SIMURP dikembangkan untuk dongkrak produksi pangan di daerah irigasi

Nusarina Yuliastuti

Kementerian Pertanian memperkenalkan dan mengembangkan Strategic Irrigation and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) untuk mendongkrak produksi pangan di daerah irigasi.

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi saat virtual meeting antara Tim SIMURP Pusat dan Daerah, Selasa, saat ini semua pinjaman hibah dan luar negeri (PHLN) merupakan andalan utama Kementan, tanpa terkecuali SIMURP.

”SIMURP harus mendukung semua kegiatan Kementan. Selain itu, gerakan ketahanan pangan nasional inline dengan SIMURP,” katanya.

Baca juga: Jaga ketahanan pangan, Kementerian dukung BUMN pupuk genjot produksi

Tujuan utama SIMURP kata dia, untuk meningkatkan produksi di daerah irigasi melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dengan pendekatan Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim melalui teknologi yang efisien, ramah lingkungan, namun meningkatkan produksi.

“Daerah irigasi kata kuncinya percepatan tanam, untuk itu semua lokasi SIMURP harus segera melakukan percepatan tanam. Tidak boleh ada kata jeda karena semua proses harus berputar secara cepat dan tepat. Pangan tidak boleh ‘delay’ dan pangan harus ada setiap saat,” kata Dedi.

Ditambahkannya, saat ini produksi beras sudah surplus secara nasional dan itu berkat kerja keras semua pihak dan merupakan realisasi percepatan. Tim SIMURP harus kerja keras dan kerja gesit dan tidak boleh santai.

“Selain itu, pendekatan pemberdayaan SDM melalui petani, penyuluh pertanian, sarana prasarana, IT serta pengelola SIMURP Pusat dan daerah, merupakan salah satu faktor keberhasilan SIMURP guna mendukung gerakan ketahanan pangan nasional. Di mana setiap keluarga mampu mengakses pangan secara mandiri artinya sudah mencapai ketahanan pangan nasional, baik produknya maupun daya belinya,” paparnya.

Baca juga: Kementan dorong Kalteng jadi lumbung pangan Indonesia

Dedi menegaskan bahwa SIMURP diarahkan juga untuk penguatan IT sehingga saat pandemi COVID-19 mau tidak mau semua harus memaksimalkan IT.

“Dengan IT semua pesan-pesan tentang inovasi teknologi yang dibutuhkan petani dapat tersampaikan. Dengan IT pula kita bisa berkoordinasi dengan kegiatan pelatihan-pelatihan tanpa bertatap muka atau melalui virtual meeting,” katanya,

Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo menegaskan bahwa petani harus berperan aktif untuk menjaga stok pangan dengan menyegerakan pengolahan lahan setelah panen.

Baca juga: Menteri PUPR: Program P3TGAI tingkatkan kualitas irigasi pedesaan

“Ancaman yang lebih besar dari pandemi COVID-19 adalah kelaparan. Untuk itu, petani harus tetap bekerja demi menjaga keamanan pangan rakyat Indonesia. Negara dan bangsa memanggil kita semua untuk bekerja lebih kuat, dalam ancaman COVID-19. Jangan pandang enteng, tetap pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak aman untuk menghindarkan diri dari serangan COVID-19,” katanya.

Menteri Syahrul menegaskan, pahlawan yang tidak kalah penting selain dokter di rumah sakit dalam menghadapi COVID-19 adalah petani.

Menurut dia, petani tetap bekerja keras untuk menghasilkan pangan, dan pemerintah sangat berterima kasih atas kerja keras yang telah dilakukan oleh petani.

Mentan juga berpesan agar petani tetap menjaga kesehatan dengan mengikuti prosedur Kementerian Kesehatan.