Singapura Jadi Negara Favorit Kerja Jarak Jauh Lintas Negara

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Semenjak hantaman pandemi Covid-19, banyak pekerja yang dipaksa merubah pola kerjanya dari bekerja di kantor menjadi bekerja jarak jauh.

Bukan hanya bekerja dari rumah, beberapa mempertimbangkan bekerja jarak jauh dari negara yang berbeda. Negara-negara di Asia khususnya Asia Tenggara merupakan yang paling favorit.

Adrien Pierson, Co-Founder MillionSpace, situs pemesanan ruang kerja yang berbasis di Singapura dan Sri Lanka menyebut Asia merupakan destinasi yang atraktif untuk menarik perhatian pekerja yang ingin bekerja jarak jauh.

"Kamu hampir mencapai masa pensiun 20 tahun lebih awal," ujarnya seperti dikutip dari CNBC (17/2/2021)

Menurut Pierson, destinasi seperti Bali, Phuket, Da Nang dan Siem Reap merupakan tujuan favorit untuk bekerja sambil bersantai. Ada juga Singapura dan Hongkong yang populer sebagai destinasi dengan layanan bisnis startegis dan infrastruktur premium.

Selain itu, kota lainnya seperti Bangkok, Hanoi, Kuala Lumpur juga Colombo dianggap mewakili dua penilaian sebelumnya, memiliki infrastruktur yang modern namun juga nyaman sebagai destinasi tempat tinggal sementara pekerja jarak jauh.

Meski banyak jadi incaran wisatawan mancanegara (wisman) yang hanya ingin tinggal sementara, hingga saat ini masih belum ada negara di Asia Tenggara yang mengumumkan akan membuka program untuk menarik kedatang pekerja jarak jauh ke negara mereka.

Sudah hampir genap setahun Bali menutup pintu untuk kedatangan wisman. Begitupun dengan Thailand, yang memberlakukan aturan ketat bagi turis luar negeri.

Pemerintah Thailand mewajibkan karantina mandiri selama dua minggu dan hanya boleh tinggal maksimal 90 hari dengan kesempatan untuk memperbarui visa maksimal dua kali. Wisman juga harus punya asuransi kesehatan senilai USD 100 ribu

Riset: WFH Pakai Baju Tidur atau Piyama Tak Baik untuk Kesehatan Mental

(c) Shutterstock
(c) Shutterstock

Bekerja dari rumah atau work from home tampak seperti ide yang sangat menarik ketika pertama kali diperkenalkan. Ide tersebut pun akhirnya benar-benar diterapkan ketika pandemi COVID-19 menyerang dunia.

Bayangkan, kita tidak perlu bangun pagi dan pergi ke kantor. Seketika Anda bangun dari tidur dan sekejap itu pula jam kerja Anda dimulai.

Bagian terbaiknya? Kita tidak perlu repot-repot berdandan atau sibuk memikirkan pakaian apa yang akan dikenakan.

Cukup dengan celana panjang dan kaus yang dipakai tidur semalam, Anda siap untuk bekerja.

Namun, mempertahankan kebiasaan WFH seperti itu --terlebih untuk jangka waktu lama, di mana pandemi COVID-19 belum juga berakhir-- dinilai tidak baik untuk kesehatan mental seseorang, menurut sebuah riset.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Medical Journal of Australia menemukan bahwa mengenakan piyama saat bekerja dari rumah kemungkinan akan berkontribusi pada kesehatan mental yang buruk, demikian seperti dikutip dari Mashable Asia, Minggu (7/1/2021).

Meskipun penelitian itu dilakukan dalam konteks Australia, sebagian besar dunia masih dalam pergolakan pandemi dan peneliti meyakini bahwa persoalan serupa mungkin dirasakan oleh sejumlah orang yang menerapkan WFH saat ini.

Penelitian, yang dilakukan selama pertengahan lockdown 2020 sekitar bulan April dan Mei, menemukan bahwa mereka yang mengenakan piyama saat bekerja dari rumah melaporkan kesehatan mental yang lebih buruk daripada mereka yang memiliki dan mengurus anak kecil saat WFH.

Riset itu dilakukan pada staf dan mahasiswa lembaga penelitian medis di Sydney. Mereka menilai efek memakai piyama pada produktivitas dan kesehatan mental staf institut medis secara keseluruhan bekerja dari rumah.

"Lebih banyak peserta yang mengenakan piyama pada siang hari setidaknya satu hari seminggu melaporkan bahwa kesehatan mental mereka telah menurun saat bekerja dari rumah," baca laporan tersebut.

Namun, mengenakan piyama untuk bekerja tidak berarti produktivitas Anda akan berkurang. Itu hanya berarti kesehatan mental Anda bisa memburuk dari waktu ke waktu.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: