Siberkreasi: Generasi muda perlu panduan literasi keamanan digital

·Bacaan 2 menit

Dewan Pengarah Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Novi Kurnia mengatakan bahwa generasi muda memerlukan panduan literasi keamanan digital guna mengoptimalkan internet sebagai sarana belajar dan berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus menghindari perundungan siber.

"Literasi keamanan digital ini dibutuhkan generasi muda agar menjadi warga digital yang bijak dan bertanggungjawab. Dengan memahami ruang digital dan bagaimana beraktivitas secara aman di ruang ini, anak dan remaja bisa lebih siap dalam menghadapi tantangan dunia digital baik dalam belajar di sekolah maupun berinteraksi di masyarakat," kata Novi Kurnia dalam webinar, Selasa.

"Selain orang tua, peran guru atau pengajar sebagai pembimbing anak dan remaja di sekolah sangat penting untuk membantu mereka meningkatkan kecakapan dalam aman bermedia digital," kata dia yang juga menjadi Koordinator Nasional Koordinator Nasional Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi).

Baca juga: Siberkreasi: Perpustakaan mampu cegah hoaks dan plagiarisme

Baca juga: Perpustakaan digital yang mudah diakses dapat menjaga minat baca


Berdasarkan hasil survei dari "Neurosensum Indonesia Consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids", sebanyak lebih dari 80 persen anak-anak di Indonesia sudah terpapar dengan media sosial dan platform digital lainnya sejak usia dini.

Hal itu membuat anak dan remaja menjadi lebih rentan terhadap risiko keamanan digital, termasuk mengenai privasi, keamanan, hingga perundungan siber.

Untuk itu, Kominfo bersama platform distribusi video meluncurkan "Buku Panduan Keamanan Digital untuk Pengajar". Buku itu menyediakan tiga topik berbeda terkait keamanan di dunia maya, termasuk privasi dan keamanan, perundungan dan ujaran kebencian, serta kesejahteraan digital.

Setiap topik akan menyediakan rangkuman, panduan diskusi dan ide untuk aktivitas, yang dapat dengan mudah diadaptasi oleh guru sesuai dengan gaya mengajar dan kebutuhan anak didiknya.

Kehadiran buku panduan ini diapresiasi oleh pengajar yang diwakili oleh Ira Mirawati, seorang pengajar yang juga menjalankan platform sobatmu.com, sebuah wadah konsultasi untuk berbagai permasalahan yang dihadapi remaja.

"Pengajar, sebagai orang dewasa yang menghabiskan banyak waktu dengan anak didiknya, perlu memberikan ruang yang nyaman bagi mereka untuk mau mendiskusikan dan belajar memahami bahwa keamanan privasi dan jejak digital ada di tangan mereka. Hadirnya Buku Panduan ini tentu akan sangat membantu para pengajar untuk memahami cara mengangkat topik-topik sensitif ini, tanpa membuat para anak didiknya merasa canggung dan menutup diri," kata Ira.

Buku panduan ini tersedia di situs web http://literasidigital.id/books/buku-panduan-keamanan-digital-untuk-pengajar-tiktok/ yang dikelola oleh Siberkreasi yang dapat diakses oleh siapa pun, termasuk para pengajar yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai hari ini bertepatan dengan Hari Guru Sedunia.

Sebelumnya, TikTok juga telah meluncurkan Buku Panduan Keamanan Digital Untuk Orang Tua dan Wali.

"Ini komitmen TikTok untuk memberikan panduan kepada orang-orang di sekitar remaja yang menggunakan internet. Harapannya adalah agar anak-anak remaja ini memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan digitalnya dan menjadi warga digital yang bijak," ungkap Faris Mufid selaku Public Policy Government Relations TikTok.

Baca juga: TikTok ajak kreator Asia Tenggara cerita di "From Meanies to Goodies"

Baca juga: Pengguna media sosial diharap bisa terapkan empati saat berkomentar

Baca juga: Akses internet tantangan terbesar capai target literasi digital

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel