Simak 6 Informasi Salah Seputar Vaksin Covid-19 yang Beredar dalam Sepekan

·Bacaan 6 menit
Ilustrasi Hoaks. (Freepik)

Liputan6.com, Jakarta- Informasi seputar vaksin Covid-19 beredar seiring dengan kedatangannya ke Indonesia dan rencana pemerintah menyuntikan vaksin ke masyarakat. Informasi tentang vaksin Covid-19 yang beredar tersebut menimbulkan optimisme kita bisa keluar dari Pandemi Covid-19. Namun, ada juga informasi yang menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan.

Maraknya informasi seputar vaksin Covid-19 yang beredar sebaiknya tidak langsung dipercaya, kita harus memverifikasi dan memastikan sumber informasi tersebut. Ini bertujuan untuk menghindari ketakutan dan kerugian akibat mempercayai informasi yang salah

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar vaksin Covid-19 untuk memastikan kebenarannya. Namun, sebagian informasi tersebut terbukti salah bahkan ada yang masuk kategori hoaks.

Berikut informasi salah seputar vaksin Covid-19 yang beredar dalam sepekan:

1. Foto Keluarga Penemu Vaksin Covid-19 di Tahun 1970

Warga Facebook banyak mengunggah foto keluarga yang diklaim sebagai keluarga penemu vaksin covid-19 yang dipasarkan oleh Pfizer. Disebutkan kalau keluarga itu merupakan imigran Turki di Jerman.

Salah satu pengguna Facebook yang mengunggah foto dengan klaim keluarga penemu vaksin covid-19 adalah Ramen Das. Dia mengunggah foto itu pada 9 Desember 2020.

Begini narasinya:

"Pada gambar di bawah, Anda melihat sebuah keluarga imigran Turki di Jerman, pada tahun 1970. Anak laki-laki berkemeja kuning dan tanpa sepatu adalah ahli biologi bernama Ugur Sahin, 55.

Dia bersama dengan istrinya yang berkewarganegaraan Turki Ozlem Tureci, 53, mengembangkan vaksin Covid-19 yang dipasarkan oleh Pfizer".

Lalu, benarkah klaim foto itu merupakan keluarga penemu vaksin covid-19 yang dikembangkan Pfizer?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, foto yang diklaim sebagai foto penemu vaksin covid-19, Ugur Sahin, yang tersebar di Facebook, merupakan informasi yang salah.

Foto itu merupakan keluarga Candida H枚fer orang Turki yang bermigasi ke Jerman pada 1975. Sedangkan Ugur Sahin baru pindah ke Jerman pada 1960-an.

2. IDI Tolak Vaksinasi Covid-19

Beredar di media sosial kabar penolakan IDI pada vaksinasi Covid-19. Kabar itu ramai dibagikan sejak pekan lalu.

Unggahan tersebut berupa tangkapan layar berita berjudul "IDI Menolak Menjadi yang Pertama Disuntik Vaksin, Beranikah Para Menteri Menggantikannya?"

Selain itu ia menambahkan narasi, "IDI aja tolak apa lage kt masyarakat 馃槄馃ぃ馃槀# nga mau .."

Ada juga unggahan serupa dengan narasi:

"IDI tegas tolak divaksin yg pertama鈻禷usy tolak pake vaksin buatan sendiri鈻讹笍vaksin sinovac blm lolos uji klinis n ga dipake di negaranya sendiri. Rkyt tegas minta presiden n mentri2nya yg wajib divaksin duluan,jgn mo jd klinci percobaan"

Lalu benarkah IDI menolak menjadi yang pertama divaksinasi Covid-19?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, unggahan yang menyebut IDI menolak vaksinasi Covid-19 adalah tidak benar. Faktanya IDI mendukung vaksinasi Covid-19.

3. Singapura Lakukan Vaksinasi Covid-19 di Bandara Changi

Sebuah narasi beredar di WhatsApp Group yang menyebut Singapura akan membuka vaksinasi Covid-19 di Bandara Changi. Disebutkan juga kalau kebijakan ini akan menyedot wisatawan asing untuk pelesir ke Singapura.

Narasi itu menyebut Singapura membuka program 'Vaccine Tourism' bagi wisatawan asing. Cara ini, dalam klaim tersebut, menjadi peluang Singapura untuk menghidupkan pariwisata mereka yang sempat melemah akibat pandemi Covid-19.

Begini narasinya:

"Singapore akan buka "Vaccine Tourism"; kita bisa terbang ke Spore, sampe Changi airport suntik vaccine, nginep di hotel airport atau langsung pulang.Pinter SG cari kesempatan bisnis 馃憤馃憤馃徏

jadi org yg datang ga usah masuk SG, cukup di hotel airport saja. Jalan jalan beli oleh oleh di airport trus pulang lg ke JKT.PM Singapore Lee Hsien Loong baru saja mengumumkan Singapore akan masuk dlm phase 3 yg lebih longgar mulai 28 December ini..

Orang Indonesia pergi nonton F1 Grand Prix atau konser Coldplay ke Singapura aja didatangi - apalagi cuma buat pergi vaksinasi ke negara tetangga?

Mending mana: antrean vaksin berbayarnya di dalam negeri atau di luar negeri?

Tidak perlu karantina karena orangnya tidak masuk kota Singapura. Vaksinasi cukup dilakukan di Changi.

Selesai vaksinasi langsung pulang pakai penerbangan berikutnya.

Ongkosnya paling banyak "cuma" Rp.4 juta.

Tempat yang bernama bandara nggak punya masalah dengan logistik. Juga punya banyak ruang terbuka.

Ketimbang repot nunggu antrean vaksinasinya - lebih baik orangnya yang datang. Dari seluruh penjuru (kalo ngga dunia, ya tetangga tetangga di Asia Tenggara).."

Lalu, benarkah klaim yang menyebut Singapura melakukan vaksinasi covid-19 di Bandara Changi?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim yang menyebut Singapura melakukan vaksinasi Covid-19 di Bandara Changi untuk wisatawan asing adalah informasi palsu alias hoaks. Faktanya, Bandara Changi menjadi tempat distribusi vaksin Covid-19 di Asia Tenggara.

4. Vaksin Covid-19 Buatan Pfizer Tewaskan 6 Orang

Beredar di media sosial unggahan terkait vaksin Covid-19 buatan Pfizer yang menewaskan beberapa orang.

Unggahan tersebut berupa tangkapan layar berita berjudul "Enam orang tewas selama uji coba vaksin virus corona Pfizer/BioNTech."

Ia juga menambahkan narasi: "Apa corona sdh berakhir??? Atau masih berkeliaran..Ini mati bukan karna korona tapi karna vaksin..."

Lalu benarkah vaksin Covid-19 buatan Pfizer menyebabkan kematian?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, unggahan yang menyebut vaksin Covid-19 buatan Pfizer menyebabkan kematian adalah tidak benar. Faktanya FDA tidak menemukan kaitan antara kematian enam orang saat uji klinis dengan pemberian vaksin.

5. China Tidak Pakai Vaksin Covid-19 Buatan Sendiri

Beredar di media sosial unggahan yang mengklaim China tidak menggunakan vaksin Covid-19 buatan sendiri. Dia merasa heran Indonesia malah membeli vaksin Covid-19 dari China.

Unggahan tersebut berupa artikel di Tempo dengan judul: "Vaksin Covid-19 Pfizer akan Masuk Cina Tahun Depan".

Berikut narasi klaim yang ada diunggahan tersebut

"Cina impor vaksin 7,2 juta dosis dari Jerman, Indonesia impor vaksin dari china

HEBATNYA PEMERINTAH INDONESIA, SAKING HEBATNYA SAMPAI DI BODOHI CHINA, HEBATNYA PEMERINTAH INDONESIA ADALAH IMPORT VAKSIN DARI CHINA, SEDANGKAN CHINA IMPORT VAKSIN DARI JERMAN

PINTARNYA CHINA ADALAH CHINA SENDIRI TAK MAU MEMAKAI VAKSIN BUATANNYA MEREKA SENDIRI, KARENA TAHU EFEK DAN BAHAYANYA, AKHIRNYA CHINA IMPORT VAKSIN DARI JERMAN

SUNGGUH HEBATNYA INDONESIA, HEBAT DI MODUSI CHINA, PLONGA PLONGO DI TIPU".

Lalu, benarkah klaim yang menyebut China tidak menggunakan vaksin covid-19 buatan sendiri?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim yang menyebut China tidak memakai vaksin Covid-19 buatan sendiri adalah salah. Faktanya, China sudah memakai dua vaksin buatan dalam negeri, yakni Sinovac dan Sinopharm saat status keadaan darurat melawan Covid-19.

6. Vaksin Covid-19 Gratis Hanya untuk Anggota BPJS

Beredar di media sosial kabar soal pemberian vaksin covid-19 harus terdaftar menjadi anggota BPJS. Kabar itu banya dibagikan sejak tengah pekan ini.

Unggahan tersebut berupa sebuah tangkapan layar cuplikan berita dengan judul "Syarat Vaksin Gratis Jokowi: BPJS Kesehatan Anda Harus Aktif?"

Selain itu, ia juga menambahkan narasi:

"Katanya VAKSIN GRATIS 馃槄 Tapi BPJS harus Aktif dan Tidak ada Tunggakan !! Lah BPJS INI BUKANNYA BAYAR IURAN ??Lantas GRATIS nya dimana 馃ゲ Ga hilang Bakat Youtuber Pranknya"

Lalu benarkah pemberian vaksin covid-19 disertai dengan syarat harus menjadi anggota BPJS?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, kabar yang menyebut vaksin Covid-19 gratis hanya untuk anggota BPJS adalah tidak benar.

Presiden Jokowi telah membatah isu yang divaksin hanya memiliki kartu BPJS.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Simak Video Berikut