperbaiki attitude Riga. Gema memahami. Usai menjabat tangan dan memelukku, ia pergi. Aku pun pulang.

Faiz Rifa!

Hari yang kutunggu akhirnya datang. Aku terbang ke Yogyakarta. Sendiri. Menginap di hotel di Jalan A.M. Sangaji. Hal pertama yang aku lakukan adalah mengisi bath tub dengan air hangat.

Membuat busa dengan sabun cair aroma alga Inggris favoritku. Lalu berendam. Gusti, rasanya tentram sekali. Baru berdiam diri beberapa menit, ponselku berdering.

Faiz Rifa! Oh my God, ngapain manager begajulan ini meneleponku? Masa bodo. Aku mau hidup tenang selama beberapa hari saja. Makin kudiamkan, makin kutergoda untuk mengangkat telepon.

Belagu Amat

“Manager hit ngapain, sih lo ganggu hidup gue. Lo urus saja Lintang artis andalan lo itu, jangan ngerecokin hidup gue,” jeritku bahkan sebelum Faiz mengucap salam.

“Gue enggak maksud ngerecokin hidup lo. Tapi gue tersinggung berat. Belagu amat lo, gue panggil dua kali di Adi Sutjipto enggak menoleh sama sekali,” cetus seseorang dari ujung sana.

“Lo di Jogja juga?” aku terkejut.

“Di hotel yang sama dengan lo, gue di kamar 501 lo ke sini sekarang. Ada yang mau gue omongin sama lo. Penting enggak penting, sih!” pintanya kemudian menutup telepon. Belum sempat kuiakan.

 

Ikhlasin Saja

Gusti… ringsek sudah konsep melancong solo alias solo traveler ala aku. Enggak mungkin, Faiz Rifa ujug-ujug menelepon dan mengajak bertemu kalau bukan hal penting. Dia itu mirip Gema cuma versi cong, ha ha ha! Peace Faiz!

Usai berendam 15 menit, aku mandi, ganti baju, tanpa makeup hanya pakai lipstik, kemudian melaju ke lobi. Maklum, aku hanya bisa mengakses lobi, restoran, dan lantai kamarku sendiri. Faiz menunggu di sana lalu membawaku ke lantai 5.

Baru masuk lift, belum ke lantai 5, dia sudah mengoceh, “Ikhlasin saja ya, Lin. Dia sudah membuat pilihan keliru. Pernah dengar ujaran apa yang ditabur orang itu pula yang akan dituainya, kan?”

Deg. Apa lagi, ini?

 

(Bersambung)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer: 

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.