Sindikat Internasional Narkoba Ada di Kampung Ambon

TEMPO Interaktif, Jakarta: -  Peredaran narkoba di Kampung Ambon, Jakarta Barat, diduga terkait dengan jaringan narkoba internasional. Barang bukti narkoba senilai Rp 11 miliar yang disita dari penyerbuan ke kampung itu terungkap merupakan barang impor.

"Kualitas bagus. Sabu dari Iran, heroin dari Afrika Selatan, dan ekstasi dari Belanda," kata Direktur Narkoba Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Nugroho Aji, Jumat 9 Desember 2011 .

Kampung itu diserbu gabungan polisi dari Markas Besar Polri, Polda Metro Jaya, Kepolisian Resor Jakarta Barat, dan aparat dari pemerintah kota setempat dalam sebuah Operasi Tumpas Narkoba, Kamis lalu. Mereka menggerebek 33 lapak yang diduga biasa menjadi lokasi transaksi narkoba di kampung itu.

Beberapa barang bukti ekstasi dan ganja diperoleh dari sebuah rumah berlantai dua bernomor 186. Diduga rumah itu milik Michael Glenn Manuputty, terpidana seumur hidup yang saat ini mendekam di Penjara Nusakambangan.  "Ada kemungkinan anak buahnya yang sekarang menjalankan bisnisnya," kata Direktur IV Narkoba Mabes Polri Brigadir Jenderal Arman Depari, Kamis lalu.

Selain narkoba, barang bukti lain yang disita adalah lima senjata api serta sejumlah parang dan golok. Sebanyak 53 orang juga sempat digelandang sebelum belakangan hanya 49 yang terbukti positif mengkonsumsi narkoba. "Yang negatif mungkin akan dipulangkan. Untuk 49 orang yang positif, kami belum memastikan apakah mereka pengedar, bandar, atau kurir," ujar Nugroho.

Di antara mereka yang tertangkap itu adalah Mustari, yang pernah aktif berdinas di Sabhara Polda Metro Jaya. Pangkat terakhirnya adalah brigadir kepala dan dipecat per 15 November lalu atas pelanggaran desersi.

Sebelum dipecat, Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Agusli Rasyid mengatakan Masturi sudah bolos selama 30 hari. "Barangkali ia mangkir karena sibuk bisnis narkoba di Kampung Ambon," katanya.

Saat digerebek Kamis lalu, Masturi kedapatan membawa narkoba jenis sabu seberat 0,1 gram. "Saya belum tahu apakah ia ikut melindungi peredaran narkoba di sana," kata Nugroho. "Tapi yang jelas ia pemakai karena, setelah dites, positif ada narkoba."

Beberapa polisi hingga kemarin masih berjaga-jaga di kampung itu. Untuk meminimalisasi peredaran dan cengkeraman narkoba di wilayah itu, Nugroho menambahkan, polisi bersama pemerintah setempat akan mengefektifkan sebuah pos terpadu.

Selama ini, kata dia, pos itu belum efektif. "Nantinya bukan hanya polisi yang berjaga di sana, tapi juga pemerintah daerah," kata Nugroho.

Dalam penggerebekan pada Kamis lalu sempat ada perlawanan dari warga kampung yang terdiri atas 2.000 keluarga itu. Namun tim gabungan yang berkekuatan lebih dari 500 personel ini berhasil meredam perlawanan itu.

| ARIE FIRDAUS | ADITYA | WURAGIL

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

POLL

Apakah kandidat nama cawapres Jokowi yang beredar sekarang sudah sesuai dengan harapan Anda?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat