Singapura Minta Karyawan Tetap Kerja di Rumah Meski Lockdown Berakhir

Lutfi Dwi Puji Astuti

VIVA – Wabah virus corona melanda hampir di seluruh negeri. Namun sejumlah negara mulai melakukan pelonggaran kebijakan lockdown yang sempat diberlakukan. Meski demikian, Singapura justru merasa, masih perlu berhati-hati. Pemerintah Singapura bahkan mengatakan karyawan perusahaan yang dapat bekerja dari rumah mungkin harus terus melakukannya bahkan setelah lockdown sebagian negara berakhir pada 1 Juni 2020.

Dikutip laman Gulf, meski karyawan yang bisa melakukan aktivita skerja dari rumah, pemerintah Singapura akan tetap mengizinkan sektor-sektor seperti manufaktur, yang mengharuskan pekerja berada di lokasi tetap bekerja. Tetapi, pemerintah mengimbau harus mulai membuat persiapan untuk pembukaan kembali ekonomi secara bertahap dalam beberapa minggu mendatang.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Chan Chun Sing mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu, 3 Mei 2020, para pekerja harus menerapkan langkah-langkah berkelanjutan untuk mencegah penyebaran wabah coronavirus atau COVID-19. 

Pihak berwenang pada hari Sabtu mengatakan beberapa tempat kerja dan layanan publik akan kembali beroperasi mulai 12 Mei 2020, sementara untuk sebagian kegiatan pendidikan akan diizinkan kembali ke belajar di sekolah pada minggu berikutnya. 

Seperti diketahui, lebih dari 80 persen tenaga kerja di Singapura sekarang bekerja di rumah setelah negara menerapkan langkah-langkah pemutus rantai virus corona, termasuk melakukan penutupan sekolah dan sebagian besar tempat kerja pada awal April 2020.

Bagi mereka yang mampu pihak pemerintah meminta untuk tetap bekerja dari rumah. "Kami mengharapkan mereka untuk terus bekerja dari rumah di masa mendatang," kata Chan. 

"Banyak orang telah terbiasa dengan penggunaan platform Internet. Untuk pekerjaan yang tidak memerlukan banyak kegiatan di kantor, mereka akan terus berlanjut, dan ini membentuk sebagian besar ekonomi kita."

Singapura melaporkan data Minggu, 3 Mei 2020, ada penambahan kasus corona yakni sebanyak 657. Sehingga total kasus corona di negara itu menjadi lebih dari 18.200. 

Mayoritas infeksi di Singapura terkait dengan pekerja migran yang tinggal di asrama sempit dan tidak bersih.

"Jumlah kasus di antara pekerja migran telah berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir karena pembersihan kasus yang ditumpuk oleh satu laboratorium," Kementerian Kesehatan mengatakan pada hari Minggu. 

Membuka kembali industri

Chan mengatakan, terlepas dari industri biomedis dan petrokimia, yang tetap buka, Singapura memprioritaskan bisnis yang penting sebagai rantai pasokan global, tetap melanjutkan operasinya mulai 12 Mei 2020. 

Perusahaan yang memulai kembali pekerjaan harus memastikan karyawan menjaga jarak aman satu sama lain, memiliki tempat istirahat yang tepat, dan melakukan tes jika diperlukan untuk kelompok berisiko lebih tinggi. Karyawan juga tidak boleh bergaul dan berinteraksi di luar pekerjaan, katanya.

Kementrian Kesehatan Singapura juga mengatakan, produsen makanan, bisnis makanan berbasis rumah, beberapa gerai ritel untuk pengiriman dan takeaways, dan layanan binatu serta jasa cukur dan tata rambut diizinkan untuk memulai kembali operasi dari 12 Mei 2020. 

Siswa yang mengikuti ujian nasional dan mereka yang berada di beberapa kampus pendidikan tinggi akan diizinkan kembali ke sekolah dalam jumlah kecil mulai 19 Mei 2020. 

Perjuangan melawan infeksi virus corona tetap membuat pemerintah Singapura tetap waspada. Bahkan pihaknya terus mempelajari langkah-langkah apa yang akan disesuaikan pada Juni. Pembatasan pada pergerakan pekerja asing di asrama akan diperpanjang hingga 1 Juni karena negara itu terus memerangi lonjakan kasus coronavirus.

Meski demikian, langkah-langkah penanggulangan virus corona akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi.