Sikap AHY Hadapi Konflik Internal Demokrat Dinilai Cengeng

Syahrul Ansyari
·Bacaan 2 menit

VIVA - Mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat, Tridianto, menilai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tidak dewasa dalam menghadapi konflik internal partainya. Sebab, sejak awal, ia sudah menyampaikan persoalan itu kepada publik.

Padahal, menurutnya, masalah gerakan pengambilalihan kepemimpinan atau kudeta yang terjadi di partainya adalah masalah internal Partai Demokrat. Bukan masalah rakyat.

Terlebih saat ini, bangsa Indonesia tengah menghadapi pandemi COVID-19. Di mana, rakyat kesulitan baik di bidang kesehatan maupun ekonomi.

"Kata banyak orang yang saya dengarkan bilangnya itu cengeng. Saya juga setuju kalau itu cengeng. Dikit-dikit curhat, biar dapat simpati rakyat. Jurus lama SBY itu," kata Tridianto saat berbincang dengan VIVA, Selasa, 9 Maret 2021.

Baca juga: Mantan Kader: Demokrat Kisruh karena Partai Dijadikan Milik Keluarga

Tri menilai masalah kudeta di Partai Demokrat itu juga tidak lepas dari karma di masa lalu. Seperti yang diketahui, SBY yang ketika itu masih menjabat sebagai presiden, pernah menjatuhkan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat lewat suatu Kongres Luar Biasa di Bali.

"Dulu Mas AU (Anas Urbaningrum) pernah bilang karma tidak pernah salah alamat. Saya percaya ini karma yang jalan-jalan cari alamat dan ketemu di Cikeas," kata Tri.

Tri menuturkan dulu, Anas berkali-kali mau dijatuhkan. Malah pernah dikudeta oleh SBY pada 8 Pebruari 2013.

"Wewenang sebagai ketum diambil alih oleh majelis tinggi. Itu kan melanggar AD/ART. Ya itu namanya kalau politik kudeta," ujarnya.

Dia pun setuju dengan apa yang dibilang Jhoni Allen bahwa SBY dulu mengkudeta Anas Urbaningrum. "Ya itu tadi. Karma yang datang," tegasnya.

Sebelumnya, jauh hari sebelum KLB Partai Demokrat digelar, AHY secara tiba-tiba menyampaikan adanya gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat ke masyarakat melalui konferensi pers terbuka. Dia pun melayangkan surat protes kepada Presiden Jokowi karena menduga adanya pejabat di lingkaran Istana yang ikut bermain.

Setelah KLB terlaksana, ia kemudian melanjutkan perlawanan dengan menyambangi kantor Kemenkumham, dan juga KPU.

Sang ayah, SBY, yang juga Ketua Dewan Pembina, dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat turut menyampaikan sejumlah pernyataan yang mengecam langkah-langkah pihak yang ingin mengkudeta AHY. Dia juga mengaku menyesal pernah memberi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, yang terpilih sebagai ketua umum dalam KLB, jabatan.