Singgung Buzzer dan Demokrasi Menurun, AHY Jadi Sorotan Lintas Negara

·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menyampaikan pidato politiknya dalam rangka 50 tahun Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Ada beberapa isu krusial yang disampaikan AHY dan mendapat perhatian dari kalangan akademisi.

Salah satu akademisi yang menyoroti adalah Prof Sulfikar Amir dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Dia menyebut pidato AHY yang menyinggung isu terkait persoalan sosial politik Indonesia mulai penanganan pandemi COVID-19, kualitas demokrasi menurun, keberadaan buzzer, hingga dampak disrupsi telah menarik perhatiannya.

"AHY sudah benar mengatakan mengenai resiliensi (ketahanan), sebagai kapasitas yang harus dimiliki oleh suatu bangsa seperti Indonesia," kata Sulfikar, dalam keterangannya, Rabu, 25 Agustus 2021.

Baca Juga: AHY: Ada Profesi Baru sebagai Buzzer, Kerjaannya Sebar Fitnah

Menurut dia, akan menjadi lebih menarik jika resiliensi bisa diperkuat melalui institusi dengan setiap perannya. Ia bilang, sebagai partai di luar pemerintah, Demokrat pun mesti punya peranan penting dalam negara demokrasi seperti Indonesia.

"Resiliensi mencakup bagaimana kita berpolitik, bagaimana demokrasi disusun, proses pembuatan kebijakan dilakukan hingga partisipasi publik itu didorong," ujar Sulfikar.

Sementara, pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai pidato AHY berbeda dengan ketua umum parpol lainnya. Kata dia, AHY menyampaikan pidatonya dengan kalimat kritis dan tajam seperti penanganan pandemi COVID-19, demokrasi meredup, hingga keberadaan buzzer.

Namun, ia melihat hal itu wajar karena AHY memimpin parpol oposisi di luar pemerintah. Meski demikian, ia menyoroti ucapan AHY soal kritik Demokrat terhadap pemerintah yang kerap dianggap sebagai lawan.

"Betul kata mas AHY bahwa pada dasarnya kita ingin rakyat selamat. Itulah sebabnya berbagai elemen masyarakat sipil mengkritik dan memberi masukan pada Pemerintah," tutur Ubedilah.

Menurut dia, kritik sebagai hal normal dalam kehidupan negara demokrasi. Pemerintahan negara demokrasi yang sehat bisa menerima setiap kritikan.

"Jangan dianggap sebagai lawan, apalagi kemudian dihadapi dengan bullying, represi, bahkan diburu seperti penjahat," ujarnya.

AHY dalam pidato politiknya di acara 50 tahun CSIS menyampaikan kualitas demokrasi di Indonesia saat ini mengalami penurunan. Ia menyoroti peran buzzer yang seperti jadi profesi baru dengan cara kerja menebar fitnah. Kemudian, ia juga memberikan catatan terhadap pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel