Siap-siap, Warga di Asia Harus Rogok Kocek Rp 114 Kuadriliun hanya untuk Makanan pada 2030

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Konsumen Asia diprediksi harus melipatgandakan pengeluaran mereka untuk makanan pada tahun 2030 mendatang.

Hal itu diungkapkan dalam laporan yang dibuat PricewaterhouseCoopers (PwC), Rabobank dan Temasek, Asia berjuluk Food Challenge Report 2021.

Dalam laporan menyebutkan jika pengeluaran makanan di kawasan Asia akan mencapai lebih dari USD 8 triliun (sekitar Rp 114 kuadriliun) pada awal dekade berikutnya – naik dari USD 4 triliun pada tahun 2019 – menjadi pasar makanan dan minuman terbesar di dunia, seperti dikutip dari CNBC, Rabu (22/9/2021).

Sebagian besar dari permintaan itu akan datang dari perubahan kebiasaan konsumen di kawasan yang semakin sadar tentang kesehatan dan pengetahun digital, tetapi juga dari populasinya yang berkembang pesat.

Pada tahun 2030 mendatang, Asia diperkirakan menjadi rumah bagi 4,5 miliar orang dan 65 persen kelas menengah dunia.

"Orang-orang menginginkan makanan yang lebih sehat, mereka menginginkan makanan yang lebih aman, mereka ingin membeli secara online, mereka menginginkan makanan yang berkelanjutan," kata Anuj Maheshwari, direktur pelaksana agribisnis Temasek, kepada 'Squawk Box Asia' CNBC.

India dan Asia Tenggara disebut akan menyumbang kenaikan terbesar dalam pengeluaran, yang naik pada tingkat tahunan gabungan masing-masing 5,3 persen dan 4,7 persen.

Sementara China, bagaimanapun, akan tetap menjadi pasar terbesar secara keseluruhan.

Temuan laporan PwC, Rabobank dan Temasek ini didasarkan pada survei terhadap 3.600 konsumen di 12 negara Asia-Pasifik, serta percakapan dengan eksekutif senior di sektor makanan.

Laporan ini juga mencakup analisis lebih dari 3.000 perusahaan makanan dan minuman yang diperdagangkan secara publik di kawasan tersebut.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Peluang Investasi

Dua wanita berjalan di antara kios di pasar Namdaemun di Seoul (2/7/2019). Pasar Namdaemun atau Namdaemun Sijang adalah pasar yang terletak di Seoul, Korea Selatan. Pasar ini terletak di sebelah timur Gerbang Besar Selatan (Sungnyemun) yang bersejarah dengan luas 40.000 m². (AFP Photo/Minji Suh)
Dua wanita berjalan di antara kios di pasar Namdaemun di Seoul (2/7/2019). Pasar Namdaemun atau Namdaemun Sijang adalah pasar yang terletak di Seoul, Korea Selatan. Pasar ini terletak di sebelah timur Gerbang Besar Selatan (Sungnyemun) yang bersejarah dengan luas 40.000 m². (AFP Photo/Minji Suh)

Peningkatan yang cepat memberi tekanan pada ekosistem makanan yang sudah rapuh, yang telah berada di bawah tekanan besar sejak pecahnya pandemi COVID-19.

Menurut PwC, Rabobank dan Temasek, dibutuhkan investasi sebesar USD 1,55 triliun pada tahun 2030 di seluruh rantai nilai untuk memenuhi permintaan pangan yang membengkak di Asia - ini juga menandai peningkatan USD 750 miliar dari USD 800 miliar investasi hulu (atau awal) yang semula diperkirakan dalam laporan perdana mereka pada 2019.

Hal itu juga menghadirkan peluang komersial yang signifikan bagi investor, kata Maheshwari, dan menyebutnya sebagai "area besar di Asia".

Secara khusus, laporan oleh PwC, Rabobank dan Temasek menyoroti enam "tren kritis," termasuk diet sehat, produk segar, sumber makanan yang aman dan dapat dilacak, konsumsi berkelanjutan, protein alternatif, dan pembelian online.

"Tren-tren inilah yang perlu menjadi fokus agribisnis dan memastikan konsumen bisa mendapatkan jenis makanan ini selain jumlah yang kita butuhkan di tempat-tempat seperti Asia," kata Maheshwari.

Investasi teknologi pertanian di Asia juga tumbuh secara substansial sejak 2014 - naik 377persen menjadi USD 30,5 miliar, menurut AgFunder.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel