Siasat milenial hadapi krisis pangan

Ekonomi global yang diharapkan memajukan peradaban dunia tiba-tiba mandeg karena pandemi COVID-19. Banyak negara di dunia jatuh bangun. Beruntung, Indonesia mampu bertahan mengayuh di antara dua kepentingan yakni ekonomi dan kesehatan.

COVID-19 justru mempercepat transformasi Indonesia ke era digital. Kini, Indonesia menghadapi tantangan baru yang juga ditakuti banyak negara. Konflik Rusia-Ukraina serta bangkrutnya Sri Lanka membayangi dunia akan krisis pangan di depan mata.

Terhentinya pasokan pupuk dan gandum dunia akibat konflik Rusia-Ukraina dan krisis pangan di Sri Lanka itu menunjukkan sistem pangan dunia yang rentan.

Krisis global membuktikan sistem pangan dunia yang global, saling berhubungan, dan saling bergantung membuat setiap negara rentan terganggu pasokan pangan.

Gangguan pasokan energi dan rantai pasok input dan output pertanian mengancam ketersediaan pangan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Pada diskusi terbatas penulis bersama civitas akademis Australia asal Indonesia, pekan lalu, Prof Budiman Minasny, Guru Besar Ilmu Tanah the University of Sydney, Australia, mengajak semua pihak bertransformasi.

Sistem ekonomi dan sistem pangan yang rentan harus diperkuat menjadi lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan.

Menurut Budiman, kunci transformasi semua bangsa berada pada pertanian digital. Generasi milenial sebagai penerus bangsa yang hidup di era teknologi harus diberi kesempatan memberi solusi.

Krisis global memang telah membuat generasi milenial berpikir tentang cara mengubah sistem pertanian yang terlalu bergantung pada pasokan energi dari sumber dan jumlah yang terbatas.

Sebut saja, ketersediaan lahan yang terbatas sehingga peningkatan produksi pertanian dan perikanan harus fokus pada intensifikasi berkelanjutan.

Menurut Jeremy Aditya Prananto, alumnus the University of Sydney, yang juga petani dan peternak generasi milenial di Jabodetabek, terdapat tiga prinsip teknologi disrupsi milenial (millenial disruptions) yang perlu diterapkan untuk menciptakan pertanian dan perikanan global yang tangguh. Prinsip tersebut adalah distributed system, circular economy, dan digital technology.


Distributed system

Prinsip distributed system merupakan prinsip penyelesaian masalah pada teknologi komputer. Ketika peneliti di bidang komputer dihadapkan pada satu masalah besar, maka langkah pertama untuk menyelesaikan masalah adalah dengan memecah masalah menjadi komponen-komponen kecil. Penyelesaian masalah disebar di berbagai perangkat komputasi.

Dengan pembagian tugas tersebut, masalah besar dapat dipecahkan secara lebih efisien daripada mengandalkan satu perangkat superkomputer.

Dengan prinsip sama, maka persoalan pertanian global yang berbasis pertanian industri harus didistribusikan menjadi pertanian-pertanian lokal yang dapat diandalkan sebagai alternatif.

Pertanian lokal dapat memproduksi makanan sehat dan bergizi yang tahan terhadap krisis dan gangguan internasional.

Indonesia perlu menguatkan proses transisi dari produksi pangan global ke produksi pangan lokal yang tumbuh di atas tanah yang sehat.

Sistem pangan saat ini bergantung pada sistem pertanian industrial yang mampu berproduksi dalam kuantitas tinggi. Namun, hasil tersebut cenderung menghasilkan komoditas seragam dengan sistem pertanian monokultur yang melemahkan keragaman jenis pangan.

Padahal, penelitian telah menunjukkan konsumsi jenis pangan beragam dapat meningkatkan kesehatan hewan dan manusia.

Sistem produksi pangan lokal dan beragam yang dikelola secara ekologis bermanfaat bagi lingkungan, sosial, dan kesehatan manusia.

Sistem tersebut menghormati prinsip yang disebut agroekologi yang memiliki dua ciri yakni 1) pertanian lokal yang mengacu pada produk pertanian yang ditanam, diproses, dan dijual secara lokal atau nasional dan 2) sistem pertanian beragam dan ramah lingkungan yang mempromosikan produk unggulan lokal yang beragam.

Pertanian lokal yang beragam membuka peluang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan petani-petani milenial yang tersebar di berbagai daerah.

Petani milenial lokal dapat menghasilkan produk pertanian lokal di lahan sempit yang diproduksi dengan memperhatikan lingkungan dan tanah yang dikombinasikan dengan perikanan lahan sempit.

Budi daya ikan tawar seperti nila, lele, dan gurami kini dapat dilakukan di lahan terbatas. Teknologi bioflok mengubah cara budi daya ikan yang semula membutuhkan lahan luas menjadi cukup di lahan sempit.

Produksi per area dengan teknologi bioflok lebih besar dari metode konvensional sehingga mengurangi pembukaan lahan yang dibutuhkan.

Menurut Budiman, pertanian industrial kurang memperhatikan kesehatan tanah sehingga bahan organik tanah terkuras habis karena fokus produksi adalah kuantitas (bukan kualitas) pangan.

Sebut saja, fokus menghasilkan pangan dengan karbohidrat dan gula tinggi, sehingga cenderung menyebabkan isu-isu kesehatan seperti penyakit kronik dan obesitas.

Tanah sehat adalah tanah yang kaya bahan organik yang menjadi kunci untuk menghasilkan tanaman sehat dan makanan bergizi.


Circular economy

Prinsip ekonomi sirkular (circular economy) merupakan suatu model produksi dan konsumsi berdasarkan prinsip penggunaan kembali, memperbaiki, memperbarui, dan mendaur ulang bahan dari produk yang ada.

Pertanian lokal yang berkelanjutan harus meminimalkan konsumsi energi, limbah, dan emisi gas rumah kaca. Pertanian sistem ekonomi sirkular berarti mendaur ulang semua komponen dalam sistem pertanian.

Bentuknya seperti mengembalikan sisa tanaman ke dalam tanah. Demikian pula, rotasi tanaman, yang bukan melulu monokultur, tetapi juga menanam tanaman legum untuk menambah nitrogen.

Pada pertanian lokal, hara tanaman sedapat mungkin ditutupi dari pupuk organik yang dihasilkan secara lokal, sehingga ketergantungan terhadap pupuk impor minimal.

Salah satu strateginya dengan memanfaatkan limbah organik, yang melalui proses kompos dan penguraian dapat menjadi pupuk organik.

Demikian pula, integrasi pertanian dan peternakan melengkapi sinergi ekonomi sirkular. Bagian tanaman bisa dijadikan pakan bagi hewan.

Sebaliknya, kotoran hewan dapat dikomposkan menjadi bahan organik yang menopang kehidupan beragam jenis tanaman untuk manusia termasuk pakan untuk hewan.

Proses ini juga dapat dijalankan dalam teknologi pertanian. Menurut Jeremy, di Australia sistem aquaponic sangat popular menjadi hidroponik yang digabungkan dengan perikanan.

Sistem tersebut membesarkan ikan dalam tangki dan air dari tangki ikan disirkulasikan ke bedengan tanaman, sehingga tanaman dapat menyerap nutrisi dari kotoran ikan. Proses sirkulasi air tersebut juga memfilter air, yang dikembalikan ke tangki ikan.

Ekonomi sirkular dapat membangun ekonomi lokal yang menguntungkan bisnis, masyarakat, dan lingkungan. Pertanian berbasis ekonomi sirkular tidak mengharamkan pupuk anorganik, tetapi sedapat mungkin menggunakan pupuk anorganik tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat jenis yang ditopang pupuk organik.


Digital technology

Teknologi digital dapat membantu memasarkan pertanian UMKM melalui jalur online. Pada dekade lalu, pemasaran produk lokal merupakan hambatan terbesar.

Di era digital, para petani lokal dapat memasarkan lewat online melintasi ruang dan waktu. Pada tahapan lebih lanjut, pertanian digital meningkatkan transparansi sistem produksi pangan.

Sumber produk pertanian dan cara penggunaan sumber daya untuk memproduksi dapat ditelusuri.

Teknologi blockchain berupa mekanisme basis data lanjutan yang memungkinkan berbagi informasi secara transparan dalam jaringan bisnis dan non-fungible token (NFT) dapat memberikan sertifikasi, yang menjamin produk pertanian ramah lingkungan dan ramah kesehatan manusia, serta menyediakan penelusuran jejak-jejak produk-produk pertanian.

Blockchain dan NFT juga menciptakan inklusi ekonomi dan transparansi untuk petani dan penggunanya, sehingga distribusi pangan menjadi lebih efisien.

Namun, untuk mendorong tiga prinsip tersebut, perlu dukungan kebijakan agar transformasi berjalan. Diperlukan kebijakan yang mendorong ketahanan pangan, skema pemasaran komunitas, dan teknologi pertanian digital.

Hal krusial lainnya adalah tersedianya platform online yang transparan sehingga petani UMKM dapat memasarkan produknya dan para konsumen mendapat jaminan kualitas.

Hal ini bukan berarti Indonesia menutup diri dari pertanian global, tetapi Indonesia harus meningkatkan beragam alternatif pangan untuk mengurangi dampak shock dari krisis global.

Krisis di Sri Lanka mulai terjadi tahun yang lalu saat pemerintah secara gegabah menghentikan total impor pupuk anorganik untuk menerapkan pertanian organik murni di seluruh wilayah.

Padahal, pertanian organik sangat spesifik lokasi. Pertanian organik murni hanya cocok pada tanah-tanah subur yang selalu mengalami peremajaan nutrisi tanah alami secara rutin seperti di daerah yang terkena abu vulkanik.

Dampak penghentian impor total pupuk anorganik untuk seluruh wilayah Sri Lanka menyebabkan kekurangan pupuk terjadi menyeluruh yang membuat produksi merosot dan kekurangan pangan.

Indonesia harus belajar dari krisis Sri Lanka. Pertanian organik sangat spesifik lokasi, yang tak bisa diterapkan secara meluas di seluruh negeri.

Indonesia harus menciptakan transisi sistem pertanian lokal spesifik lokasi, terdistribusi, serta memanfaatkan ekonomi sirkular dan teknologi digital.

Dengan cara ini, pertanian dapat fokus meningkatkan produksi dan efisiensi intensifikasi dari lahan yang sudah ada tanpa tergesa-gesa membuka lahan baru.

Ke depan, ancaman krisis global baru pasti akan datang dan sistem pangan Indonesia dapat lebih tangguh.


Destika Cahyana, SP, M.Sc
*Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)


​​​​​​​

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel