Singgung Kuli di Negeri Sendiri, Ini Pidato Lengkap Ketua DPR di Sidang Tahunan MPR

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua DPR Puan Maharani mewanti-wanti soal pembangunan karakter bangsa termasuk masa depan industri dalam negeri. Puan mengatakan, Indonesia tak sepatutnya hanya menjadi sasaran produk luar negeri namun mampu memberdayakan pelbagai produk-produk dalam negeri.

"Kita juga tidak ingin bangsa Indonesia hanya menjadi kuli di negerinya sendiri. Kita harus Bangga menggunakan Produk Anak Bangsa Indonesia," kata Puan dalam pidato Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8).

Berikut isi pidato lengkap Puan di sidang tahunan MPR:

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Salam Sejahtera untuk kita semua
Om swastiastu
Namo buddhaya
Salam Kebajikan

Yang Terhormat, Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Iriana Joko Widodo,

Yang Terhormat, Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Wury Estu Handayani Ma'ruf Amin,

Yang Terhormat, Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ibu Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri.

Yang Terhormat, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Bapak Try Sutrisno.

Yang Terhormat, Wakil Presiden ke-9 Republik Indonesia, Bapak Hamzah Haz.

Yang Terhormat, Wakil Presiden ke-10 dan 12 Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla.

Yang Terhormat, Wakil Presiden ke-11 Republik Indonesia, Bapak Boediono.

Yang Terhormat, Wakil Ketua dan Anggota DPR RI,

Yang Terhormat, Ketua, Para Wakil Ketua, dan Anggota DPD RI,

Yang Terhormat, Ketua dan Para wakil Ketua Lembaga Negara,

Yang Terhormat, Para Menteri Kabinet Indonesia Maju,

Yang Terhormat, Panglima TNI

Yang Terhormat, Kapolri

Yang Mulia para Duta Besar/Kepala Perwakilan Negara Sahabat,

Yang Terhormat, Para Ketua Umum Partai Politik,

Yang Terhormat, Rekan-rekan Pers, Para undangan dan hadirin yang berbahagia.

Yang kami muliakan, Seluruh Rakyat Indonesia.

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, karunia, dan hidayah-Nya, sehingga pada hari ini kita dapat menghadiri Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI.

Sebagai Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, tentu kita harus selalu bersyukur, karena Bangsa dan Negara kita tetap dapat Bersatu dalam menghadapi situasi yang sulit untuk menghadapi Pandemi Covid-19, Pemerintah Negara tetap dapat menjalankan tugasnya untuk melindungi segenap rakyat dan tumpah darah serta mensejahterakan rakyat.

Sejak kasus pertama kali Covid-19 di Indonesia diumumkan, yaitu pada tanggal 2 Maret 2020, hingga saat ini, kita telah berada selama 29 bulan dalam situasi Pandemi Covid-19. Dan kini kita mulai memasuki masa transisi dari pandemi menuju endemi, yang tetap perlu terus diwaspadai.

Selama masa Pandemi Covid-19 melanda negeri ini, kita melihat ideologi Pancasila telah bekerja dengan konkrit memandu bangsa Indonesia menciptakan gerakan gotong royong yang masif. Secara bergantian, dengan kesadarannya sendiri, warga masyarakat kita saling tolong-menolong. Dan gerakan itu terjadi hampir di seluruh penjuru negeri. Gotong royong dalam skala besar ini saya yakini menjadi salah satu kunci utama kekuatan pemulihan sosial dan ekonomi pasca-pandemi bangsa Indonesia.

Pada tahun 2020, ketika Pandemi Covid-19 mulai melanda dan mengancam kehidupan rakyat, Pemerintah telah diberikan ruang kewenangan yang cukup untuk mengambil tindakan cepat dan antisipatif demi keselamatan rakyat dan memastikan jalannya pemerintahan, melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang tentang Penanganan Pandemi Covid-19 diproses secara cepat dan cermat di DPR RI sehingga tidak terjadi kekosongan payung hukum untuk menangani pandemi yang melanda sebagian besar negara di dunia.

Alhamdulillah, berkat kerja bersama kita semua, gotong royong, Pandemi Covid-19 dapat ditangani dengan baik. Bahkan dalam rilis data Johns Hopkins University terkait penanganan Covid-19 pada tahun 2021, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara terbaik di dunia dalam menangani Pandemi Covid-19. Inilah hasil Kerja Bersama kita, gotong royong melawan Pandemi Covid-19.

Dalam kesempatan yang mulia ini, mari kita berikan apresiasi secara khusus kepada seluruh anak bangsa yang telah berada di garis terdepan untuk membantu rakyat dalam menghadapi ancaman Pandemi Covid-19; terimakasih kepada tenaga kesehatan dan medis, terimakasih TNI, terimakasih POLRI, terimakasih Satgas Covid-19 di pusat dan daerah, serta terimakasih para relawan kemanusiaan.

Kemampuan kita dalam menghadapi Pandemi Covid-19, semakin membuktikan bahwa kekuatan gotong royong, kerja bersama, saling bantu binantu, hulupis kuntul baris, yang merupakan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila, merupakan kekuatan nasional kita yang paling utama dalam menjaga kehidupan dan penghidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita.

Meninggalkan Pancasila sama halnya mencabut jati diri bangsa dari akar terdalamnya dan mengkhianati amanat para Pandiri Bangsa. Mengganti Pancasila akan berdampak pada hilangnya karakter sebagai bangsa yang ramah, toleran, dan bergotong royong.

Saudara Presiden dan Saudara Wakil Presiden, Hadirin sidang yang terhormat, dan
Seluruh Rakyat Indonesia yang kami muliakan

Esok, tanggal 17 Agustus 2022, adalah 77 tahun Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Semangat untuk merdeka, yang digelorakan 77 tahun yang lalu, adalah semangat untuk dapat menyusun bangsa dan nasib tanah air oleh Bangsa Indonesia sendiri, sehingga dapat mewujudkan kehidupan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Telah 77 tahun lamanya, kita telah menyusun dan membangun kemajuan Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Pasang surut gelombang pembangunan, disertai dengan gelombang globalisasi dan kemajuan teknologi, telah menggerakan berbagai reformasi dan transformasi di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Tugas membangun bangsa dan negara kita kedepan, menghadapi tantangan dan kendala yang tidak ringan: kita masih menghadapi ketidakpastian situasi Pandemi Covid-19, konflik geopolitik, pemulihan ekonomi global ditengah kerentanan pangan, energi, pengangguran, tekanan moneter global, degradasi lingkungan hidup, serta ancaman bencana alam dan sebagainya.

Saat ini kita juga berada dalam era globalisasi; era kemajuan teknologi dan industri yang semakin cepat dan dinamis; yang telah menempatkan masyarakat kita terbuka dan terhubung secara sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sehingga berbagai ideologi transnasional, cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup, dengan mudah masuk mempengaruhi kedalam kehidupan rakyat Indonesia. Hal tersebut belum tentu sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia; Bahkan dapat menggerus nilai-nilai luhur bangsa dan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia, seperti nilai-nilai agama, budaya, sopan santun, etika, dan toleransi serta sikap saling menghormati di antara sesama bangsa Indonesia.

Apabila kebudayaan yang berkembang di wilayah Indonesia dibiarkan secara alamiah, maka tidak mustahil ideologi dan budaya transnasional akan menjadi tuan di negeri ini. Tidak akan ada lagi jati diri ke-Indonesiaan, jati diri kita yang bisa dibanggakan. Tentu saja kita tidak anti budaya asing. Kita tidak dapat mengisolasi diri dari pengaruh budaya asing. Akan tetapi dengan kepribadian jiwa bangsa yang kuat, maka budaya asing dapat disaring dan dilarutkan dalam kebudayaan nasional.

Kita, sebagai bangsa dan negara, semakin dituntut untuk dapat memiliki kemampuan dan kekuatan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya, agar dapat mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian berlandaskan Pancasila.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua, seluruh pemangku kepentingan, seluruh anak bangsa, untuk membangun kekuatan nasional kita, yang dimulai dari kesadaran, kemauan dan komitmen untuk ikut ambil bagian dalam kerja bersama, gotong royong, memajukan Indonesia di segala bidang; Komitmen dan Kebersamaan yang bersumber dari cinta pada tanah air dan cinta pada bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ber-Pancasila dan Ber-Bhineka Tunggal Ika.

Banyak cara dalam berpartisipasi, bergotong royong, kerja bersama menyusun dan membangun Indonesia; ada dengan cara menjadi Aparatur Sipil Negara, menjadi swasta, ada juga yang bergerak dalam dunia pendidikan, mengabdi dibidang sosial, bidang religius, bidang kesehatan, politik, bergerak di bidang jurnalistik, pers, olahraga, kesenian, pengamat, dan lain sebagainya. Seluruh partisipasi tersebut dapat diartikulasikan dalam bentuk gagasan, kerja, prestasi, gerakan, kritik, dan lain sebagainya.

Semua bentuk partisipasi menyusun dan membangun Indonesia tersebut apabila ditujukan untuk memajukan Indonesia maka arah dari kerja bersama tersebut akan memberikan energi yang positif bagi produktifitas memajukan Indonesia, memperkuat kebersamaan rakyat, mempersatukan rakyat, memperkuat semangat kebangsaan Indonesia, serta membudayakan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, Pancasila sebagai bintang penuntun arah perjalanan bangsa, akan benar-benar menjadi energi yang mewujudkan jiwa pengabdian untuk bangsa dan negara.

Dengan jiwa pengabdian membangun Indonesia, maka Politik Pembangunan Indonesia dalam mengisi kemerdekaan dapat fokus pada upaya-upaya untuk kesejahteraan rakyat, kemajuan pembangunan diseluruh wilayah tanah air, dan pembangunan kebudayaan nasional.

Politik pembangunan membutuhkan tahapan pelaksanaan, prioritas, pengelolaan sumber daya, dan perencanaan pembangunan nasional. Sasaran Pembangunan, tidak hanya pembangunan fisik akan tetapi juga menjangkau pembangunan karakter bangsa.Politik Pembangunan merupakan upaya melalui cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup agar dapat mencapai kemajuan dan mewujudkan tujuan nasional.

Bagaimana kita dapat mewujudkan pembangunan nasional yang terencana, terkoordinasi, terintegrasi, dan berkelanjutan?

Pasca Amandemen UUD 1945, perencanaan pembangunan jangka panjang, sebagai arah dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang dilakukan secara bertahap, dirumuskan dalam Undang Undang, yaitu Undang Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Keberadaan Undang Undang ini dalam memberikan arah dan prioritas pembangunan nasional secara menyeluruh, dirasakan belum optimal; bahkan setiap Presiden, Gubernur, dan Bupati/Walikota memiliki visi misi pembangunannya masing-masing. Visi dan misi berbangsa dan bernegara digantikan dengan visi dan misi perseorangan setiap Presiden dan Kepala Daerah.

Realitas tersebut yang mengakibatkan pembangunan nasional bangsa Indonesia, sulit berkesinambungan, berorientasi pada jangka pendek, kadar kepentingan nasional yang berbeda-beda, sehingga terkesan Pembangunan Nasional hanya dari proyek ke proyek.

Politik pembangunan kedepan hendaknya dapat mengintegrasikan seluruh wilayah, seluruh pemerintahan pusat dan daerah, dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, kemajuan bangsa, dan kebudayaan nasional.

Dalam mempercepat capaian kemajuan Indonesia, selain pemulihan sosial dan ekonomi nasional maka agenda strategis kedepan perlu memperkuat dan mempertajam upaya-upaya yang diarahkan pada: pembangunan kualitas dan karakter nasional manusia Indonesia; pembangunan kedaulatan pangan nasional; penguatan industri nasional; pemerataan pembangunan infrastruktur; serta reformasi birokrasi yang nyata.

Kita perlu memberikan perhatian yang besar pada generasi muda Indonesia; Kedepan merekalah yang akan mewarisi Indonesia.

Saat ini Generasi muda Indonesia telah banyak menunjukan prestasi yang membanggakan baik di bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Digital, Seni Budaya, Olahraga, startup dan lain sebagainya. Kedepan, berbagai upaya agar diarahkan untuk memperkuat kemudahan akses dan kesempatan untuk memperoleh Pendidikan disetiap jenjang; memperkuat vokasional; memperkuat ruang kewirausahaan.

Kita perlu memperkuat upaya yang fokus pada peningkatkan produktivitas pangan, industri pangan dan kesejahteraan petani; Kedepan jangan terjadi lagi permasalahan seperti kelangkaan Minyak Goreng di negeri sendiri, yang merupakan negara penghasil CPO terbesar di dunia.

Kita tidak ingin hanya menjadi sasaran pasar dari produk luar; kita ingin dapat berdikari di bidang ekonomi melalui industri nasional. Kita juga tidak ingin bangsa Indonesia hanya menjadi kuli di negerinya sendiri. Kita harus Bangga menggunakan Produk Anak Bangsa Indonesia.

Pemerataan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia membutuhkan perhatian kita semua; Kemajuan pembangunan di daerah adalah Kemajuan Indonesia.

Jumlah Aparatur Sipil Negara kita saat ini, lebih dari 3,9 juta. Reformasi Birokrasi yang dijalankan oleh Aparatur Sipil Negara, merupakan sebuah modal kekuatan dalam mempercepat kemajuan Indonesia; Aparatur Sipil Negara harus meninggalkan sikap ‘’membenarkan yang biasa” dan mulai dengan semangat baru yaitu “membiasakan yang benar”

Agenda strategis nasional kedapan lainnya adalah Pembangunan Ibu Kota Nusantara sebagaimana yang telah diamanatkan oleh UU No 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara.

• DPR RI telah memberikan dukungan untuk Pembangunan Ibu Kota Negara.

• Ibu Kota Negara, Nusantara, diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan, menjadi simbol identitas nasional, dan menjadi kota dunia ideal yang dapat menjadi acuan dunia.

• Ibu Kota Negara telah menjadi amanat Undang Undang yang akan dilaksanakan sesuai dengan Peta Jalan serta Pentahapan Pembangunan, pemindahan, dan penyelenggaraan pemerintahan daerah khusus Ibu Kota Negara.

• Keberhasilan Pembangunan Ibu Kota Negara, selain membutuhkan perencanaan dan manajemen sumber daya yang baik, juga sangat ditentukan oleh dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dan seluruh anak bangsa, untuk dapat selaras dalam memaknai Ibu Kota Negara sebagai agenda kita bersama dalam membangun ekonomi Indonesia masa depan dan momentum dalam melaksanakan paradigma pemerataan pembangunan nasional.

Arah dan prioritas agenda-agenda pembangunan nasional kedepan membutuhkan landasan hukum yang memadai untuk dapat dilaksanakan oleh setiap pemerintahan, sehingga pembangunan fisik dan pembangunan karakter bangsa dapat berkesinambungan dalam mencapai tujuan nasional.

Kita perlu rembuk bersama, untuk menentukan kemana arah pembangunan bangsa dan negara Indonesia kedepan yang dapat menjadi acuan seluruh pemangku kepentingan.

Saudara Presiden dan Saudara Wakil Presiden, Hadirin Sidang yang terhormat, dan Seluruh Rakyat Indonesia yang kami muliakan

Demokrasi di Indonesia berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila, yaitu suatu pelaksanaan permusyawaratan dan perwakilan rakyat yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan yang menjangkau untuk seluruh rakyat Indonesia, yang memiliki keberagaman suku, bahasa, agama, keyakinan, budaya dan karakteristik wilayah.

Dengan demokrasi yang berlandaskan Pancasila, maka setiap kebijakan negara diarahkan untuk mempersatukan seluruh komponen bangsa Indonesia sehingga dapat melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan seluruh rakyat, mencerdaskan kehidupan seluruh anak bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Demokrasi adalah alat untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Pemilu merupakan upaya untuk menyempurnakan demokrasi. Oleh karena itu, dalam membangun peradaban demokrasi di Indonesia agar semakin maju; maka diperlukan Pelaksanaan Pemilu yang berkualitas; dibutuhkan Partai Politik peserta Pemilu yang semakin maju dalam mengartikulasikan kepentingan rakyat dan senantiasa memegang teguh komitmennya untuk menjaga dan mengawal Pancasila serta memperkukuh Persatuan Bangsa.

Pelaksanaan Pemilu Legislatif, Presiden dan Pilkada Serentak akan dilaksanakan pada tahun 2024. Tahapan Pemilu sudah dan sedang dijalankan oleh KPU. Menjadi komitmen kita bersama, untuk menjadikan Pemilu 2024 sebagai Pemilu yang demokratis, jujur, adil dan bermartabat.

Kita semua dapat merasakan, bahwa tahun politik sepertinya datang lebih awal. Perbincangan tentang suksesi kepemimpinan nasional menjadi topik di media sosial hingga warung-warung kopi di penjuru negeri. Fakta ini tentu menggembirakan, sebab masyarakat kita sudah dewasa dalam menghadapi perbedaan pilihan politik. Sejak pemilu demokratis kembali digelar pada tahun 1999, masyarakat sudah mengajarkan kepada kita semua bagaimana menyikapi perbedaan dalam politik. Kita tentu paham kapan waktu bertanding, dan kapan waktu bersanding. Marilah kita bangun komitmen bersama untuk melaksanakan pesta demokrasi dengan aman, damai, bersuka ria dan tanpa memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Di dalam negara demokratis, terdapat ruang partisipasi rakyat. Negara memastikan ruang partisipasi rakyat tersebut dapat terselenggara dengan baik dan tidak tak terbatas. Demokrasi menjamin partisipasi warga bangsa dalam mengartikulasikan hak politik, hak sosial, hak budaya dan hak ekonomi.

Bahkan juga memberikan ruang artikulasi kaum perempuan dalam segala bidang. Menyertakan perempuan dalam setiap jabatan bukan sebagai kebijakan afirmatif, akan tetapi merupakan kesadaran atas penghargaan harkat dan martabat manusia. Perempuan Indonesia telah banyak aktif dan mengambil peran yang strategis di segala bidang: ekonomi, sosial, politik, lingkungan hidup, olahraga, ilmu pengetahuan, riset, dan lain sebagainya. Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayapnya sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali. Inilah semangat yang juga harus kita tanamkan bersama dalam membangun kehidupan demokrasi di Indonesia, dimana perempuan dan laki-laki dalam harkat, martabat, kemajuan dan kesejahteraan yang sama.

Demokrasi bukanlah kebebasan tak terbatas. Batas dari hak setiap warga bangsa di dalam negara demokratis adalah menjamin hak warga bangsa yang lain sama pentingnya; hak warga bangsa dibatasi oleh hak warga bangsa yang lainnya. Oleh karena itulah peran Negara diperlukan untuk menjamin hak berdemokrasi yang sama bagi semua warga bangsa; hak mendapatkan rasa aman yang sama bagi semua warga bangsa; hak untuk hidup tentram yang sama bagi semua warga bangsa. Inilah tugas kita bersama, untuk membangun peradaban demokrasi yang memuliakan nilai kemanusiaan dan menjaga martabat bangsa.

Saudara Presiden dan Saudara Wakil Presiden, Hadirin sidang yang terhormat, dan Seluruh Rakyat Indonesia yang kami muliakan

Dengan tema peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-77, yaitu “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”, maka menjadi momentum bagi kita dalam mengambil tekad dan upaya untuk segera kembali melanjutkan pembangunan nasional untuk kemajuan Indonesia.

MPR RI, DPR RI dan DPD RI, sesuai dengan kewenangan konstitusionalnya, akan terus bersinergi dengan Pemerintah dan masyarakat untuk percepatan pemulihan kondisi disemua sektor kehidupan. Sebagai anak bangsa, kita semua siap “Cancut Taliwondo,” menyingsingkan lengan baju, agar kita segera pulih dan bangkit untuk menjemput impian kolektif kita sebagai bangsa yakni Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Selama 77 tahun, kita menyusun dan membangun Indonesia, telah banyak berbagai perkembangan dan kemajuan, baik dari sisi tata negara, sistem demokrasi, sistem pemerintahan, kehidupan dan penghidupan rakyat; telah banyak capaian dan prestasi anak bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Masih terdapat berbagai kekurangan dan ketidak sempurnaan dalam kita menyusun dan membangun negara Indonesia; hal tersebut membutuhkan kerja bersama kita untuk terus menyempurnakannya; ketidaksempurnaan dalam kita membangun negara, bukan menjadi alasan untuk memusuhi negara, mencaci maki negara; janganlah kita selalu mengutuk kegelapan tetapi marilah kita mulai hidupkan lilin penerang, yang dapat memberikan cahaya, sekecil apapun itu, sehingga dapat memberikan ruang gerak dan keleluasaan dalam bekerja dan membangun bangsa.

Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, tegas menyatakan Kemerdekaan Nasional adalah Jembatan Emas. Jembatan Emas menuju Indonesia adil makmur, sejahtera. Bangsa dan negara kita, memiliki gagasan untuk merdeka, memiliki jiwa rakyat untuk bersatu, memiliki wilayah zamrud khatulistiwa yang kaya raya, memiliki kekayaan budaya bangsa. Marilah kita bersama-sama, kerja bersama, bergotong royong, mengisi ruang-ruang bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, untuk mensejahterakan rakyat, memajukan kehidupan bangsa, dan membangun kebudayaan nasional; semangat bersama dan bersatu untuk memajukan Indonesia Raya yang sejati-sejatinya.

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia,
Kita tetap sedia,
Mempertahankan Indonesia
Membela Negara Indonesia
Memajukan Indonesia Raya

Merdeka !

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,
Om shanti shanti shanti om.
Namo Buddhaya.

Reporter Magang: Michelle Kurniawan [gil]