Siasat Amerika Dapatkan S-400 Buatan Rusia dari Tangan Turki

Rifki Arsilan
·Bacaan 3 menit

VIVA – Amerika Serikat (AS) sampai hari ini masih tetap ngebet ingin mendapatkan sistem peluncur rudal teranyar buatan Rusia S-400 Triumph. Demi ingin mendapatkan mimpinya itu, Amerika sudah mempersiapkan sejumlah strategi yang akan digunakan untuk menyandera Turki agar Erdogan bersedia menjual S-400 Triumph yang dibelinya dari Rusia awal tahun ini kepada Amerika Serikat (AS).

Strategi pertama yang dilakukan oleh AS adalah melakukan amandemen Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional 2021 sebagai pintu masuk untuk membeli perlengkapan melalui anggaran pengadaan Angkatan Darat AS. Dalam amandemen regulasi pengadaan senjata dengan dalih untuk memperkuat Angkatan Darat AS itu, salah satu Senator AS John Thune mengusulkan agar Amerika Serikat (AS) dapat membeli S-400 buatan Rusia itu dari Turki.

Rencana itu pun sempat disikapi keras oleh Rusia. Juru bicara Federal Rusia untuk kerja sama teknis militer, Maria Vorobyova mengatakan, Turki tidak dapat menjual kembali S-400 yang dia dapatkan dari Rusia kepada Amerika Serikat (AS), kecuali dengan persetujuan dari Moskow, Rusia. Karena Turki terikat dengan klausul perjanjian jual beli senjata dengan Rusia yang mana didalamnya tidak memperbolehkan Turki menjual senjata yang diperolehnya dari Rusia kepada tangan orang lain, termasuk Amerika.

VIVA Militer: Rudal jarak jauh Rusia, S-400
VIVA Militer: Rudal jarak jauh Rusia, S-400

Amerika pun tak bergeming dengan larangan Rusia tersebut. Amerika masih mempunyai senjata baru untuk memaksa Turki menjual S-400 buatan Rusia itu kepada AS dengan Undang-Undang Penentang Lawan Amerika melalui Sanksi (CAATSA). Karena dalam undang-undang tersebut seluruh negara yang membeli senjata pertahanan dari Amerika Serikat dan sekutunya, dilarang membeli senjata dari Rusia.

Siasat baru Amerika saat ini adalah memberikan sanksi CAATSA dengan cara mengancam Turki dari program jet tempur F-35 buatan AS. Karena Turki sebelumnya telah merencanakan membeli pesawat siluman F-35 buatan AS hingga 100 unit.

Menteri Pertahanan Mark Esper mengumumkan pengusiran Turki dari program F-35. Partisipasi Turki dalam program ini mencakup pelatihan pilot Turki dan produksi bagian-bagian badan pesawat dan pendaratan — beberapa di antaranya diproduksi secara eksklusif di Turki.

"Sejak Turki dikeluarkan dari program tersebut, produksi F-35 telah melambat, karena pabrik-pabrik Amerika telah berjuang untuk menebus kehilangan kapasitas produksi," Dikutip VIVA Militer dari National Interest, Senin, 6 Juli 2020.

Rusia persiapkan rudal hypersonic
Rusia persiapkan rudal hypersonic

Pengamat pertahanan dan Keamanan AS dan Rusia, Caleb Larson mengungkapkan, kekhawatiran terbesar dari AS dan sekutunya, NATO dalam me-reject Turki dari Program F-35 AS adalah Turki memberikan data yang menguntungkan bagi Rusia tentang karakterstik pesawat siluman F-35 buatan AS. Sehingga AS dan NATO takut radar S-400 Triumph buatan Rusia dapat melacak jet tempur F-35 yang merupakan pesawat tempur terbaru NATO.

Dengan demikian, Larson menjelaskan, AS dan NATO sangat berkepentingan untuk mendapatkan S-400 buatan Rusia dari tangan Turki. "Jika Amerika Serikat mampu membeli sistem pertahanan rudal S-400, kemampuannya dapat lebih dipahami dan dieksploitasi untuk melindungi pesawat tempur siluman F-35 dan F-22 dari radar Rusia," kata Caleb Larson.

Meskipun Senator Thune menetapkan jalur hukum untuk memperoleh S-400, masih harus dilihat apakah semua pihak akan menandatangani untuk kesepakatan tersebut - terutama Turki. Telah sepenuhnya menyadari risiko dan melanjutkan sistem pertahanan udara, tampaknya tidak mungkin bahwa Turki akan menyetujui tawaran Amerika sekarang.

Saat ini bola panas ada di tangan Erdogan. Apakah Erdogan dapat meyakini AS dan NATO untuk tetap dilibatkan dalam program F-35 untuk memenuhi kemampuan pertahanan dalam negeri Turki tanpa memberikan S-400 Triumph buatan Rusia kepada AS. atau, Turki membatalkan rencana pembelian pesawat F-35 dari Amerika dengan memiliki S-400 Triumph yang memiliki kemampuan dalam menarget sasaran dengan jarak maksimal 600 km atau sekitar 375 mil itu.

Baca : Rusia 'Haramkan' Turki Jual Peluncur Rudal S-400 ke Amerika Serikat