Sindikat pengedar sabu internasional mulai diadili di Medan

MERDEKA.COM. Anggota sindikat peredaran sabu internasional yang dibongkar Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri beberapa waktu lalu, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Pada sidang perdana, Budianto, satu di antara 7 anggota sindikat, didakwa telah mencoba mengimpor dan menyalurkan narkotika golongan I.

"Perbuatan terdakwa Budianto diatur dan diancam Pasal 113 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Saut Halomoan di hadapan majelis hakim yang diketuai Leliwati, Kamis (18/4).

Budianto merupakan bagian dari sindikat yang dikendalikan Dedi Junaidi alias A Hay dan Hartono alias A Ti. A Hay sudah tewas ditembus peluru polisi. Sedangkan A Ti dan lima anggota sindikat itu, yaitu Masudi, Yusuf, Budi Winarno, M Syaeful, dan Andika disidangkan terpisah. Namun sidang keenamnya lolos dari pantauan wartawan.

Seperti tertera dalam surat dakwaan, perkara ini bermula saat Cicago (DPO) memesan 3 kg sabu-sabu kepada A Hay pada 11 Oktober 2012. A Hay kemudian menghubungi A Seng (DPO), warga negara Malaysia, untuk menyediakan barang ilegal itu.

Keesokan harinya, A Hay menyuruh Masudi ke Port Klang, Malaysia, dan menerima tas berisi sabu-sabu dari orang suruhan A Seng. Tas itu selanjutnya dibawa ke Tanjungbalai, Sumut, menggunakan kapal penumpang yang diawaki anggota sindikat ini.

Di Tanjungbalai, tas berisi sabu-sabu itu diserahkan kepada terdakwa Budianto. Masudi pun diupah Rp 20 juta. Selanjutnya, Budianto menyerahkan barang haram itu kepada A Hay.

Pengiriman sabu ini kemudian berulang. Pada 14 Oktober 2012, Muhammad Syaful yang disuruh A Hay, membawa 100 gram sabu-sabu dari Port Klang Malaysia.

Sabu-sabu dengan berat total sekitar 3 kg dikirim kepada  A Ti. Sebelumnya, orang suruhan A Hay, yaitu Yusuf dan Andika, sudah lebih dulu menyerahkan 150 gram kepada Budi Winarno, orang suruhan A Ti. Rencananya A Ti akan menyerahkan narkoba itu kepada Cicago, sang pemesan.

"Namun sebelum ransel berisi narkoba tersebut diserahkan kepada Hartono alias A Ti, Yusuf dan Andika telah tertangkap," ujar Saut.

Setelah mendengarkan dakwaan, majelis hakim menunda sidang. Sidang rencananya kembali digelar pekan depan.

Sebelumnya, A Ti ditangkap petugas sepulangnya dari Malaysia, Minggu (15/10). "Dia ditangkap saat turun sepulangnya dari transaksi dengan A Seng," jelas Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri Brigjen (Pol) Arman Depari saat pemaparan penangkapan sindikat ini di Rumah Musi, Jalan Sei Musi, Medan, Senin (15/10/2012).

Namun, jumlah barang bukti saat dipaparkan ketika itu berbeda jauh jika dibandingkan dengan isi dakwaan. Pada dakwaan jumlah narkoba itu dinyatakan sekitar 3 kg, namun ketika dipaparkan jumlahnya disebutkan sekitar 5 kg.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.