Sidang Suap Proyek di Musi Banyuasin, Anak Buah Pastikan Fee Diberikan ke Dodi Reza

Merdeka.com - Merdeka.com - Sidang perkara dugaan suap proyek di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kembali dilanjutkan di Pengadilan Tipikor pada PN Palembang, Senin (5/6). Saksi mahkota yang dihadirkan memberatkan Bupati nonaktif Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex.

Selain Dodi, dua terdakwa lain dihadirkan dalam persidangan kali ini, yakni mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Musi Banyuasin, Herman Mayori, dan Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Musi Banyuasin Eddy Umari.
Para terdakwa dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberikan keterangan sebagai saksi mahkota.

Dalam sidang, terdakwa Dodi semakin terpojok setelah terdakwa lain memastikan dirinya menerima suap dari kontraktor. Terdakwa Eddy Umar menyebut kontraktor Suhandy yang kini berstatus terpidana sudah mendapatkan proyek di kabupaten itu sejak 2019.

Komitmen Fee untuk Menang Tender

Pengusulan nama Suhandy selaku Direktur PT Selaras Simpati Nusantara untuk memenangkan tender proyek bukan semata-mata inisiatifnya, melainkan atas permintaan pimpinannya, Herman Mayori. Hal ini lantaran Suhandy berkomitmen memberikan fee 10 persen kepada Dodi Reza Alex, 3 persen untuk Kadis PUPR, 2 persen untuk PPK, dan 1 persen jatah PPTK.

"Suhandy sudah sejak 2019 dapat proyek, dia mau memberikan fee sesuai kesepakatan," ungkap terdakwa Umari di Pengadilan Tipikor Palembang, Senin (6/6).

Selain konsisten dengan fee, Suhandy juga memberikan pinjaman uang kepada Dinas PUPR Musi Banyuasin sehingga pada tahun-tahun berikutnya ia kembali dimenangkan dalam lelang proyek. Pada 2020, Suhandy lebih dulu menyetor Rp2,6 miliar ke Dinas PUPR sehingga menjadi modal bagi terdakwa Herman Mayori menawarkan nama Suhandy ke Dodi Reza Alex pada saat lelang proyek 2021 dibuka.

Fee Diberi Bertahap

Setelah disetujui Dodi Reza, kata Eddy Umari, Suhandy memberikan fee kepada Dodi Reza Alex sebesar Rp2,6 miliar, Herman Mayori Rp1,08 miliar, dan kepada Eddy Umari Rp727 juta.

"Uang fee itu diberikan Suhandy secara bertahap," ujarnya.

Diketahui, JPU KPK mendakwa Dodi Reza Alex dengan pasal berlapis, yakni Pasal 12 huruf a Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 11 UU Tipikor.

Dalam materi dakwaan, JPU menyebut terdakwa Dodi menerima suap sebesar Rp2,6 miliar dari Direktur PT Selaras Simpati Nusantara Suhandy untuk pengerjaan proyek di Musi Banyuasin tahun anggaran 2021. Pemberian uang itu dimaksudkan untuk mendapatkan paket proyek di Dinas PUPR Musi Banyuasin. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel