Simak 6 Hoaks yang Beredar dalam Sepekan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta- Sebaran hoaks di media sosial semakin beragam isinya, sehingga bisa menyesatkan penerima informasi palsu yang mudah percaya tanpa memastikan kebenarannya.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah melakukan penelusuran sejumlah informasi viral yang beredar dalam sepekan untuk memastikan informasi tersebut hoaks atau benar, hasilnya sebagian informasi terbukti hoaks.

Berikut kumpulan hoaks yang beredar dalam sepekan:

1. Pembagian Pulsa 250 ribu dan Kuota 75 GB Periode Desember dari Kemendikbud

Cek Fakta Liputan6.com menemukan informasi pembagian pulsa 250 ribu dan kuota 75 GB untuk belajar jarak jauh periode Desember dari Kemendikbud.

Informasi pembagian pulsa 250 ribu dan kuota 75 GB untuk belajar jarak jauh periode Desember dari Kemendikbud tersebut beredar lewat WhatsApp.

Berikut informasi tersebut:

"gratis-kuota.xyz/?v=Subsidi75GB

KEMENDIKBUDProgram kuota belajar pulsa 250rb dan kuota 75GB untuk dosen, guru, siswa, mahasiswa selama pembelajaran jarak jauh periode desember!Batas akhir 2021-10-13"

Pada informasi tersebut dicantumkan tautan yang mengarah pada menun pendaftaran untuk mendapatkan pulsa 250 ribu dan kuota 75 GB belajar.

Benarkah informasi pembagian pulsa 250 ribu dan kuota 75 GB untuk belajar jarak jauh periode Desember dari Kemendikbud? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

2. Megawati Soekarnoputri Sakit dan Dirawat di RS pada 10 September 2021

Kabar tentang Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri sakit dan dirawat di rumah sakit beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 10 September 2021.

Akun Facebook tersebut mengunggah gambar tangkapan layar postingan twitt dengan tautan berita berjudul "Dikabarkan Sakit, Rumah Megawati Dijaga Ketat Petugas Bersenjata".

"MEGAWATI sekarat ruamh ya di jaga ketas .. Umur ya MEGAWATI pun sudah 85," tulis akun Facebook tersebut.

Benarkah kabar Megawati Soekarnoputri sakit hingga dirawat di RS? Berikut penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, kabar tentang Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri sakit dan dirawat di rumah sakit ternyata tidak benar alias hoaks.

3. Jepang Sarankan Penggunaan Ivermectin untuk Obat Covid-19

Kabar tentang Jepang menyarankan menggunakan ivermectin sebagai obat melawan virus corona Covid-19 beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan oleh salah satu akun Facebook pada 6 September 2021.

Akun Facebook tersebut menuliskan narasi bahwa pemerintah Jepang telah mengambil keputusan menggunakan ivermectin untuk pengobatan Covid-19.

Berikut narasinya:

BREAKING: Japanese medical association chairman tells doctors to prescribe Ivermectin for COVID

"...four pills should be distributed to everyone in the country, so that people can take them “as soon as you are infected.”~ Dr. Kazuhiro Nagao

The chairman of the Tokyo Medical Association, Haruo Ozaki, held a press conference this week announcing that the anti-parasite medicine Ivermectin seems to be effective at stopping COVID-19 and publicly recommending that all doctors in Japan immediately begin using Ivermectin to treat COVID.

Ivermectin has been a source of controversy amongst medical professionals regarding the possibility of therapeutic treatments for those diagnosed with COVID-19.

Multiple reports and studies have shown evidence that Ivermectin is effective in combatting illness associated with COVID-19, and in some countries, like India, it is recommended for use even though the World Health Organization does not recommend it.

Dr. Ozaki cited evidence from African nations that have utilized Ivermectin during the pandemic. He stated: “In Africa, if we compare countries distributing Ivermectin once a year with countries who do not give Ivermectin… they don’t give Ivermectin to prevent COVID but to prevent parasitic disease… if we look at COVID numbers in countries that give Ivermectin, the number of cases is 134.4/100,000 and the number of deaths is 2.2/100,000.”

In 2019, Japan’s death rate from influenza amounted to 2.9 death cases per 100,000 inhabitants.

The Tokyo Medical Association chairman compared statistics from African countries that did use Ivermectin yearly with those that did not: “Now African countries which do not distribute Ivermectin: 950.6 cases per 100,000 and 29.3 deaths per 100,000.”

In his opinion, he believes that this shows a clear difference between the illness and fatality rates amongst nations that use Ivermectin and those that do not: “I believe the difference is clear. Of course one cannot conclude that Ivermectin is effective only on the basis of these figures, but when we have all of these elements, we cannot say that Ivermectin is absolutely not effective, at least not me.”

He added that, given the situation, other studies can be done to “confirm its efficacy,” insinuating that it is worth using as a treatment, given that in his estimation, Japan is “in a crisis situation.”

He said, “I think we are in a situation where we can afford to give [patients] this treatment.”

Another prominent Japanese physician, Dr. Kazuhiro Nagao, appeared on Japanese television proposing that COVID-19 should be treated as a Class 5 illness as opposed to its current classification as a Class 2. In Japan, illnesses are categorized by a classification system; approaching COVID as a Class 5 illness would mean that it could be treated like a seasonal flu.Dr. Nagao said he has used Ivermectin as an early treatment for over 500 COVID patients with practically a 100% success rate, and that it should be used nationwide.

About the effectiveness of Ivermectin in treating COVID patients, he said: “It starts being effective the very next day… My patients can reach me by message 24/7 and they tell me they feel better the next day.”

Nagao was asked by the TV anchor when patients should take Ivermectin if diagnosed with COVID-19. He replied: “The same day, I mean if you are infected today, you take it today… It is a medication that should be given for mildly ill patients. If you give it to hospital patients, it’s too late. This is also the case for the majority of drugs… So you have to give Ivermectin. I am asking our Prime Minister Suga to distribute this drug ‘made in Japan’ on a large scale in the country.”

He added that four pills should be distributed to everyone in the country, so that people can take them “as soon as you are infected.”

Ivermectin originates from a single microbe unearthed from soil in Japan, and in recent years has been called a “wonder” drug that continues to surprise and exceed expectations. It has shown “unexpected” potential as an antibacterial, antiviral and anti-cancer agent, according to a 2017 article from The Journal of Antibiotics.

The same article stated: “Ivermectin has also been demonstrated to be a potent broad-spectrum specific inhibitor of importin ?/?-mediated nuclear transport and demonstrates antiviral activity against several RNA viruses by blocking the nuclear trafficking of viral proteins.”

Benarkah Jepang menyarankan penggunaan ivermectin untuk pengobatan Covid-19? Berikut penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

4. Pesan Berantai WHO Bagikan Kuota Internet Dalam Rangka Ulang Tahun ke-10

Beredar di media sosial pesan berantai yang menyebut WHO membagikan kuota internet gratis dalam rangka ulang tahun ke-10. Pesan berantai itu ramai dibagikan sejak awal pekan kemarin.

Dalam pesan berantai yang beredar juga ditautkan link dengan logo Whatsapp dan kepanjangan dari WHO. Berikut isi pesan berantai itu selengkapnya:

"World Health Organization

To celebrate our 10th anniversary we give 1000 GB of free internet

You can now get free internet bundle of 50GB (All Networks) valid for 90days in Celebration of WhatsApp Anniversary.

I Have Received Mine.Hurry before it's Exhausted

https://bosvip1.top/j/50G/?s=1"

Lalu benarkah pesan berantai yang mengklaim WHO membagikan kuota internet 1000 GB dalam rangka ulang tahun ke-10? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

5. Undangan Vaksinasi Moderna Dosis Ketiga

Cek Fakta Liputan6..com mendapati informasi undangan vaksinasi Moderna dosis ketiga, informasi tersebut beredar lewat aplikasi percakapan WhatsApp.

Berikut undangan vaksinasi Moderna dosis ke tiga:

Benarkah Cek informasi undangan vaksinasi Moderna dosis ketiga? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com , informasi undangan vaksinasi Moderna dosis ketiga tidak benar.

Informasi tersebut telah dibantah Kementerian Kesehatan, vaksinasi Moderna dosis ketiga sementara ini bukan untuk masyarakat umum, hanya tenaga kesehatan saja yang mendapatkannya.

6. Ma'ruf Amin Sebut Tolak Vaksin Masuk Neraka

Beberapa waktu lalu ramai informasi Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyebut menolak vaksin akan masuk neraka. Klaim ini diunggah oleh salah satu akun Facebook pada 21 Agustus 2021 lalu.

Unggahan tersebut mendapatkan 3 komentar dan disukai sebanyak 8 warganet. Akun Facebook tersebut menuliskan narasi yang berbunyi:

“Yg gak vaksin

fix masuk neraka 😆😆"

Benarkah Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengungkapkan vaksin merupakan perintah agama dan hukumnya wajib, menolak masuk neraka? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

Hasil penelusurun Cek Fakta Liputan6.com, unggahan foto yang beredar terkait Wapres, Ma’aruf Amin menyebutkan vaksin perintah agama dan hukumnya wajib, menolak masuk neraka adalah salah.

Faktanya, Ma'ruf tidak pernah menyampaikan bahwa orang yang menolak vaksin akan masuk neraka. Ma'ruf menyebut vaksinasi merupakan kewajiban agama untuk mengakhiri pandemi Covid-19.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel