Simulator SIM, ICW Desak KPK Tahan Djoko Susilo

TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Corruption Watch mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi untuk segera menahan tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat simulator SIM, Inspektur Jenderal Djoko Susilo.

Anggota Badan Pekerja ICW, Emerson Yuntho beralasan penahanan penting untuk mempercepat penyidikan kasus simulator SIM. Percepatan penanganan kasus ini penting agar KPK bisa segera mengusut kasus korupsi lain di Korps Lalu Lintas Markas Besar Kepolisian RI. Salahsatu kasus yang perlu segera ditangani adalah kasus dugaan korupsi pengadaan pelat nomer kendaraan.

»Saya kira bukti juga sudah cukup kuat,” kata Emerson ketika dihubungi Ahad, 2 Desember 2012. Ia menuturkan --belajar dari kasus-kasus sebelumnya-- ketika KPK sudah menetapkan tersangka, artinya penyidikan kasus itu sudah 95 persen selesai.  

Di sisi lain, Emerson memahami kehati-hatian KPK dalam penanganan kasus ini. Namun bukan berarti itu bisa jadi alasan untuk melambatkan pelimpahan perkara korupsi ini ke pengadilan. »Toh di KPK tidak ada SP3,” kata penggiat antikorupsi ini.

Djoko Susilo akan diperiksa di KPK, Senin 3 Desember 2012 besok pagi pukul 9.00 pagi. Mantan Gubernur Akademi Polisi ini pertama kali diperiksa dalam kasus simulator SIM pada 5 Oktober 2012. Ketika itu,dia diperiksa selama delapan jam sejak pukul 09.00 WIB hingga 17.40 WIB.

SUNDARI

Berita Terpopuler:

Warga Fatmawati Siap Ditembak Karena Menolak MRT

Pemain Timnas Piala AFF Jalan Tertunduk Menuju Bus 

Jokowi Disarankan Bikin KTP Sementara

Indonesia Jadi Tuan Rumah Miss Universe 

Budayawan Nilai Cium Tangan Sutan Berbau Politis  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.