Siapa Pengibar Bendera Merah Putih Pertama Kali?

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah diminta meluruskan sejarah bangsa Indonesia. Hal tersebut menyusul kesimpangsiuran sejarah tentang siapa sebenarnya orang yang mengibarkan sang saka merah putih pada detik-detik Proklamasi 1945 silam.

"Kesimpangan sejarah ini harus segera diluruskan dan kami minta untuk mengundang ahli-ahli sejarah untuk segera memverifikasi dan melacak kebenaran sejarah itu," ujar Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (24/8/2011).

Seperti diketahui sebelumnya, seseorang bernama Ilyas Karim mengaku adalah pria yang mengibarkan bendera merah putih untuk pertama kali pada hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pengakuan itu kemudian menimbulkan polemik, bahwa menurut catatan yang sebenarnya bukanlah Ilyas Karim sang pengibar bendera melainkan Suhud.

Terkait dengan hal itu Priyo menambahkan kebenaran sejarah itu tidak boleh dilebih-lebihkan sehingga untuk mengungkap siapakah nama dan tokoh yang sebenarnya itu sangatlah penting. Hal lain, lanjut Priyo kenapa harus diluruskan karena menyangkut kepentingan bangsa ke depan.

"Kan sejarah tak mungkin dipoles, jangan diada-adakan dan tak mungkin ditiadakan. Kesimpangsiuran itu harus segera diluruskan karena ini menyangkut kebenaran sejarah yang akan dibaca ratusan tahun ke depan,"jelasnya.

Meski Priyo tidak tahu pasti soal pernyataan Ilyas Karim yang mengaku sebagai pengibar sang saka, tapi bagi dia harus segera diluruskan agar segera diketahui tentang kebenarannya.

"Saya sendiri tak tahu persis atas pernyataan dari Pak Ilyas. Kalaupun dia di sana, maka segera dilakukan tindakan-tindakan dan memberikan penghormatan selayaknya terhadap yang bersangkutan. Saya harap pemerintah segera mengambil langkah-langkah apalagi masih ada saksi-saksi yang masih hidup," jelasnya.

Bagi Priyo nama-nama dan tokoh-tokoh yang telah berjasa di detik-detik kemerdekaan, namanya tak bisa dilupakan.

"Apalagi nama-nama yang seperti para pengibar bendera merupakan orang-orang penting dan namanya berada dalam hati," pungkasnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.