Simak, 7 Tips Aman Transaksi Keuangan Online Versi OJK

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Bagi mereka yang sering melakukan transaksi keuangan secara daring (online) pasti tidak asing dengan layanan internet atau mobile banking.

Layanan ini memang memudahkan kita apalagi di tengah pandemi Covid-19. Belanja, pembayaran tagihan hingga bersedekah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk menghindari kontak fisik.

Kendati, penggunaan layanan keuangan online bisa mengakibatkan kerugian fatal jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Daripada terkena resiko kehilangan uang, lebih baik ikuti tips aman bertransaksi online yang sebagaimana dikutip Liputan6.com dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamis (19/11/2020).

1. Jangan memberikan PIN/OTP kepada siapapun termasuk oknum yang mengaku sebagai pegawai bank. Ingat bahwa bank tidak pernah meminta kode PIN/OTP dari konsumen

2. Rutin mengganti PIN atau password secara berkala agar terhindar dari peretasan

3. Hindari akses menggunakan wifi publik. Gunakan jaringan internet yang aman ketika melakukan transaksi dan pastikan log out setelah bertransaksi

4. Aktifkan notifikasi transaksi baik melalui SMS atau email. Selalu pantau notifikasi yang muncul. Jika ada yang mencurigakan segera hubungi pihak bank.

5. Apabila ingin mengganti atau menjual ponsel atau komputer, pastikan jejak keuangan di perangkat yang lama sudah terhapus dengan benar

6. Pastikan mengunduh aplikasi/mengakses internet banking pada situs bank yang resmi

7. Jika tidak bisa menggunakan ponsel, segera laporkan ke penerbit kartu seluler untuk menghindari cloning SIM Card.

OJK: Ekonomi Domestik Jadi Kekuatan Indonesia Lawan Covid-19

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat menggelar jumpa pers tutup tahun 2018 di Gedung OJK, Jakarta, Rabu (19/12). (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat menggelar jumpa pers tutup tahun 2018 di Gedung OJK, Jakarta, Rabu (19/12). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Indonesia menjadi satu dari sekian negara yang terkena imbas pandemi Covid-19. Gegaranya, Indonesia sempat mengalami pertumbuhan ekonomi negatif 5,32 pada kuartal II 2020, meskipun nilainya berangsur membaik menjadi minus 3,49 pada kuartal III.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, ekonomi Indonesia lebih resilient dalam menghadapi dampak pandemi karena memiliki kekuatan di sektor domestik.

"Kata orang Jawa, Indonesia ini masih ada untungnya. Indonesia ini island country, penduduknya besar. Lebih didukung ekonomi domestik, permintaan domestik. Ada ekspor impor cuma tidak begitu besar dibandingkan negara yang open economy," kata Wimboh dalam tayangan virtual OJK Mengajar, Kamis (19/11/2020).

Wimboh menjelaskan, 20 persen porsi ekspor negara-negara ASEAN ke Amerika Serikat berasal dari Malaysia. Ketika AS terkena Covid-19, otomatis nilai ekspor tersebut turun dan berdampak ke ekonomi Malaysia itu sendiri.

Namun, Indonesia didukung oleh permintaan domestik dari kurang lebih 270 juta penduduk yang masih membutuhkan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) sehingga hal ini tidak terganggu oleh Covid-19. Kendati, sektor pariwisata dan perhotelan memang langsung terkena dampak hebatnya.

"Yang keganggu itu yang nggak bisa fine dining, nginap di hotel mewah, dan itu kan bukan kebutuhan primer. Jadi masih terjaga. Memang ekspor impor terganggu, tapi karena kita nggak significantly didukung itu, jadi nggak terdampak begitu besar," katanya.

Wimboh bilang ekonomi Indonesia akan lebih cepat bangkit didukung dari ekonomi masing-masing daerah. Hal ini karena ekonomi daerah memiliki potensi yang dapat dikembangkan.

"Terutama melalui UMKM-UMKM, kita buat kebijakannya mendorong sektor UMKM," ujar Ketua Dewan Komisionaer OJK.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: