Siap-siap, Bumi Diterpa Badai Matahari

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah

VIVA – Lubang terbuka di atmosfer Matahari, memungkinkan keluarnya aliran angin. Peramal cuaca luar angkasa memperkirakan, angin tersebut akan menghantam Bumi, kedatangannya bersamaan dengan aurora di langit belahan utara.

Dari situs Express, Selasa, 19 Mei 2020, saat ini partikel tersebut tengah menempuh perjalanan 150 juta kilometer untuk bisa sampai ke planet kita. Situs Space Weather mengatakan, aliran kecil angin Matahari diperkirakan menerpa medan magnet Bumi pada hari ini dan besok.

Baca juga: Daftar Hape Android Rp700 Ribuan: 4G, Fingerprint, Face Unlock?

"Bahan gas mengalir dari lubang kecil atmosfer Matahari. Tidak tertibnya geomagnetik bisa memicu aurora kutub. Aurora di Utara disebut aurora borealis, sedangkan di Selatan adalah aurora australis, yang disebabkan partikel Matahari menghantam atmosfer Bumi," ujar Space Weather.

Ketika megnetosfer dibombardir oleh angin Matahari, cahaya biru yang menakjubkan bisa muncul. Tapi, fenomena ini juga memiliki konsekuensi di mana badai matahari dan cuaca antariksa bisa melebihi cahaya utara dan selatan.

Medan magnet Bumi memang bisa melindungi manusia dari radiasi yang asalnya dari bintik Matahari, namun badai ini ternyata bisa berpengaruh pada satelit, berpotensi mengurangi keakuratan GPS, sinyal ponsel dan TV satelit.

Arus tinggi juga bisa terjadi pada magnetosfer, bisa mengakibatkan trafo listrik, ledakan pembangkit listrik sampai pada pemadaman. Badai Matahari yang melumpuhkan teknologi pernah terjadi pada 1859 di seluruh Eropa, dikenal dengan peristiwa Carrington Event.

Ada juga laporan mengenai beberapa bangunan terbakar akibat listrik. Sebuah studi mengungkapkan, fenomena ini seharusnya terjadi sekitar 25 tahun sekali dan sekarang sudah melewati periode tersebut.

"Badai super ini jarang terjadi tetapi, memperkirakan kedatangannya adalah bagian dari mitigasi yang diperlukan. Penelitian ini mengusulkan metode baru, guna mendapat gambaran tentang kemungkinan terjadinya badai super dan aktivitasnya di masa depan," ujar penulis utama studi, Sandra Chapman.