Siaga Penuh, Militer Israel Siap Bantai Iran di Suriah

Radhitya Andriansyah

VIVA – Ketegangan antara Israel dan Iran semakin meningkat. Sejumlah armada tempur Angkatan Udara Israel (IAF) disebut sudah bersiaga penuh untuk menghabisi seluruh target yang didukung Iran di Suriah.

Kabar ini disampaikan oleh seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS), yang tak disebutkan namanya, yang juga mendampingi Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, saat berkunjung ke Israel, beberapa hari lalu.

"Tampaknya ada peningkatan tempo operasional Israel (di Suriah) dan perluasan target yang ditetapkan. Saya tidak mengatakan (Israel memperluas targetnya di Suriah), saya mengatakan tampaknya demikian," kata pejabat Kementerian Luar Negeri AS dikutip Al-Masdar News.

Kunjungan Pompeo ke Israel adalah untuk bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk membahas pencaplokan seluruh wilayah Palestina. Meski demikian, pejabat Kementerian Luar Negeri AS ini mengatakan bahwa dunia harus menghilangkan anggapan bahwa Israel dan AS bakal melakukan aneksasi wilayah Palestina.

Kunjungan Pompeo ke Israel hanya berselang dua pekan pasca serangan udara Angkatan Udara Israel ke sejumlah wilayah di Suriah. Damaskus dan Dataran Tinggi Golan Suriah, jadi target serangan Israel lantaran diyakini sebagai basis milisi Hizbullah dan kelompok bersenjata lain yang dimobilisasi oleh Iran.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Naftali Bennett, pekan lalu menegaskan bahwa pihaknya bakal terus melancarkan serangan di Suriah untuk membuat Iran dan milisi-milisi yang didukungnya angkat kaki dari Suriah.

Bennett yakin, Iran sengaja memobilisasi sejumlah kelompok bersenjata di Suriah untuk menentang pengaruh Israel. Di sisi lain, Suriah di bawah pimpinan Presiden Bashar Al-Assad juga kerap memberikan perlawanan terhadap serangan-serangan Israel.

Sejumlah rudal yang diluncurkan Israel diklaim berhasil ditembak jatuh oleh pasukan Tentara Arab Suriah (SAA). Salah satu yang menyeruak adalah saat rudal Israel dihancurkan pasukan SAA pada Februari 2020 lalu di wilayah Palmyra, Homs, Suriah.