Sindir Susi, Menteri Edhy: 5 Tahun Penelitian Perikanan Cuma Jargon

Dusep Malik, Dinia Adrianjara
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki keunggulan dalam kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan. Hal ini membuat sektor kelautan dan perikanan, mampu menjadi penggerak roda perekonomian nasional.

"Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik ditinjau dari kuantitas maupun diversitas. Banyak hal yang dulunya hanya sekedar kita ambil dari lapangan, dari lautan, baik dari rawa maupun dari pantai bahkan dari laut lepas. Tapi sekarang itu semua sebagian sudah banyak yang bisa kita hasilkan sendiri," kata Edhy dalam forum Jakarta Food Security Summit yang digelar Kadin, Kamis 19 November 2020.

Dia mencontohkan ikan kerapu yang adalah ikan bebas yang tumbuh di karang, kini bisa diperbanyak dengan teknologi karya anak bangsa. Selain itu kepiting, ikan kakap putih dan kakap merah, kini juga telah dikembangkan dengan cukup pesat.

Menurut Edhy, selama ini kalau sekadar jargon yang menjadi hasil penelitian, tapi tak mampu diperbanyak, maka hanya bisa dibanggakan di mata saja. Namun, faktanya, sumber daya dan potensi ini belum dikembangkan secara maksimal.

"Lahan kita, belum sampai 10 persen kalau mau angka pastinya sekitar 8 persen saja yang baru kita lakukan dengan budidaya. Itu pun belum maksimal. Sebagai catatan, tambak udang yang satu hektare sekarang sudah mampu menghasilkan rata rata 20 ton bahkan kemarin kami di Muara Gembong, sudah ada kelompok masyarakat yang menghasilkan sekali panen 40 ton," ungkap Edhy.

Di samping itu, politikus Partai Gerinda tersebut mengatakan renewable juga masih terus bisa diperbarui dan diperbanyak apalagi kelautan dan perikanan memiliki keterkaitan kuat dengan industri lain, yang akhirnya memiliki efek pengganda.

"Kalau kita melihat 5 tahun lalu para industriawan di sektor ini berhenti hanya karena beberapa kebijakan yang mengadu, dihadapkan antara sustainability keberlangsungan dengan prosperity. Padahal kalau kita melihat secara bijak untuk apa kita bicara sustainability saja kalau prosperity tidak kita dapat. Sebaliknya, untuk apa kita mengejar prosperity kalau sustainability kita abaikan," kata dia.

Edhy menyebut dua kutub ini yang selama ini selalu dihadapkan. Padahal menurutnya jika secara bijak tekun dan teliti menganalisis, semua sektor tersebut bisa dijalankan secara bersama.

"Sebagai misal kalau orang buka tambak selalu diperhadapkan dengan bagaimana lahannya, padahal untuk menyejahterakan masyarakat, memberi kehidupan layak, tidak perlu sampai berhektare lahan. Sementara kita lihat di lapangan banyak masyarakat punya tambak lebih dari dua hektare di luar jawa. Tapi rata-rata produktivitasnya tidak pernah bisa lebih dari satu ton," ujar Edhy. (ren)