Sindikat Pemalsu Tas Louis Vuitton di China Tertangkap, Produknya Terjual Sampai Timur Tengah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tas Louis Vuitton (LV) dikenal sebagai salah satu tas termahal di dunia. Maka, bisa memiliki Louis Vuitton tentu jadi kebanggaan tersendiri, walau bukan yang asli. Hal itu memicu sejumlah kriminal untuk memalsukan tas asal Prancis itu.

Baru-baru ini, para penyelidik kepolisian di China membongkar sindikat pemalsu yang memproduksi barang-barang Louis Vuitton. Sindikat itu bahkan sudah menghasilkan uang kurang lebih 100 juta yuan, atau sekitar Rp223 miliar.

Dilansir dari South China Morning Post, Rabu, 17 Maret 2021, sindikat ini melibatkan 40 orang, termasuk seorang perempuan pramuniaga yang bekerja di gerai Louis Vuitton asli. Ia diduga terkait dengan produksi barang-barang palsu LV tersebut.

Pada beberapa kasus, toko tersebut telah memproduksi tas palsu sebelum versi aslinya beredar di pasaran. Sindikat ini mampu menyematkan teknologi chip yang diklaim bisa diakses pelanggan untuk memverifikasi keaslian dari produk itu.

Faktanya, LV tidak menghadirkan fitur tersebut pada barang-barangnya. Chip near field communication (NFC) merupakan sensor kecil yang dipasang di bagian dalam barang merek mewah. Chip itu nantinya akan menampilkan informasi tentang produk yang bisa dilihat konsumen melalui aplikasi di ponsel.

Sindikat pemalsu tas mewah itu juga mendapatkan pemasok untuk mengopi dust bag, sertifikat keaslian, label, amplop, sampai surat-surat. Para tersangka pemalsu yang berada di Provinsi Guangdong dituduh memproduksi dan menjual barang merek dagang terdaftar secara ilegal.

Penipuan itu pertama kali terungkap pada Desember 2019 lalu. Kala itu, polisi menemukan tas dan aksesoris LV palsu yang diunggah melalui jejaring media sosial.

Bongkar Tas Louis Vuitton Asli

Ilustrasi tas Louis Vuitton. (dok. Penabeckie/Pixabay)
Ilustrasi tas Louis Vuitton. (dok. Penabeckie/Pixabay)

Saat memulai operasi di 2018, jaringan itu memproduksi kulit yang dicetak dengan pola Louis Vuitton, namun gagal karena pola LV palsu cepat memudar. Lalu pada Maret tahun lalu, para tersangka menyemprotkan pola dengan teknik berbeda yang lebih tahan lama. Dalam waktu lima bulan setelahnya, sindikat itu menghasilkan lebih dari 2.100 meter kulit yang disemprot untuk dijadikan 6.900 tas Louis Vuitton palsu.

Para tersangka itu awalnya membeli tas asli dari toko Louis Vuitton. Mereka lalu membongkar tas itu untuk menghasilkan kulit dengan pola yang sama. Namun, karena tidak puas dengan upaya dan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi tas dengan cara ini, mereka merekrut seorang pramuniaga di toko Louis Vuitton asli untuk membeli lebih dari selusin tas asli.

Pramuniaga di toko resmi Louis Vuitton itu bergabung dan menyediakan materi pelatihan internal, termasuk desain dan grafik detail tas yang belum dijual di Louis Vuitton China. Hasilnya, sindikat ini bisa mendapatkan desain tas yang belum ada di toko ritel Louis Vuitton, dan beberapa desain terjual hingga ke kawasan Timur Tengah.

Biaya untuk memproduksi tas Louis Vuitton palsu ditaksir hanya sekitar 100-200 yuan atau kurang lebih Rp220.000--440.000 saja. Kemudian, masing-masing tas dijual dengan harga antara 300-500 yuan atau setara Rp660.000--Rp1,1 juta ke penyalur.

Penjual yang menerima barang palsu tadi lalu melakukan mark up sebesar 40 persen dan menjualnya ke pengecer lain di seluruh negeri yang juga menaikkan harga tas sebelum dijual kepada pelanggan Louis Vuitton. (Melia Setiawati)

Bergaya dengan Masker

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: