Siapkan IPO, GoTo Prioritaskan Investasi Perlindungan Data Pribadi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - GoTo Group, hasil merger antara PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) dan Tokopedia berencana mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, hingga saat ini belum ada titik terang kapan gelaran IPO tersebut dilaksanakan. Dalam rangka mempersiapkan GoTo untuk melantai di Bursa, CEO Gojek, Kevin Aluwi menyebutkan perlindungan data konsumen menjadi hal yang penting untuk diperhatikan.

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab keraguan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi VI terhadap perlindungan data konsumen oleh perusahaan e-commerce. Mengingat hal tersebut sempat menimpa Tokopedia pada pertengahan tahun lalu.

"Kepentingan untuk perlindungan data pribadi itu luar biasa. Dan investasi kami di Gojek juga sangat besar untuk ciptakan infrastruktur, bagaimana data pribadi itu bisa terlindungi," kata dia dalam RDPU Komisi VI dengan CEO e-commerce, Rabu (15/9/2021).

"Ini prioritas. Apalagi suatu saat kami akan melantai di Bursa,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, CEO Tokopedia, William Tanuwijaya menuturkan, perbedaan yang tegas antara serangan cyber dan kejahatan jual beli data. Adapun yang dialami Tokopedia, adalah kejahatan cyber. Data perusahaan diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. William menilai perbedaan keduanya perlu ditegaskan agar tak menimbulkan salah paham di masyarakat.

"Kebanyakan yang terjadi adalah kejahatan cyber, tapi masyarakat awam mengira perusahaan atau platform tidak melindungi data mereka,” kata William.

William menambahkan, serangan siber memang acap menimpa perusahaan teknologi, bahkan kelas dunia sekalipun. Di beberapa negara, untuk kasus seperti ini, maka yang diburu adalah peretas atau pelaku serangan siber.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Langkah Perseroan

Gojek dan Tokopedia bentuk GoTo, grup teknologi terbesar di Indonesia.
Gojek dan Tokopedia bentuk GoTo, grup teknologi terbesar di Indonesia.

Sementara di Indonesia, kata Wiliam, belum ada regulasi yang menaungi persoalan tersebut. Untuk itu, saat Tokopedia mengalami serangan siber, perusahaan melakukan best practice dengan mengikuti kebijakan yang telah berlaku di banyak negara.

"Kami lakukan best practice karena belum ada undang-undangnya di Indonesia. Kami mengikuti best practice dunia," kata dia.

Adapun upaya yang ditempuh saat itu. Pertama, transparansi. Tokopedia menyampaikan data apa saja yang bocor, sekaligus menyampaikan langkah apa yang akan dilakukan perusahaan. William mengatakan hal itu diinformasikan secara rutin.

"Ini perlu dipahami dan bisa dibuat regulasi. Sehingga ke depannya penjahat tidak berani lakukan hal itu (peretasan)," ujar dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel