SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 6-Habis)

Liputan6.com, Jakarta Perjalanan pulang menuju Jakarta dengan pesawat.

Pernahkah berpikir bahwa kalianlah orang yang paling menderita setata surya? Aku pernah, beberapa bulan terakhir. Saat mendapati Riga di ruang artis bersama Dion. Saat itu aku sadar, Riga bukan hanya aktor di depan kamera tapi di kehidupan nyata. Oscars patut meliriknya, untuk melawan Joaquin Phoenix dalam Joker, mungkin.

Aku pribadi tertutup. Maka saat patah hati, aku pendam sedalam kumampu. Lalu Yogyakarta mempertemukanku dengan Faiz Rifa. Seketika aku merasa tak sendiri. Aku tahu luka hati Faiz belum pulih.

Biar waktu yang membantunya hingga tak lagi tertatih. Aku pun perlu waktu lebih agar perih tak lagi berbuih-buih. Yang kupikirkan sekarang permintaan Gema Yudha untuk memperingatkan Riga. Aku, tuh gengsi kalau dibilang cewek enggak amanah. Diberi mandat tapi tidak menjalankan.

Malas Banget Bertemu Riga

Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Sepanjang perjalanan dari Yogyakarta ke Cengkareng yang tidak sampai sejam itu, aku memutar otak bagaimana menyampaikan amanat Gema kepada Riga. Malas bertemu mantan tapi kurasa Gema punya niat baik. Mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, aku bergegas masuk ruang kedatangan, dan menyalakan ponsel.

Aku menghubungi Riga dan mengajaknya bertemu. Menilik cara menjawabnya yang selalu satu-dua kata, aku tahu Riga malas bertemu. Tapi aku meyakinkannya, pertemuan ini pertama dan terakhir. Akhirnya, ia sepakat bertemu pada hari Minggu jam 6 sore di kedai kopi Pahit, milik novelis terkenal Narashima Baskara.

Begitu lokasi dan jam pertemuan cocok, langsung kuiyakan dan kusudahi percakapan. Obrolan lewat WhatsApp dengan Riga menciptakan efek tak nyaman selama beberapa jam. Sabar, sabar, kataku dalam hati. Menenangkan diri.

Ogah Dibilang Tidak Amanah

Hari yang tak dirindukan tiba. Minggu, jam 5.45 sore, aku sudah sampai di kedai kopi Pahit. Riga baru datang jam 7 malam. Sabar, sabar. Kataku dalam hati. Meredam emosi. Sekalinya datang, raut mukanya ogah- ogahan. Dia memesan kopi susu dan brownis espreso. Aku lebih dulu memilih teh yasmin dan roti tuna.

Sepanjang percakapan aku mengingatkan diri sendiri untuk fokus menyampaikan pesan lalu pulang. Titik.

"Mau ngomongin apa, sih?" Riga membuka obrolan.

"Cuma mau menyampaikan pesan dari seseorang kalau..." jawabku. Belum selesai, Riga menyela.

"Pesan dari siapa? Soal gue make love sama cowok?"

"Rig, gue sampaikan pesan dengan detail sampai selesai, boleh, ya? Habis itu mau lo respons atau enggak, terserah. Gue cuma mau menyampaikan amanat seseorang yang gue hormati. Terus pulang. Gue cuma enggak mau dibilang enggak amanah," sahutku, menahan gemas.

Tanda Sayang Buat Riga

Sabar, sabar. Enggak semua orang punya etika. Riga, misalnya. Batinku.

Kuucapkan kalimat itu dengan nada serius. Terdengar setengah membentak, mungkin. Riga diam. Bahkan menatapku pun, tidak. Aku memulai obrolan dengan menceritakan ada sinetron yang jelas-jelas mau tamat tapi pemeran utamanya mendadak diganti. Buat apa, coba? Ini memang bukan urusanku mengingat aku tak terlibat sama sekali di produksi itu.

Tapi tampaknya masih banyak orang yang sayang sama sang pemeran utama. Makanya, seseorang mengajakku bertemu. Lalu memintaku untuk menyampaikan tanda sayang ini ke Riga.

Bagai Desingan Peluru

"Bahwa dalam dunia kerja termasuk lokasi syuting ada yang namanya etika. Etika di atas segalanya. Sorry to say, terserah lo mau jadi gay atau apa pun itu. Tapi etika kerja harus dijunjung. Orang ini memohon agar kamu lebih hati-hati dalam membuat pilihan. Sayangi kariermu," ujarku sambil mengaduk teh yasmin yang kadung dingin.

"Bilang ke orang yang minta tolong sama lo: kirim tanda sayang dengan mencampuri urusan orang lain itu dua hal yang berbeda. Atau jangan- jangan orang ini fiktif. Lo masih cinta sama gue. Susah move on," Riga menjawab.

Jawaban ini seperti desingan peluru yang nyaris bikin kupingku budek. Seketika aku ingin menyiram teh yasmin ke muka Riga. Tapi bukankah etika juga berlaku di kedai kopi? Aku diam untuk mengatur napas, lalu melanjutkan percakapan. Sabar masih kurentang.

"Oke, nanti akan kusampaikan ke Mas Gema Yudha," jawabku sambil menghabiskan teh.

"Mas Gema?" Riga syok.

Kacang Lupa Kulit

"Jangan jadi kacang lupa kulit. Belasan kali lo ditolak casting director film. Mereka bilang apa soal akting lo? Mereka bilang ekspresi lo kaku kayak kanebo kering. Mas Gema orang pertama yang percaya lo bisa akting. Kita, tuh sama. Mas Gema yakin gue bisa akting. Makanya dia nekat melawan casting director dan kasih gue peran di Luka Cinta. Dia disebut bapak sejuta bintang karena amal baiknya. Semua orang bilang lo, tuh anak emasnya Gema. Jangan durhaka lo!" kataku, ketus.

Ponsel berdering. Dipta menelepon.

"Uhuy, kedai kopi pahit terasa manis karena balikan sama mantan. Prikitiw!" celoteh Dipta dari ujung sana.

"Jangan ngaco, lo di mana?" jawabku, menahan emosi.

"Wew, oke. Jawaban lo lebih pahit daripada kopi itu sendiri."

"Lo di mana?"

"Arah jam 3, Neng. Suruh Mang Danu pulang, gih. Lo gue antar pulang. Pengin ngobrol, nih sama lo tapi jangan di sini. Dan gue yakin, lo butuh ngobrol juga sama gue."

"Najis. Oke, deh."

Maaf Untuk Mas Gema

Mang Danu ku-WhatsApp. Dia kuminta pulang. Lalu, aku kembali fokus menatap Riga.

"Oke, karier lo lagi berkibar. Dan yang namanya h**ny, datang kayak maling. Enggak mungkin, kan lo janjian sama h**ny supaya datang tiap habis syuting. Dengan gaji 15 juta per episode, lo bisa inap seminggu di salah satu hotel di Bundaran Hotel Indonesia. Lo bebas mau ngapain saja dengan Dion. Privasi ada harganya. Popularitas yang sedang lo genggam juga ada harganya. Artis itu kayak atlet. Ada masa jaya, ada masa paceklik. Kalau aksi lo ini menjalar dari mulut ke mulut dan terendus media, lo yakin tahun depan tetap berada di puncak karier?" aku menyambung.

Riga tak menjawab.

"Ada artis terlibat skandal video. Kita tahu sama tahu. Dia butuh sewindu untuk kembali bersinar. Lo itu enggak sabaran. Kalau kasus yang sama menimpa lo, gue enggak yakin lo kuat menjalani proses tebus dosa selama sewindu. Itu pun kalau Gusti Allah kasih waktu lo sewindu. Kalau Gusti Allah kasih waktu lo 10 tahun, lo kuat?" kataku, kemudian beranjak.

"Lin, lo mau ke mana?"

"Mau nyamperin teman."

"Lin, sampaikan terima kasih gue buat Mas Gema."

"Sampaikan sendiri. Lo punya WhatsApp-nya, kan? Minta maaf sama Mas Gema. Jangan gengsi. Minta maaf enggak akan bikin harga diri lo amblas."

Syukuran Untuk Mantan

Aku beringsut menuju lobi. Dipta dengan sigap menjemputku dengan mobilnya. Melihat muka ketusku, Dipta menyodorkan es colekat hazelnut.

"Tahu aja gue lagi jengkel," selorohku lalu menyeruput es cokelat.

"Anggap saja es cokelat itu syukuran episode pertama," beri tahunya.

"Ya Gusti Allah, semoga ada syukuran episode ke-1.002 kayak sinetron Cinta Fitri. Wait, ini dalam rangka apa?" sahutku.

"Dalam rangka mendengar kabar Sandy dibawa ke psikiater dan rumah sakit ketergantungan obat," ucap Dipta dengan wajah semringah.

"Sandy mantan lo dua tahun yang lalu?"

"Yap."

Selingkuhannya Sandy Adalah...

"Kenapa Sandy dibawa ke rumah sakit ?"

"Kecanduan amfetamin dan alkohol."

"Berat banget masalahnya?"

"Masalah hati memang berat, Lin. Mencampakkan gue karena selingkuhannya lebih mahir. Selingkuhannya minta apa saja dituruti. At the end of the day, Sandy sadar selingkuhannya kayak heli guk guk guk. Dikasih makan enak di rumah, begitu melihat tulang di selokan juga tetap digasak. Ujung-ujungnya alkohol dan amfetamin jadi pelarian, ha ha ha!"

"Sebahagia itu lo sekarang?"

"Yap. Tinggal menunggu selingkuhannya ditangkap. Kan pencandu juga."

"Lo tahu betul, selingkuhannya Sandy?"

"Ah, lo juga tahu. Lo, kan pernah ngingetin selingkuhannya Sandy pas celana boksernya ketinggalan di sofa Riga."

 

(Selesai)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer: 

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.