Siasati masa sulit COVID-19, ASDP potong investasi Rp500 miliar

Budi Suyanto

PT ASDP Indonesia Ferry harus memotong anggaran investasi sebesar Rp500 miliar atau 30 persen dari Rp1,4 triliun menjadi Rp900 miliar pada tahun 2020 demi bertahan di masa sulit akibat pandemi COVID-19.

“Investasi kita potong 30 persen, dari Rp1,4 triliun menjadi Rp900 miliar,” kata Direktur ASDP Ira Puspadewi dalam diskusi virtual di Jakarta, Kamis.

Investasi yang ditunda, dia menuturkan, yakni investasi yang tidak menyumbang kepada pendapatan langsung, namun pihaknya tidak mengurangi investasi untuk aspek keselamatan.

Baca juga: ASDP siapkan skenario terburuk rugi Rp478 miliar akibat COVID-19

“Investasi yang tidak potong adalah soal ‘safety’ (keselamatan) dan hal-hal sifatnya mandatori atau peraturan, yang juga program besar kita, seperti Labuan Bajo, ada beberapa hal program nasional untuk mendatangkan tamu internasional 2020, Padang Bai akan kita 'touch up' lagi. Yang lain potong,”

Ira menjelaskan upaya tersebut merupakan suatu upaya agar perusahaan masih bisa bertahan di masa sulit akibat COVID-19 di mana terjadi penurunan volume baik penumpang maupun logistik.

“Semuanya turun dalam, penumpang turun, logistik turun, karena manufaktur juga turun. Tapi kita bisa kategorikan lancar,” Ira.

Berdasarkan data ASDP, terjadi penurunan volume angkutan barang (R4) barang sebesar delapan persen dari 853.130 unit di 2019 menjadi 783.545 unit di 2020, penumpang dengan kendaraan pribadi (R4) sebesar 44 persen dari 395.101 unit pada 2019 menjadi 220.004 pada 2020, kemudian penumpang turun sebesar 39 persen dari 7,3 juta penumpang pada 2019 menjadi 4,4 juta penumpang pada 2020, total kendaraan turun 27 persen dari 1,8 juta unit pada 2019 menjadi 1,3 juta juta unit pada 2020.

Baca juga: ASDP hanya jual tiket "go show" bagi penumpang, antisipasi COVID-19

“Dari segi bisnis logistik turun juga, lainnya turunnya jauh, tetapi kami sudah ada hitungan. Saya kira begini lebih penting buat kita jaga keentingan nasional, terjaga kesehatannya dibandingin bicara angka. Kesehatan perusahaan masih bisa jaga di mana ada beberapa perusahaan kesulitan sekali Alhamduillah kami tidak, tapi bukan berarti kami leha-leha, kami juga lakukan efisiensi,” katanya.

Ira menambahkan efisiensi tersebut di antaranya hal-hal yang bersifat operasional dan estetis, seperti penghematan penggunaan BBM dan perawatan yang bersifat keindahan.

“Untuk perawatan yang sifatnya kosmetis, bukan fungsional, kemudian hal-hal kecil seperti langganan majalan secara fisik, kita sudah enggak lagi,” katanya.