Sikat Gigi Wajib Diganti Secara Teratur, Ini Alasannya

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Sama seperti spons cuci piring atau pisau cukur, sikat gigi juga perlu diganti secara teratur. Menurut American Dental Association (ADA), umumnya sikat gigi harus diganti setiap tiga atau empat bulan sekali. Namun, bisa juga lebih cepat jika bulunya terlihat mulai mekar.

Selain karena ketidaknyamanan, Timothy Lafolla, kepala Analisis Program dan Cabang Pelaporan di National Institute of Dental and Craniofacial Research, mengungkapkan sikat gigi baru bekerja lebih baik daripada sikat gigi lama.

"Penelitian menunjukkan bahwa sikat gigi usang dengan bulu yang terentang atau mekar kurang efektif menghilangkan plak dan mencegah resesi gingiva dibandingkan sikat gigi baru," ujar dia, dilansir Livestrong.

Ini disebabkan terdapat perbedaan fungsi antara sikat gigi baru dengan yang usang atau sudah lama, terutama pada kekakuan, ketajaman, dan kelurusan bulu. Dengan kata lain, sikat gigi usang tidak lagi membersihkan gigi secara optimal, bahkan bisa menjadi boomerang bagi gusi.

Jika dilihat di bawah mikroskop, bulu pada sikat gigi usang terlihat kusam dan membulat karena pasta gigi yang abrasif.

Yuk kita kenali dua alasan sikat gigi harus diganti secara teratur

1. Mengancam kesehatan gigi dan gusi

Menyikat gigi sebenarnya mencegah penyakit gusi dengan menghilangkan plak yang terbentuk di sekitar garis gusi. Namun, jika menggunakan sikat gigi usang justru dapat mengancam kesehatan gigi dan gusi.

Jika endapan plak itu tidak dibersihkan secara teratur, plak dapat menyerap mineral dari air liur dan membentuk zat keras yang disebut kalkulus atau karang gigi. Nah, karang gigi ini tidak dapat dihilangkan dengan menggunakan sikat atau benang gigi.

"Peradangan kronis yang disebabkan oleh timbunan kalkulus di atau di bawah garis gusi inilah yang menyebabkan penyakit periodontal." tutur Lafolla.

Menurutnya, sikat yang usang kurang efektif dalam menghilangkan plak, terutama di bawah garis gusi. Plak yang menetap menjadi jalan untuk komplikasi kesehatan mulut, termasuk pembusukan, radang gusi, dan akhirnya penyakit gusi.

2. Bulu sikat menjadi sarang bakteri

Ilustrasi sikat gigi. (dok. Unsplash.com/Superkitina @superkitina)
Ilustrasi sikat gigi. (dok. Unsplash.com/Superkitina @superkitina)

Semakin tua sikat, semakin banyak kuman yang ditampungnya. Sebuah studi kecil pada Agustus 2015 di Journal of Natural Science, Biology and Medicine mengungkap bahwa sikat gigi berusia tiga bulan memiliki kontaminasi bakteri yang lebih parah dibandingkan dengan sikat yang hanya digunakan selama satu bulan.

Tetapi faktanya, ADA mengatakan tidak ada bukti bahwa bakteri ini menyebabkan efek kesehatan yang berbahaya. Namun, mengganti sikat gigi secara rutin penting untuk untuk menjaga kesehatan mulut.

Penulis: Hilda Irach