Simak, 5 Hoaks Seputar Vaksin Covid-19 Untuk Anak

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Program vaksinasi covid-19 anak-anak berusia 5-11 tahun telah dilaksanakan di beberapa negara. Meski begitu, beberapa masyarakat terutama golongan antivaksin masih ada yang meragukan manfaat vaksin anak-anak.

Mereka menyebarkan bentuk keraguan melalui pernyataan hoaks yang disebarkan melalui media sosial. Lalu, apa saja bentuk keraguan yang banyak disebarkan? Berikut beberapa di antaranya:

1. Hampir semua anak yang terjangkit Covid-19 parah memiliki penyakit bawaan yang sudah ada sebelumnya, jadi kami tidak perlu memvaksin anak-anak kita jika mereka terlahir sehat.

Tahun ini, covid-19 adalah penyebab kematian keenam anak-anak yang berada di usia 5-11 tahun. Dilansir Mother Jones, antara Maret 2020 dan Juni 2021, sekitar sepertiga anak-anak yang terjangkit covid-19 yang dirawat di rumah sakit tidak memiliki penyakit bawaan yang berat.

Justru mereka yang memiliki kondisi sakit yang relatif umum, dapat meningkatkan risiko terkena covid-19 yang lebih parah.

2. Uji coba Vaksin Covid-19 anak-anak tidak cukup akurat untuk mendeteksi potensi efek bahaya vaksin.

Jumlah uji coba vaksin Pfizer anak-anak usia 5-11 tahun menggunakan jumlah yang lebih kecil dibanding orang dewasa. Vaksin anak-anak menggunakan sekitar 2.268 orang dan ukuran uji coba vaksin dewasa sekitar 44 ribu orang. Alasan perbedaan jumlah uji coba vaksin ini diakibatkan potensi efek samping penerima vaksin remaja.

Vaksin covid-19 untuk anak-anak buatan Pfizer menggunakan sepertiga dari dosis yang diberikan kepada remaja dan orang dewasa. Selama melakukan uji coba kepada anak-anak menggunakan dosis tersebut menunjukkan sangat kecil kemungkinannya menghadirkan efek peradangan otot jantung atau miokarditis.

Uji coba Vaksin Covid-19 remaja sempat menghadirkan efek peradangan otot jantung atau miokarditis lebih tinggi dibanding vaksin anak-anak. Hal ini menjadikan proses uji coba vaksin remaja perlu dilakukan beberapa kali untuk mengukur dosis yang tepat yang dapat mengurangi efek samping vaksin.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Selanjutnya

CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)
CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)

3. Banyak orang tua melaporkan banyak efek samping yang parah yang dialami anak remajanya setelah divaksinasi ke Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin (VAERS), CDC, FDA, media arus utama, dan pihak lainnya, namun hal ini seakan ditutup-tutupi.

Pernyataan disinformasi ini termasuk salah satu pembahasan yang sering dibahas oleh golongan antivaksin. Platform pengajuan laporan ini dapat diakses dan digunakan oleh siapa saja secara terbuka sehingga siapa saja dapat mengirimkan termasuk pihak yang menentang vaksin.

Sejauh ini belum ada bukti verifikasi resmi yang menyebutkan banyak orang tua melaporkan efek samping yang diterima oleh anak remajanya terkait vaksin covid-19.

4. Banyak ahli yang tidak setuju vaksin Covid-19 dihadirkan untuk anak-anak.

Komite Ahli Food Drug Administration (FDA), Amerika Serikat yang beranggotakan 18 orang yang telah mengadakan rapat untuk merekomendasikan dan mengizinkan suntikan untuk anak-anak usia 5-11 tahun. Hasilnya sebanyak 17 ahli mengatakan setuju untuk memperbolehkan pelaksanaan suntikan vaksin, dan hanya terdapat satu anggota yang abstain.

5. Kelompok usia anak-anak memiliki risiko efek samping vaksin parah lebih tinggi dibanding risiko terjangkit covid-19.

Data terakhir, Bulan Juni lalu di beberapa komunitas di Amerika Serikat melaporkan bahwa kondisi ini belum pernah terjadi.

Fakta menunjukkan anak-anak yang telah menerima vaksin hanya sedikit mengalami efek samping. Jika ada yang melapor, isi dari laporan tersebut tidak ada yang memiliki hubungan atau sangkut paut dengan vaksincCovid-19.

Masyarakat diharapkan untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi. Masyarakat juga diminta waspada terhadap informasi palsu terkait obat-obatan alternatif seperti Ivermectin dan Hydroxychloroquine untuk obat Covid-19.

(Penulis: Azarine Jovita Halim)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel