Sindiran Halus Vladimir Putin ke AS yang Mundur dari Afghanistan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia, Vladimir Putin, memberikan sindiran halus ke Amerika Serikat yang baru saja angkat kaki dari Afghanistan. Putin mengomentari proses mundurnya pasukan AS yang tidak teratur.

Seperti diketahui, AS langsung evakuasi besar-besaran ketika pasukan Taliban masuk ke ibu kota Kabul. Ada orang yang jatuh dari atas pesawat, bahkan jenazahnya tersangkut di mesin pesawat, karena nekat duduk di sisi pesawat yang lepas landas.

Vladimir Putin lantas menyorot bahaya di Afghanistan setelah AS mundur secara buru-buru.

"Tepat setelah yang tergesa-gesa, untuk diucapkan secara halus, mundur yang tergesa-gesa dari pasukan AS dan sekutu-sekutunya dari Afghanistan dan ada bangkitnya kekuasaan Taliban, kami berbagi pandangan pada bahaya-bahaya yang situasi yang berubah secara drastis di negara itu," ujar Presiden Vladimir Putin, seperti dilansir media pemerintah TASS, Jumat (17/9/2021).

Putin berbicara di acara Collective Security Treaty Organization (CSTO) yang anggotanya terdiri atas eks negara-negara Soviet: Armenia, Belarusia, Kazakhstan, Kirgizstan, Rusia, dan Tajikistan.

Taliban dilarang di Rusia. Kebangkitan kelompok itu lantas menjadi dorongan bagi anggota CSTO untuk lebih akrab.

"Semuanya setuju terkait kesimpulan bahwa di tengah lingkungan terkini, sebuah kerja sama yang erat dibutuhkan antara negara anggota lebih dari sebelumnya," kata Putin.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pemimpin Taliban Masuk Daftar 100 Orang Berpengaruh Dunia Versi TIME 2021

Pasukan Taliban berjaga di luar Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 31 Agustus 2021. Taliban menguasai Bandara Kabul setelah Amerika Serikat menarik semua pasukannya dari Afghanistan. (WAKIL KOHSAR/AFP)
Pasukan Taliban berjaga di luar Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, 31 Agustus 2021. Taliban menguasai Bandara Kabul setelah Amerika Serikat menarik semua pasukannya dari Afghanistan. (WAKIL KOHSAR/AFP)

Sementara itu, Mullah Abdul Ghani Baradar, salah satu pendiri Taliban, mendapat tempat dalam daftar global 100 Most Influential People of 2021 atau 100 Orang Paling Berpengaruh tahun 2021 versi Majalah TIME.

Kepala kantor politik Taliban di Doha, Mullah Baradar, dipuji karena merundingkan kesepakatan damai Doha antara Taliban dan AS. Dia adalah anggota pendiri Taliban dan merupakan rekan dekat pendiri gerakan itu Mullah Omar.

Dia dikatakan membuat semua keputusan besar, termasuk amnesti yang ditawarkan kepada anggota rezim sebelumnya, kurangnya pertumpahan darah ketika Taliban memasuki Kabul dan kontak serta kunjungan rezim dengan negara-negara tetangga, terutama China dan Pakistan.

Abdul Ghani Baradar ditunjuk sebagai wakil Mullah Akhund, kepala pemerintahan sementara baru Taliban, awal bulan ini. Peran utama yang diberikan kepada pemimpin lain yang lebih dapat diterima oleh generasi komandan Taliban yang lebih muda dan garis keras.

Sebuah profil karya jurnalis Pakistan Ahmed Rashid tentang Mullah Baradar di Majalah TIME yang dikutip Kamis (16/9), menggambarkan dia sebagai "titik tumpu untuk masa depan" Afghanistan.

Ahmed Rashid melanjutkan dengan menulis, "Seorang pria pendiam dan tertutup yang jarang memberikan pernyataan atau wawancara publik, Baradar tetap mewakili arus yang lebih moderat di dalam Taliban, yang akan menjadi pusat perhatian untuk memenangkan dukungan Barat dan sangat membutuhkan bantuan keuangan.

"Pertanyaannya adalah apakah orang yang membujuk Amerika keluar dari Afghanistan dapat mempengaruhi gerakannya sendiri."

Mullah Abdul Ghani Baradar begitu dihormati di kalangan Taliban, sebagai anggota pendiri gerakan itu pada tahun 1994. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin militer karismatik dan sosok yang disebutkan sangat saleh.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel