Simulasi FEB UI, Dampak investasi Semester I/2022 capai Rp919 triliun

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh Dartanto menyebut dampak realisasi investasi sepanjang Semester I/2022 mencapai Rp919,14 triliun.

Angka tersebut keluar dari kajian yang dilakukan FEB UI melalui simulasi dengan metodologi yang mengolah data capaian realisasi investasi Semester I/2022 yang mencapai Rp584,6 triliun.

"Secara total, dampak terhadap perekonomian itu Rp919 triliun di mana dampak inisialnya sebesar Rp584 triliun (realisasi investasi) dan sisanya bagaimana investasi itu bisa menggerakkan ekonomi," katanya dalam webinar "Dampak Realisasi Investasi Semester I 2022 terhadap Perekonomian Nasional dan Daerah" yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Secara rinci, dari total Rp584,6 triliun realisasi investasi sepanjang semester I/2022, ada Rp214,84 triliun dampak langsung dalam rangka mendukung investasi yang masuk.

Selain itu, ada dampak tidak langsung sebesar Rp119,69 triliun sehingga secara total dampak realisasi investasi mencapai Rp919,14 triliun terhadap perekonomian.

Selain dampak ekonomi, dalam kajian tersebut juga dihasilkan dampak nilai tambah atas realisasi investasi sepanjang Januari-Juni 2022 itu yang mencapai Rp514,71 triliun.

Ada pula dampak terhadap pendapatan rumah tangga sebesar Rp187,78 triliun dan dampak terhadap penyerapan tenaga kerjaa yang mencapai 3,8 juta orang.

"Dari sisi tenaga kerja, kelihatannya yang tercatat di BKPM lebih kecil dari yang seharusnya. Kalau menurut hitungan kami, angkanya seharusnya bisa sampai 2 jutaan (penciptaan lapangan kerja) dalam satu semester," katanya.

Realisasi investasi pada Semester I 2022 mencapai Rp584,6 triliun, atau mencapai 48,7 persen dari target yang ditetapkan Presiden Jokowi sebesar Rp1.200 triliun. Capaian tersebut juga tercatat tumbuh 32 persen dibandingkan capaian semester I 2021 dengan penciptaan lapangan kerja sebanyak 639.547 orang.

Dalam catatan Teguh, pemerintah daerah perlu menciptakan ekosistem yang mendukung untuk bisa mendorong realisasi investasi yang dibutuhkan untuk bisa meningkatkan perekonomian di wilayahnya.

Ia mencontohkan wilayah Jawa Tengah yang realisasi investasinya hanya berada di urutan ke sembilan tetapi menempati urutan kedua dalam penyerapan tenaga kerja.

"Investasi di Jawa Tengah ini labor intensive (padat karya). Ini jadi PR untuk kita dan pemda, bahwa investasi itu tidak hanya besarnya tapi sektornya bagaimana, apakah labor intensive atau capital intensive (padat modal), kalau ingin investasi bisa menggerakkan lapangan pekerjaan yang banyak," katanya.

Baca juga: Akademisi: Indonesia timur jadi magnet baru tujuan investasi asing

Baca juga: CIPS: UU Cipta Kerja perlu pembenahan meski dongkrak investasi

Baca juga: Singapura paling banyak investasi di RI sepanjang Semester I 2022

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel