Sindir Moeldoko, Gatot Nurmantyo: Tiru Pak Wiranto dan Prabowo

Siti Ruqoyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presidium KAMI yang juga mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo menyayangkan sikap Jenderal (Purn) TNI Moeldoko dalam proses KLB Partai Demokrat. Diketahui, Moeldoko terpilih menjadi Ketua Umum versi KLB.

Dalam sebuah diskusi di salah satu televisi yang dipandu Najwa Shihab, Gatot menyampaikan jika mantan prajurit TNI yang ingin terjun ke politik diharapkan bisa meniru Wiranto dan Prabowo karena mendirikan partai sendiri.

"Saya lebih ingin berbicara dan mengajak siapapun mantan prajurit TNI yang ingin melanjutkan pengabdiannya bidang politik, mari bersama-sama kita landasinya dengan etika prajurit, etika politik yang berkepribadian," ucap Gatot seperti dikutip VIVA, Jumat 12 Maret 2021.

Dia juga meminta untuk mengendepankan sikap seorang prajurit yang bisa dipertangungjawabkan ke keluarga dan mantan prajurit yang mereka sangat percaya dengannya.

"Ini yang harus sama-sama perlu saya sampaikan. Bahwa dalam melaksanakan kompetisi tetap mengedepankan kstaria, beretika dan bermoral sehingga melahirkan politik yang benar-benar dihormati," kata Gatot

"Mengapa demikian, karena seperti saya sampaikan bagaimana saya harus pertanggungjawabkan apalagi saya ikut dengan cara yang tidak terhormat, tidak pernah sedetikpun saya menjadi anggota Demokrat kemudian saya melakukan hal ini,' tambah dia.

Begini pernyataan lengkap Gatot terkait dengan majunya Moeldoko jadi Ketum Demokrat versi KLB:

Dalam menanggapi masalah KLB partai Demokrat yang kita tahu sama-sama melibatkan mantan Panglima TNI.

Saya lebih ingin berbicara dan mengajak siapapun mantan prajurit TNI yang ingin melanjutkan pengabdiannya bidang politik, mari bersama-sama kita landasinya dengan etika prajurit, etika politik yang berkepribadian.

Seperti yang dicontohkan oleh para senior kami di masa lalu, mereka contohnya di Golkar ada Pak Wiranto, Prabowo. Ketika perselisihan, tidak menggunakan kata-kata yang kasar tapi mereka dirikan partai. Pak Jenderal Wiranto partai Hanura, Letjen TNI Pak Prabowo Gerindra bahkan anak pendiri NKRI Surya Paloh yang anaknya seorang polisi mendirikan Nasdem.

Ini yang harus sama-sama perlu saya sampaikan. Bahwa dalam melaksanakan kompetsi tetap mengedepankan kstaria, beretika dan bermoral sehingga melahirkan politik yang benar-benar dihormati.

Mengapa demikian, karena seperti saya sampaikan bagaimana saya harus pertanggungjawabkan apalagi saya ikut dengan cara yang tidak terhormat, tidak pernah sedetikpun saya menjadi anggota Demokrat kemudian saya melakukan hal ini.

Bagaimana saya pertanggungjawabkan kepada istri, anak, cucu dan mantan prajurit yang percaya sama saya dan keluarganya, baik agama, bagimana lukanya itu.