Simak Informasi Salah Seputar Masker Terbaru

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Masker masih menjadi barang yang wajib digunakan setiap orang di tengah pandemi virus Corona baru (Covid-19), untuk memutus penularan Covid-19.

Sejak kewajiban penggunaan masker di tempat umum diterapkan, informasi yang salah tentang akibat penggunaan masker telah menyebar di media sosial.

Sebagian pengguna media sosial pun keliru mengklaim menggunakan masker sebenarnya merugikannya, dari iritasi hingga keracunan.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar masker.

Berikut informasi salah seputar masker hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com:

1. Menggunakan Masker Berakibat Infeksi Staph

Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim menggunakan masker berakibat infeksi staphylococcus yang biasa disingkat infeksi staph.

Klaim menggunakan masker berakibat infeksi staph tersebut diunggah akun Facebook Peter Hemes, pada 28 Oktober 2020.

Unggahan tersebut berupa foto wajah sorang wanita yang mengalami luka pada bagian bibir.

Foto tersebut diberi keterangan sebagai berikut:

"Staph infection from wearing a mask."

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, sebagai berikut:

"Infeksi staph karena memakai masker."

Benarkah menggunakan masker berakibat infeksi staph?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim menggunakan masker berakibat infeksi staph tidak benar.

Masker tidak menyebabkan infeksi Staph, dan tidak lebih mungkin menyebabkan cedera atau abrasi pada kulit yang dapat menyebabkan infeksi.

2. Informasi Ditlantas Polda Gelar Razia Masker Seluruh Wilayah Indonesia

Cek Fakta Liputan6.com mendapati informasi Ditlantas Polda menggelar razia masker serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Berikut isinya:

"Assalamu'alaikum wr wb..Just info! Dari Ditlantas Polda besok ada razia Masker serentak di seluruh wilayah indonesia, dan melibatkan langsung turun lapangan dari semua lintas sektor dan dari kejaksaan, polisi, Pom dll...dan kalau ada yg TDK pakai masker langsung di tindak bayar ditempat 250.000...tolong infokan ke keluarga,tetangga dan teman semua ya....jangan sampai kena denda..Saling mengingatkan semoga kt terhindar dari hukuman..馃檹"

Ditlantas akan menggelar razia masker serentak di seluruh wilayah Indonesia?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, informasi Ditlantas menggelar razia masker serentak di seluruh wilayah Indonesia tidak benar.

Polda Metro Jaya menyatakan pesan bernatai soal razia masker serentak oleh Direktorat Lalu Lintas Polda se-Indonesia dengan denda sebesar Rp 250 ribu bagi pelanggarnya adalah tidak benar alias hoaks.

3. Wanita di Video Ini Ditangkap karena Tak Memakai Masker

Beredar kabar ada seorang wanita yang ditangkap polisi karena tidak memakai masker di Singapura.

Informasi tersebut beredar di media sosial, berupa video berdurasi 1 menit, 7 detik. Di sana terdapat seorang wanita yang berdebat dengan pihak kepolisian lalu akhirnya diamankan dengan diborgol.

Unggahan video tersebut disertai narasi, "In Singapore, if no mask, straight arrest. No sympathy," atau dalam Bahasa Indonesia "Di Singapura jika tak memakai masker langsung ditahan, tidak ada simpati."

Lalu benarkah kabar Singapura langsung menahan seseorang jika tak memakai masker?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim video wanita ditangkap karena tidak memakai masker di Singapura adalah tidak benar. Faktanya wanita tersebut ditangkap karena membuat kegaduhan di mal bukan karena tak memakai masker.

4. Masker Penyebab Utama Kematian Pandemi Flu Spanyol

Sejak pandemi virus corona covid-19 melanda dunia, pemakaian masker sudah menjadi gaya hidup. Pemakaian masker dimaksudkan untuk mencegah penularan covid-19 yang belum mereda.

Namun, ada segelintir orang yang menolak menggunakan masker. Bahkan, mereka malah menyebut pemakaian masker menjadi penyebab utama kematian saat pandemi Flu Sanyol yang terjadi di tahun 1918.

Berikut informasi yang mengklaim penggunaan masker menjadi penyebab utama kematian saat pandemi Flu Sanyol yang terjadi di tahun 1918:

"Pada tahun 2008, Dr. Anthony Fauci menulis sebuah makalah tentang Epidemi Flu Spanyol.Jadi dalam mempelajari pandemi besar dan sebenarnya ini, apa yang dilakukan Dr. Fauci dan rekan-rekannya temukan?

Mereka menemukan bahwa sebagian besar korban Flu Spanyol tidak meninggal karena Flu Spanyol.

Mereka meninggal karena radang paru-paru bakteri. Dan pneumonia bakteri disebabkan oleh.... tunggu saja, tunggu saja.... memakai masker.

Dokter Bedah AS tahu selama ini.."

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim yang menyebut masker menjadi penyebab utama kematian Flu Spanyol pada 1918 adalah salah karena tidak ada bukti penelitiannya.

Faktanya, Dr. Anthony Fauci dan rekan penelitinya di tahun 2008 menyimpulkan bahwa korban flu Spanyol 1918 meninggal karena pneumonia bakterial yang disebabkan oleh flu. Masker tidak disebutkan di mana pun, baik sebagai sumber bakteri atau bukan.

5. Klaim RS Mengcovidkan Pasien dan Masker Beracun

Beredar video yang mengatasnamakan Yunus Wahyudi berbicara mengenai teori konspirasi virus corona atau Covid-19. Ia mengklaim bahwa rumah sakit (RS) sengaja mengcovidkan pasien dan memakai masker dapat mengakibatkan keracunan.

Video ini viral di Facebook, dalam video berdurasi 2 menit 36 detik itu, Yunus menuding RS kerap kali melabeli pasien yang meninggal dengan diagnosis Covid-19 untuk dijadikan lahan bisnis.

"Rumah sakit ini selalu mengeluarkan orang meninggal dibikin sakit Covid," ucap Yunus dalam video tersebut.

Selain itu Yunus juga mengklaim bahwa orang yang sehat tidak perlu pakai masker. Menurutnya, jika seseorang memakai masker justru akan menghirup racun yang berbahaya bagi tubuh.

"Yang sehat jangan pake masker, karena apa oksigen yang kita keluarkan ini adalah racun. Ketika kita hirup lagi akan jadi penyakit dalam diri kita," kata Yunus.

Benarkah rumah sakit mengcovidkan pasien dan memakai masker dapat membuat keracunan?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim bahwa rumah sakit (RS) sengaja mengcovidkan pasien dan memakai masker dapat mengakibatkan keracunan ternyata tidak benar.

Dalam situasi pandemi, pihak RS akan melakukan penyelidikan epidemiologi termasuk memeriksa apakah pasien meninggal terkonfirmasi Covid-19 atau tidak.

Sementara Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Unhas, dr Arif Santoso SpP (K) PhD memastikan bahwa mengenakan masker dalam waktu lama tidak akan membuat keracunan CO2. Video klaim Yunus Wahyudi tidak didasari dengan fakta sebenarnya, konten tersebut masuk kategori palsu.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.